AKTIVITAS masyarakat di Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri dan Kasembon, Kabupaten Malang tak bisa lepas berdirinya jembatan yang satu ini. Hal tersebut dapat dilihat dari tingginya intensitas warga yang melintas setiap hari. Ratusan warga dengan berbagai urusan seperti  perdagangan, pendidikan, dan pertanian, bertumpu pada titian berkonstruksi baja bercat merah itu.

Berdirinya akses transportasi tersebut menghubungkan secara langsung dua wilayah yang terbelah oleh aliran Sungai Konto. Tepatnya, Kepung, Kabupaten Kediri dan Kasembon, Kabupaten Malang. Dari ratusan kendaraan yang melewati jembatan ini, didominasi oleh mobil pick up yang mengangkut hasil bumi dan material. Sementara sisanya adalah pengguna sepeda dan motor roda dua.

“Jembatan itu terlihat ramai mulai dari jam 3 pagi hingga 12 malam,” kata Slamet, warga Desa Bayem Kasembon Malang, Selasa 29 Januari 2019.

Selain digunakan sebagai lintasan pengangkut hasil cocok tanam, jembatan tersebut mengakomodir berbagai keperluan lainnya. Mulai dari ke sekolah, berbelanja, maupun jalur alternatif menuju Malang, begitu pula sebaliknya. Jembatan dengan panjang 48 meter dan lebar 3,6 meter ini juga bisa dijadikan opsi memangkas jarak ketika terjadi kemacetan di perempatan pasar Kandangan.

Menurut kakek enam puluh tahun ini, sebagian besar penduduk Kasembon lebih memilih Kediri sebagai destinasi urusan jual-beli, bekerja, juga menyekolahkan anak. Karena lokasinya relatif lebih dekat jika dibandingkan dengan pusat Kabupaten Malang. Maka, tidak dipungkiri bila lalu lintas penyambung antar dua daerah ini jarang sepi.

Slamet, salah seorang warga Desa Bayem Kasembon Malang. (Foto: GG)

Sebelum berbahan baja seperti sekarang, dulu jembatan dibuat dari bambu dan kayu. Warga mulai tergerak untuk membangun jembatan penghubung dari kayu pada awal 1980. Saat itu masyarakat dibantu oleh para mahasiswa yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Brawijaya Malang.

Sayangnya, belum genap setahun berdiri, jembatan roboh akibat derasnya arus Sungai Konto. Setelah peristiwa itu, terhitung setidaknya delapan kali membangun kembali titian dari bambu. Namun hasilnya sama, semuanya ambruk.

“Dari kejadian itu warga sempat menyerah dan enggan memperbaikinya lagi,” ujar kakek tiga cucu itu.

Jembatan bambu yang dibuat secara swadaya oleh warga sekitar, digantikan dengan jembatan berkonstruksi baja setelah letusan Gunung Kelud tahun 2014. Pembangunan infrastruktur itu masuk dalam salah satu rangkaian program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Gudang Garam Tbk. (GG). Dibangun menghabiskan waktu selama lima bulan, jembatan diresmikan pada tahun 2016.

”Pembangunan infrastruktur itu adalah salah satu rangkaian kegiatan ‘Peduli Kelud’ yang digalakan Gudang Garam untuk korban terdampak erupsi Gunung Kelud tahun 2014 lalu,” kata Slamet Budiono, Wakil Direktur SDM GG.

Kini, setelah jembatan beroperasi kurang lebih selama 2 tahun, warga populer mengenal fasilitas itu dengan sebutan Jembatan Merah atau Jembatan Gudang Garam. Nama itu merujuk kepada warna jembatan yang dicat merah dan bertuliskan “GG”. (Kholisul Fatikhin)

Bagikan
  • 192
    Shares

Komentar Anda