DENGAN posisi duduk bersila, tangannya nampak lincah menggosokkan kertas amplas ke patung kayu. Sesekali, Yusuf Sujoko membetulkan posisi masker pelindung hidung dari debu serbuk kayu. Sejak tahun 2006, dia menggantungkan hidup sebagai pengrajin patung kayu bertema rohani, seperti patung Yesus dan Bunda Maria. Tiap menjelang hari raya Natal, permintaan pelanggan selalu ramai berdatangan.

Yusuf mengerjakan berbagai kerajinan patung di rumahnya yang terletak di dalam komplek wisata rohani Gereja Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Semua tahap pengerjaan mulai dari memotong, mengukir, membentuk detail wajah, hingga proses finishing, dilakukan secara manual dengan tangan atau handmade.

“Proses pembuatan patung ini saya pelajari secara otodidak,” kata Yusuf, Selasa, 24 Desember 2019.

Sambil mengerjakan patung di kediamannya, dia bercerita awal mula terjun ke dunia seni pahat. Awalnya, lelaki alumni SMP Katolik Mardi Wiyata Kediri tahun 1991 ini ialah pembuat kerajinan hiasan dinding berupa lukisan Yesus di atas media bambu. Siapa sangka, salah seorang wisatawan Geraja Puhsarang tertarik dengan karyanya.

“Orang itu kemudian meminta saya untuk membuat patung dan saya menyanggupinya,” katanya. 

Yusuf, pengrajin patung kayu Yesus (Foto: Naim)

Di awal produksi, bapak satu anak itu tidak mengetahui secara detail terkait penentuan presisi, skala, dan berbagai unsur lainnya. Seiring waktu, lewat beberapa kali percobaan dia akhirnya mendapat pola patung yang ideal.

Proses pembuatan patung menghabiskan waktu yang beragam, tergantung ukuran. Namun rata-rata, satu patung berukuran 60 Centimeter digarap sekitar satu bulan. Soal harga, juga dikenakan ongkos yang berbeda-beda, tergantung jenis kayu, ukuran, dan tingkat kesulitan. Kisarannya di angka 1,5 hingga 7 Juta Rupiah.

Costumer kebanyakan datang dari luar wilayah Kediri. Mayoritas dari daerah di Jawa Timur seperti Surabaya, Malang, Blitar, Tulungagung, dan Banyuwangi. Ada pula dari Jakarta, Semarang, hingga luar Pulau Jawa seperti Banjarmasin. Mereka memesan karya Yusuf untuk dijadikan ornamen di gereja. Namun lebih banyak untuk urusan pribadi, entah sebagai hiasan rumah atau sebagai bingkisan kado untuk keluarga.

Sejauh ini, pola pemasaran yang dilakukan Yusuf sama sekali tidak mengandalkan media sosial atau via online. Selama tiga belas tahun, karya-karya Yusuf berkembang dan dikenal dari mulut ke mulut, atau istilahnya getok tular.

Pahatan kayu “Perjamuan Terakhir” karya Yusuf (Foto: Naim)

Untuk menjaga kualitas garapan, pengerjaan pesanan patung tidak dilakukan secara bersamaan. Jika satu patung belum selesai, dia tidak akan mengerjakan pesanan lainnya. Yusuf belum berani merekrut orang untuk membantunya mengerjakan pesanan. Dia mengaku khawatir jika ada yang membantu maka bentuk dari karyanya akan berbeda. 

Bila ada orang yang membantu, hanya pada proses finishing seperti menghaluskan saja. Tahap itu biasanya dilakukan oleh istrinya, Miyati. 

“Saya membantu menggosok dan jika ada pesanan masuk saya membantu untuk berkomunikasi dengan pemesan,” kata Miyati.

Selama menjalankan bisnis ini, Yusuf juga menerima permintaan patung dalam bentuk apapun. Cukup memberikan contoh yang diinginkan, dia akan mempelajarinya dan segera dikerjakan. Sebagaimana request dari orang Surabaya yang menginginkan patung Bunda Maria versi negara Jepang.

“Ada pula pemesan yang meminta membuatkan relief dari lukisan Perjamuan Terakhir (The Last Supper). Itu saya kerjakan hampir dua bulan,” ujar Yusuf. (Kholisul Fatikhin)

YUSUF SUJOKO
Tlp: 0857 3365 1988

39 Shares

Komentar Anda