SELAIN kitab suci Alquran, hadis, ijma, dan qiyas, para santri di pondok pesantren salaf (tradisional) menggunakan kitab kuning sebagai pedoman belajar. Di lembar-lembar kitab berwarna kuning tua termaktub beragam wawasan keislaman. Kitab-kitab itu memuat berbagai pengetahuan seperti sejarah, tasawuf, tata bahasa, tafsir, dan fikih.

Hampir di seluruh ponpes salaf di Indonesia, kitab kuning dipakai sebagai bahan ajar santri. Namun, Pondok Pesantren Hidayatut Thullab di Dusun Petuk, Desa Puhrubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur ini memiliki kajian lebih mendalam, bahkan melengkapi kebutuhan pengkajian kitab tersebut. Tak hanya menggunakan kitab kuning untuk mengaji, tempat yang populer disebut Pondok Petuk setiap tahun menerbitkan kitab kuning. Karya-karya tersebut merupakan hasil karangan Pengasuh Pondok Petuk, KH Ahmad Yasin Asymuni. Secara konsisten, Kiai Yasin, begitu dia akrab disapa, menulis enam judul kitab setiap tahun.

“Sejak tahun 1993, saya sudah menulis 227 kitab kuning,” kata Kiai Yasin, Rabu, 8 Mei 2019 kepada Kediripedia.com di kediamannya.

Para santri mengenal jenis kitab yang dikarang oleh Kiai Yasin dengan istilah nukilan. Itu semacam buku yang ditulis dengan mengambil referensi atau penggalan dari teks alquran, hadis, maupun kitab karya ulama lain. Tema-tema yang diangkat mencakup aspek-aspek dalam Islam secara spesifik. Misalnya seputar pernikahan, ketakwaan, dan berbagai praktek ibadah dalam ajaran Islam.

Kiai Yasin menulis kitab nukilan sejak masih nyantri di Pondok Lirboyo. Dia mulai mengarang kitab nukilan pertamanya berjudul Risalatul Jamaah pada tahun 1989 dan mendapat banyak apresiasi. Karena sangat populer di kalangan santri Ponpes Lirboyo saat itu, Risalatul Jamaah dicetak hingga puluhan ribu eksemplar. Sampai sekarang karya yang dibuat tiga puluh tahun yang lalu, masih ramai pesanan.

“Saya tidak menyangka kitab saya begitu viral,” ujar Kiai Yasin.

Produktif melahirkan karya, bagi ulama yang kini menjadi Wakil Rois Syuriah PWNU Jawa Timur ini, menulis adalah satu dari tiga cara dalam menyampaikan dakwah. Dua sisanya adalah metode lisan lewat forum pengajian dan melalui perilaku sehari-hari.

Toko kitab makna pesantren, Pondok Petuk Kediri. (Foto: Naim)

Kegigihan Kiai Yasin dengan karyanya, menarik perhatian ratusan santri dari luar Kediri untuk datang ke Pondok Petuk. Salah seorang di antaranya adalah Muhammad Ghufron Musthofa. Pada 2011, dari Lampung dia berangkat ke Kediri. Ghufron mengetahui keberadaan Ponpes Petuk dari halaman sampul depan kitab Kiai Yasin. Di situ tertulis alamat pondok menggunakan aksara pegon. Itu adalah abjad Arab yang sudah dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa. Pegon juga populer dikenal dengan huruf Arab gundul.

“Keluarga mendukung saya mondok di sini karena hampir semua pondok di Lampung ngaji memakai kitab Kiai Yasin,” kata santri yang kini mengurusi proses pendirian gedung baru di Pondok Petuk itu.   

Menariknya, peminat buku karangan Kiai Yasin tidak hanya datang dari para santri, tapi juga dari kalangan akademisi. Antara lain mahasiswa dari berbagai kampus seperti Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, UIN Yogyakarta, UIN Malang, dan UIN Surabaya. Bahkan mahasiswa  perguruan tinggi dari kampus Malaysia.

Mereka menyambangi Pondok Petuk untuk berdiskusi seputar ilmu tafsir Alquran dan hadis dengan Kiai Yasin. Kebanyakan dari mereka memanfaatkan karya-karya salah seorang pengurus Badan Halal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu sebagai bahan referensi untuk menyusun tugas akhir semester, skripsi, thesis, dan disertasi.

“Setahun lalu, salah seorang teman dari Malaysia memberi kabar, bahwa salah satu kitab yang saya tulis dipamerkan di bazar kitab kuning di Maroko,” kata Kiai Yasin.

Koperasi Hidayatut Thullab, Pondok Petuk Kediri. (Foto: Naim Ali)

Di samping menghasilkan karya tulis, Kiai Yasin berupaya memperkaya khasanah pengetahuan dengan menerjemahkan kitab-kitab yang jarang dibaca oleh pondok pesantren pada umumnya. Di antaranya, tulisan dari Syech Abdul Qodir Jaelani berjudul Al-ghunyah dan kitab Iqozhul Himam karya Imam Ghazali.

