ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sebagai pandemi, dan Indonesia merupakan salah satu negara yang terpapar dengan jumlah kasus dan korban jiwa terus bertambah. Di tengah situasi krisis ini, media sangat dibutuhkan untuk memberikan informasi yang akurat dan mendidik ke publik, selain juga melakukan tugas sebagai watchdog untuk mengawal penanggulangan krisis dengan baik.

Namun di sisi lain, pekerja media, khususnya yang bertugas di lapangan, termasuk yang sangat rentan terpapar penyakit yang dipicu infeksi virus corona baru (SARS-CoV-2) ini dan bisa menjadi penular ke orang lain, termasuk kepada keluarga. Karena itu, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kediri dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kediri sepakat mewajibkan kepada seluruh anggotanya, agar berhati-hati dan membekali diri dari risiko tinggi tertular virus corona saat melaksanakan peliputan.

“Tak ada berita seharga nyawa,” kata Mega Wulandari, Ketua PWI Kediri.

Maka, menurut Mega, standar keamanan dan keselamatan pekerja media jadi hal yang paling utama untuk dipatuhi sebelum melakukan peliputan isu corona. Seperti siap sedia alat-alat kesehatan, menjaga kebersihan, selalu cuci tangan, memakai pelindung wajah (masker), menghindari kemungkinan kontak fisik dengan orang lain. Para pewarta diimbau pula menghindari mengunjungi pasar yang menjual daging atau ikan segar atau peternakan yang terkena dampak. Jika wartawan sedang liputan di fasilitas kesehatan, pasar, peternakan, agar tidak menempatkan peralatannya di lantai. 

Baca juga:
Koran Memo dan Radar Kediri Tetap Terbit di Tengah Serangan Corona
Radio Andika Terpaksa Menolak Iklan Restoran Demi Lawan Corona
Dhoho TV Membatalkan Semua Acara yang Melibatkan Massa

Sejalan dengan itu, Aguk Fauzul Hakim, Ketua AJI Kediri menyampaikan, dalam ancaman pandemik corona ini, sudah seharusnya perusahaan media membuat panduan keselamatan untuk jurnalisnya yang sedang meliput di tempat-tempat yang berisiko terinfeksi virus tersebut. Sebagaimana yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyebutkan para pemberi kerja harus memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja para jurnalis.

“Perusahaan media juga perlu memperhatikan hak-hak pekerja dalam kondisi darurat, semisal, lockdown atau isolasi, baik untuk jurnalis yang berstatus sebagai koresponden, kontributor, maupun karyawan,” kata Aguk.

Aguk juga menyampaikan, sebagai organisasi profesi yang bertanggung jawab terhadap kebebasan infomasi dan keselematan jurnalis, AJI telah menyusun Protokol Keamanan Liputan dan Pemberitaan Covid-19, bagi pekerja media di Indonesia agar bisa bekerja dengan aman serta selamat di tengah pandemi virus corona. Aturan resmi itu bisa diakses semua jurnalis Indonesia di laman aji.or.id.

Hingga hari ini, 25 Maret 2020, pandemik yang disinyalir berasal dari kelelawar ini telah menginfeksi lebih dari 424 ribu orang di seluruh benua dunia minus Antartika. Memakan korban 18.900 orang meninggal dunia, sedangkan 109.179 pasien dinyatakan sembuh. Penyakit Covid-19 pun telah menjangkiti sedikitnya 790 penduduk di 22 propinsi di Indonesia. 31 orang dinyatakan sembuh, 58 pasien meninggal dunia, dan jumlah kasus ini diperkirakan akan terus bertambah. (Naim Ali)

26 Shares

Komentar Anda