SEBAGAI wadah yang bernaung di bawah organisasi Nahdlatul Ulama (NU), Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi), mempunyai concern mendasar terhadap seni dan budaya. Latar belakang berdirinya, tak lepas dari perkembangan kebudayaan di Indonesia, serta dinamika Islam di Nusantara.

Menurut KH Agus Sunyoto, ketua Lesbumi PBNU, gerak dari organisasi yang didirikan pada tahun 1954 bukan semata-mata dipandang sebagai entitas yang mengurus dan merepresentasi kesenian bernuansa islami saja. Lebih jauh, hadirnya Lesbumi juga berperan dalam merumuskan strategi dan visi kebudayaan. Hal itu dilakukan supaya akar tradisi dan budaya, baik dalam tubuh NU sendiri maupun perannya dalam ikut membangun peradaban Nusantara semakin kuat.

“Tradisi intelektual khas pondok pesantren menjadi landasannya, dengan menjunjung tinggi independensi, prinsip juang, keilmuan, keislaman, dan kebangsaan,” ungkap Kiai Agus, Rabu 3 Juli 2019, pada Rakornas 3 Lesbumi di Taman Candra Wilwatikta Pasuruan, Jawa Timur.

Dalam kegiatan yang berlangsung pada tanggal 3-5 Juli 2019, dihadiri oleh seluruh pengurus Lesbumi dari tingkat Provinsi, Kota, dan Kabupaten dari seluruh Indonesia. Selain itu, di acara yang bertajuk “Meneguhkan Islam Nusantara di Era Milenial” terdapat berbagai rentetan agenda yang menyemarakkan kegiatan Rakornas. Di antaranya, pameran lukisan karya seniman Lesbumi, pameran keris, pameran topeng, dan pertunjukan dari para seniman Lesbumi se-Indonesia.

Rakornas 3 Lesbumi di Pasuruan, Jawa Timur. (Foto: Hasan Lesbumi)

Pada Rakornas Lesbumi kedua tahun 2016 di Jakarta, Lesbumi memunculkan konsep dan strategi kebudayaan yang diberi nama Saptawikrama atau Tujuh Strategi Kebudayaan. Hadirnya gagasan tersebut, diharapkan menjadi rujukan, baik latar pemikiran maupun sebagai pertimbangan sikap NU terkait adanya isu-isu kebudayaan.

“Peneguhan konsep Islam Nusantara saat ini mendapatkan tantangan kuat di tengah gelombang puritanisme, politisasi Islam Trans-Nasional, dan Sekularisme-Neoliberalisme,” kata penulis buku Atlas Wali Songo itu.

Konsep Saptawikrama tersebut pada gilirannya harus mampu diterjemahkan dalam ranah praksis dari gerakan Lesbumi NU di semua tingkatan di seluruh Indonesia. Serta, terkoneksi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan seluruh kebijakan Nahdlatul Ulama menyangkut tema-tema kebudayaan. Hal itu menjadi penting, agar nilai-nilai yang mendasari tradisi Nahdlatul Ulama, misalnya warisan sejarah dakwah Islam masa awal Nusantara tidak mengalami erosi dan pendangkalan di tengah situasi yang sangat kompleks dan asimetris. (Kholisul Fatikhin)

214 Shares

Komentar Anda