Seluruh kitab yang diterjemahkan, tercantum tempelan makna (catatan kaki) huruf pegon. Sejauh ini, sudah 148 judul kitab yang sudah tergarap. Antara lain yang populer yaitu Al-Ajurumiyah, Arba’in Nawawi, Fathul Mu’in, dan Ta’limul Muta’alim. Selain itu ada pula kitab karangan Imam Ghazali, Syekh Sonhaji, KH Hasyim Asyari, KH Ma’shum Aly, dan ulama-ulama lainnya.

Semua kitab tersebut ditaruh di rak-rak Koperasi Hidayatut Thullab. Letaknya berada di sebelah selatan pondok, di dekat gerbang masuk. Sebelum berfungsi sebagai koperasi, tempat tersebut pernah digunakan sebagai kamar santri.

Di lokasi itu juga, Kiai Yasin merintis berdirinya Ponpes Petuk. Prosesnya, bermula dari pengajian di bulan ramadan atau disebut pengajian kilatan pada 1989. Kala itu, semakin hari pesertanya bertambah, bahkan santri dari luar Kediri berdatangan.

“Maka, untuk mengakomodir para santri, empat tahun kemudian tepatnya pada 1993, Ponpes Petuk resmi didirikan,” kenang Kiai Yasin.

Kini bilik berukuran 3×4 meter itu berisi tumpukan-tumpukan kitab. Tertata rapi, ruangan tempat display terbagi menjadi dua bagian. Di ruangan sebelah barat, digunakan sebagai tempat khusus menyimpan ratusan karya Kiai Yasin. Sementara, ruangan di sampingnya berfungsi untuk menaruh kitab-kitab makna pegon.

“Rata-rata, ratusan ribu kitab terjual setiap tahunnya,” kata Muhammad Anas, pengelola Koperasi Hidayatut Thullab, di kantornya.

Dalam menjalankan proses distribusi kitab, sehari-hari Anas dibantu oleh empat rekannya sesama santri. Siang itu, santri asal Bantul tersebut sedang sibuk melayani pesanan via online dari luar daerah. Kebanyakan, pemesan datang dari pondok pesantren di Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, dan ada pula yang dari Kalimantan.

“Banyak juga para pemesan yang menunggu karya terbaru dari Kiai Yasin,” sambung santri yang sejak tahun 2010 mondok di Petuk itu.

Bilik santri yang kini berfungsi sebagai ruangan display kitab kuning. (Foto: Fatikhin)

Pesanan melonjak tajam saat bulan ramadan tiba. Sudah jadi pemandangan lazim jika ruangan koperasi tak sanggup menampung ribuan kitab pesanan. Dengan terpaksa, Anas meletakkan tumpukan kitab yang berderet-deret itu di teras dan sisanya di halaman depan. Dia menutupnya dengan kain terpal, agar terlindung dari guyuran hujan.

Selain via online, banyak pula pembeli yang memilih langsung berkunjung ke koperasi. Salah seorang di antaranya adalah Latip Sulaiman.  Dia sedang mencari kitab berjudul Adabul Ilmi, karangan KH Hasyim Asyari. “Saya sudah keliling Kediri tidak ketemu, ternyata hanya di sini kitab itu tersedia,” kata mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri.

Kitab Adabul Ilmi, merupakan satu dari sekian banyak kitab langka yang diterjemahkan oleh Kiai Yasin. Dalam prakteknya dia dibantu oleh santri dengan predikat senior atau yang dianggap sudah kompeten. Santri bertugas memberi makna huruf pegon pada teks kitab. Kemudian, Kiai Yasin akan menyempurnakan hasil terjemahan tersebut.

“Kita harus berterimakasih pada ulama yang menemukan metode aksara pegon,” ujar Kiai Yasin.

Menurutnya, ulama Indonesia dikenal tangguh karena menguasai sistem makna pegon. Dia menggarisbawahi, gramatika pada teks-teks kitab kuning hanya dapat diterjemahkan secara sempurna jika menggunakan aksara pegon. Salah satu keistimewaaannya, terdapat beberapa tools kata, misalkan utawi dan olehe yang tidak bisa dialihbahasakan, sekalipun dalam bahasa Indonesia.

Saat ini, Kiai Yasin dan santri Ponpes Petuk sedang dalam proses mengerjakan terjemah kitab karangan ulama ternama. Antara lain, tulisan dari Syech Abdul Qodir Jaelani berjudul Al-Ghunyah dan kitab Iqozhul Himam karya Imam Ghazali. Hadirnya dua kitab terjemahan tersebut, akan membuat wawasan keislaman di Indonesia semakin kaya. Dan apa yang dilakukan oleh Ponpes Petuk Semen Kediri, menjadikan khasanah literasi pondok pesantren terus lestari. (Kholisul Fatikhin)

2K Shares

Komentar Anda