BERADA di Jalan Kolonel Masturi, Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat; Dusun Bambu menyajikan panorama menarik dengan udara sejuk khas pegunungan. Sejumlah ornamen dan bangunan yang dibuat dari bilah-bilah bambu, memperkaya pemandangan di lahan seluas 15 hektar. Di sana, pengunjung diajak untuk menikmati aneka wahana wisata dengan konsep edukasi, etnologi, etika, estetika, dan entertainment, berbasis bambu.

Destinasi wisata ini mulai beroperasi sejak tahun 2013. Dusun Bambu berdiri, didasari oleh kegelisahan pada rerimbunan bambu yang kurang diperhatikan petani setelah dipanen. Hingga pada 2008, Wawan Hendrawan Margadipraja dan beberapa pihak lainnya bergerak untuk mengembalikan kelestarian lahan dengan melakukan konservasi. Proses penghujauan itu dilakukan dengan menanam 100.000 bibit pohon bambu.

“Setelah konservasi berjalan, vegetasi berangsur pulih dan hewan liar seperti burung elang dan monyet mulai mendekat,” kata pria yang akrab disapa Abah Wawan, pengelola Dusun Bambu, Sabtu 2 November 2019, di acara Study Banding PT. Gudang Garam Tbk, bersama rekan media di Bandung.

Dia menambahkan, upaya pelestarian di area yang terletak di ketinggain 1.500 mdpl, juga dilakukan dengan membuat danau buatan. Pohon bambu dari berbagai spesies tumbuh subur mengitari telaga berukuran sekitar separuh lapangan sepak bola. Kini, setidaknya terdapat 55 jenis bambu, namun hanya 30 spesies yang berkembang secara maksimal.

Di pinggir danau, terdapat sejumlah bangunan berupa bungalow. Itu merupakan salah satu spot yang menarik perhatian pengunjung. Selain danau, di Dusun Bambu juga terdapat cafe yang menyediakan berbagai macam kuliner, penginapan, camping ground, serta area bermain seperti Balad Lodaya, Kampung Ulin, Rabbit Wonderland, Insta Forest, dan Rongga Budaya.

Pertunjukan seni musik tradisional di Dusun Bambu. (Foto: Fatikhin)

Untuk memasuki area Dusun Bambu pengunjung dipatok tarif 30 ribu. Setiap hari, lokasi wisata tersebut dikunjungi ribuan wisatawan, baik dari wilayah Bandung maupun dari berbagai daerah di Indonesia. “Pada tahun pertama dibuka, pengunjung banyak didominasi turis mancanegara,” ujar Abah Wawan.

Beberapa di antaranya juga datang dari sekolah internasional di Bandung dan Jakarta. Rata-rata mereka ingin mengetahui lebih dalam soal alat musik yang dibuat dari ruas-ruas bambu. Paket edukasi membuat instrumen musik seperti karinding, suling, dan angklung, dilakukan dengan melewati banyak tahapan. Mulai dari memotong, mengukur presisi, hingga memberi nada pentatonis dan diatonis.

Pria yang juga menjabat sebagai ketua bidang musik di Yayasan Bambu Indonesia menjelaskan, bambu memang tumbuhan multifungsi. Selain bisa digunakan sebagai alat musik, ruas-ruas bambu dapat dimanfaatkan mulai dari urusan kuliner, konstruksi bangunan, aksesoris, alat dapur, dan berbagai keperluan lainnya. Rumpun bambu dapat berguna untuk menjaga kelangsungan ekosistem. Sebab, sistem akar bambu sangat rapat dan menyebar ke segala arah, sehingga mampu menahan erosi tanah.

“Menanam seribu bambu, sama halnya menanam seribu kebaikan,” kata Abah Wawan.

Abah Wawan, salah seorang pengelola Dusun Bambu. (Foto: Fatikhin)

Konsep pendayagunaan bambu menjadi ekowisata dan konservasi alam, seperti yang dilakukan oleh Abah Wawan lewat Dusun Bambunya, dapat diterapkan di semua wilayah di Indonesia. Mengingat, tidak ada tanah di Indonesia yang tidak ditumbuhi tanaman berjenis giant grass atau rumput raksasa ini.

Di Kediri, Jawa Timur, melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), PT Gudang Garam Tbk melakukan penanaman pohon bambu di lereng Gunung Wilis. Bambu jenis Petung atau Dendrocalamus Asper dipilih, karena ukuran lingkar batangnya mencapai 20 cm dengan konstruksi dinding tebal serta kokoh. Selain itu, Bambu Petung juga bisa tumbuh hingga ketinggian di atas 20 meter.

 “Konservasi itu dilakukan dalam dua tahap, pada 13 Februari 2016 dan 9 Februari 2017,” ujar Iwhan Tri Cahyono, Kepala Bidang Humas PT. Gudang Garam Tbk.

Pada tahap pertama, penanaman digelar dengan bekerjasama dengan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kediri, KPH Nganjuk, dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Total 15.600 bibit bambu di lahan seluas 100 hektar di Desa Tarokan, Kabupaten Kediri. Tanaman bambu itu tersebar di wilayah KPH Kediri yang meliputi BKPH Kediri (3.640 pohon),  BKPH Pace (3.640 pohon), dan BKPH Pare (3.640 pohon). Sedangkan sisanya ditanam di BKPH Berbek Nganjuk (4.680 pohon).

Sedangkan tahap kedua, 79.498 bibit bambu ditanam di lahan seluas 500 hektar di Dusun Klepu, Desa Parang, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri. Penanaman ini dilakukan bersama Perum Perhutani KPH Kediri dan LMDH. Tanaman bambu ini tersebar di kawasan BPKH Kediri (43.766 pohon), BKPH Pace (30.887 pohon), dan BKPH Pare (4.845 pohon).

Selain pelestarian lingkungan, program tersebut berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif kerajinan bambu masyarakat lereng Gunung Wilis. Sebab, selain bercocok tanam sebagian masyarakat di lereng Gunung Wilis bekerja sebagai pengrajin bambu. Mereka tersebar di Kecamatan Mojo, Tarokan, dan Banyakan, dengan jumlah perajin sebanyak 31 orang. Terdiri atas Desa Sukoanyar, Kecamatan Mojo (5 perajin), Desa Ngadi, Kecamatan Mojo (3 perajin), Desa Blimbing, Kecamatan Tarokan (18 perajin), dan Desa Mayaran, Kecamatan Banyakan (5 perajin).  

“Dengan memanfaatkan tanaman bambu yang ada, masyarakat diberi keterampilan memproduksi kerajinan bambu hingga berdaya jual tinggi,” kata Iwhan.  

Dia melanjutkan, melihat potensi alam dan melimpahnya bambu di Kediri, tidak menutup kemungkinan konsep ekowisata seperti di Dusun Bambu bisa dikembangkan pula di kawasan lereng Gunung Wilis dan Gunung Kelud. Jika terealisasi, kehadiran wisata berbasis bambu semakin memperkaya opsi kunjungan tempat rekreasi di Kediri. (Kholisul Fatikhin)

29 Shares

Komentar Anda