GUNUNG Kelud terakhir kali meletus pada tahun 2014. Kejadian itu masih segar di ingatan masyarakat Kediri, terutama bagi mereka yang bermukim di lembah dan lereng gunung  purba itu. Enam tahun berlalu, hingga kini status Kelud tergolong aktif dan kemungkinan untuk kembali terjadi erupsi sangat besar.

“Hal yang paling penting adalah masyarakat menyadari bahwa mereka saat ini tinggal di wilayah rawan bencana,” kata Catur Sudharmanto atau yang akrab disapa Mbah Darmo, Koordinator Jangkar Kelud, Kamis, 13 Februari 2020, pada acara Refleksi 6 Tahun Erupsi Gunung Kelud, di Balai Desa Kebunrejo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri.

Kegiatan yang diselenggarakan Jangkar Kelud dengan tema “Meneguhkan rasa persaudaraan dalam gerakan pengurangan resiko bencana” ini memberikan wawasan edukatif kepada masyarakat guna mempersempit dampak bencana. Sebab, letusan Kelud berpotensi akan terjadi lagi, meskipun belum diketahui kapan datangnya.

Berdiri sejak tahun 2008, Jangkar Kelud bergerak untuk melakukan kegiatan pengurangan risiko berbasis masyarakat. Sebab, masyarakat sebagai penerima dampak langsung, atau yang paling potensial menjadi korban saat Kelud mengalami erupsi.

Acara Refleksi 6 Tahun Erupsi Gunung Kelud. (Foto:Ihsan)

“Untuk mendeteksi gejolak alam Gunung Kelud, kita bisa memanfaatkan aplikasi digital yang dapat didownload di Play Store, seperti Inarisk Personal dan Magma Indonesia,” ujar Eko Teguh Paripurno, salah seorang pembicara di forum tersebut.

Pakar mitigasi bencana dari Universitas Pembangungan Nasional Veteran itu menjelaskan beberapa langkah sederhana untuk pencegahan bencana. Dalam diskusi itu, Eko menganjurkan para peserta untuk segera mengunduh kedua aplikasi tersebut, agar dampak terjadinya bencana bisa diperkecil. Selain itu, dia menambahkan bahwa masyarakat harus mulai menyiapkan rencana siaga keselamatan keluarga. Misalnya, dalam bentuk paling standar adalah keselamatan dokumen-dokumen penting.

“Masyarakat harus menyimpan nomor kontak lembaga-lembaga yang berhubungan mengevakuasi korban, polisi, maupun pemadam kebakaran,” kata Eko.

Refleksi enam tahun erupsi Kelud dihadiri berbagai elemen masyarakat. (Foto: Ihsan)

Refleksi 6 tahun erupsi gunung kelud ini dihadiri puluhan masyarakat, seluruh Kepala Desa di Kecamatan Kepung, Musyawarah Pimpinan Kecamatan (MUSPIKA) Kecamatan Kepung, dan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tiga kabupaten yaitu Kediri, Blitar dan Malang. Hadir pula sejumlah mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri dan pegiat komunitas misalnya Karang Tanggal, GBM pall, dan Gusdurian.

Menurut Sunarno, Dosen Psikologi Sosial IAIN Kediri, Gunung Kelud mengajarkan kepada masyarakat tentang makna Low Profile atau rendah hati, bagi masyarakat Jawa istilahnya Lembah Manah. Secara fisik, Kelud kalah tinggi dengan Gunung Bromo, Merapi, dan Semeru, tetapi enam tahun lalu Kelud menunjukkan kekuatannya yaitu melalui dampak erupsi yang nyaris ke semua Pulau Jawa. Dari sisi akademis, psikologi harus terlibat dalam tiga tahapan yaitu pencegahan, saat bencana, dan pasca bencana. Sehingga mampu menciptakan desa tangguh bencana, keluarga tangguh bencana, bahkan individu-individu tangguh bencana.

Acara refleksi yang berlangsung sekitar dua jam ini ditutup dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh Fuad Muhamad, mahasiswa IAIN Kediri. Kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama nasi pecel tumpang pincuk, sebagai wujud syukur kebersamaan dan kekeluargaan. (Rizqi Nur Ihsan)

0 Shares

Komentar Anda