Setiap tanggal 21 April, perjuangan Raden Ajeng Kartini diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia. Demikian pula di Kediri, Jawa Timur. Berbagai lembaga dan komunitas menggelar perayaan untuk mengapresiasi hal-hal revolusioner yang telah ditorehkan oleh RA Kartini. Salah satunya di Sekolah Alam Ramadhani yang terletak di Jl. Supiturang Utara 13, Mojoroto, Kota Kediri.

Para  guru di sekolah alam ini, mengajak muridnya untuk menapak tilas sejarah. Sabtu, 21 April 2018, siswa-siswi yang duduk di bangku Playgroup dan TK itu diwajibkan mengenakan busana tradisional. Bagi murid laki-laki memakai pakaian adat Jawa dan blangkon, sementara murid perempuan memakai kebaya.

“Belajar memaknai sejarah dan perjuangan para pahlawan harus dilakukan sejak dini,” kata Ulya Ali, Kepala Sekolah Alam Ramadhani.

Perayaan Hari Kartini ini dimulai dengan berkeliling lingkungan sekitar. Berjarak kurang lebih 300 meter, para murid berjalan memutar sambil menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini dan lagu-lagu tradisional. Tak hanya itu, para guru mengajak mereka memainkan permainan tradisional seperti Cublak-cublak Suweng.

Saat siswa-siswi tersebut sedang asyik dengan lagu dan permainan tradisional, para orangtua murid mengikuti seminar tentang parenting di Aula sekolah. Seminar  tersebut bertujuan untuk memberi bekal wawasan pada orang tua ketika mendidik anaknya.

“Kodrat anak itu ya bermain,” kata Sunarno, Dosen Psikologi di IAIN Kediri yang didapuk menjadi pemateri pada seminar dengan tema “Lingkungan Anak Yang Menyehatkan Mental”.

Menurut Sunarno, bagi anak-anak bermain adalah kebutuhan, sebagaimana kebutuhan makan dan minum. Ketika kebutuhan bermain anak tidak tercukupi, dari segi mental anak menjadi sakit, kemudian stress dan cenderung murung.

“Melarang anak bermain merupakan tindakan salah besar,” ujarnya kepada para wali murid.

Murid-murid memakai pakaian tradisional. (Foto: Vita)

Hal tersebut, sejalan dengan rumusan dari World Federation for Mental Health (Federasi Kesehatan Mental Dunia). Bermain dapat mengoptimalisasi perkembangan anak, baik secara fisik, intelektual dan emosional. Ada dua hal yang bisa menunjang tumbuh kembang anak. Pertama yaitu lingkungan keluarga yang menyehatkan. Dan yang kedua, lingkungan sekolah yang mensejahterakan.

Penelitian UNICEF menyebutkan,anak-anak di  Belanda merupakan yang paling bahagia. Hal-hal yang mendasarinya, terdiri dari lima poin dalam pola asuh.  Di antaranya, tenang ketika timbul masalah; membebaskan anak utamanya dalam hal berpakaian; makan bersama satu keluarga agar terjadinya interaksi sosial dalam satu keluarga; pergi naik sepeda atau berjalan kaki, dan menciptakan komunitas parenting, sehingga ketika para orang tua berada dalam kesibukan di kantor, mereka dengan mudah mendelegasikan pengasuhan kepada komunitas.

“Wawasan tentang pola asuh sangatlah penting, hal ini juga untuk meneruskan perjuangan RA Kartini, dimana salah satu fokus pemikirannya adalah pendidikan di keluarga,” kata Sunarno.

Usai seminar, para wali murid diajak bermain game. Murid-murid berdiri berjejer, kemudian wali murid harus mencari anaknya dengan mata tertutup, sekaligus memakaikan mereka baju. Melihat orangtuanya kebingungan  anak-anak pun tak sabar menanti giliran bermain. Permainan bertambah seru dan tawa seketika pecah, saat ada wali murid yang keliru ketika memilih anaknya.

“Di perayaan Hari Kartini ini, kami mencoba menguatkan kedekatan orangtua dengan anak lewat permainan sederhana,” kata Ulya.

Netizen: Nurvita Sari

Editor: Fatikhin

Bagikan
  • 12
    Shares

Komentar Anda