PROSES audisi dalam tahap pembuatan film profesional, tak ubahnya seperti melamar kerja. Para calon aktor atau aktris yang ingin mengikuti casting, seperserpun tidak dipungut biaya. Hal itu disampaikan Sanca Khatulistiwa, Casting Director dari Association Casting of Indonesia (ACI), pada Rabu, 7 Agustus 2019, dalam acara Sosialisasi Casting dan Acting Dunia Perfilman di Kedai Expo, di Jalan Penanggungan, Kota Kediri.

“Apapun bentuk audisinya, entah casting atau pencarian bakat itu gratis. Justru peserta audisi bakal dapat bayaran bila berhasil terpilih dan dapat peran,” kata Sanca.

Casting director di balik fim “Warkop DKI Reborn” dan biopik “Susi Susanti” yang akan tayang pada bulan September mendatang ini, mengaku tergerak melakukan sosialisasi di Kediri. Terlebih setelah mendengar peristiwa penipuan dengan kedok casting sinetron fiktif berjudul “Sajadah Cinta”. Kasus itu merugikan dua puluh lima orang warga Kediri, dengan total materi mencapai kisaran 280 Juta Rupiah.

Berawal dari kedatangan seorang pria asal Bekasi yang mengaku sebagai sutradara, mengadakan casting untuk proyek sinetron di salah satu stasiun televisi swasta. Belakangan diketahui, kegiatan produksi film TV tersebut hanya palsu belaka.

Dia menyasar target talenta-talenta daerah dari berbagai kelas model yang tersebar di wilayah Kediri. Kepada para korban, pengarah film gadungan tersebut meminta sejumlah uang untuk macam-macam alasan. Seperti biaya pendaftaran, syuting, hingga promosi.

Bunda Susi berbagi cerita di acara Sosialisasi Casting dan Acting Dunia Perfilman. (Foto: Naim)

“Seumur-umur mengelola kelas model, baru kali ini saya kena tipu,” kata Susny Purwanti, pengelola Tessa Modelling. Bunda Susi, begitu ia akrab disapa, mengaku terpukul saat menyadari bahwa murid-murid binaannya menjadi korban penipuan.

Tessa Modelling adalah satu dari sekian kelas model di Kediri yang berhasil mengantarkan anak didiknya mendulang prestasi, salah satunya di event Panji Galuh Kota Kediri. Selama dua puluh tahun berdiri, sekolah model yang terletak di bilangan Katang ini, beberapa kali melibatkan peragawan dan peragawatinya dalam produksi sinetron. Antara lain, “Tukang Bubur Naik Haji”, “Jodoh Wasiat Bapak”, dan “Ganteng-ganteng Srigala”.

Bunda Susi mengatakan, pengalaman buruk yang menimpa kelas model serta siswa-siswinya seakan jadi cambuk sekaligus pelajaran berharga, agar kelak tidak terulang kembali. Ibu dua anak yang pernah berprofesi jadi guru TK dan SD ini menyempatkan waktu ikut hadir di acara Sosialisasi Casting dan Acting Dunia Perfilman, untuk mendukung moril para korban.

Dalam sosialisasi yang berlangsung dari sore hingga malam itu, Sanca menegaskan kepada pengunjung, agar tidak mudah terpancing iming-iming casting. Pria yang aktif bekerja di balik layar sejak tahun 2006 itu mengimbau agar lebih bijak memilih agen casting dan rumah produksi. Disarankan juga, aktif mengikuti info terbaru dari akun resmi media sosialnya.

“Pastinya, agen atau lembaga film profesional tidak pernah menjanjikan apapun pada pengikut audisi, termasuk mengorbitkan jadi artis,” kata casting director film “Teman Tapi Menikah” itu.

Untuk kelancaran akses serta mendukung talenta lokal, ACI bekerjasama dengan Pusat Pengembangan Film, berencana ekspansi ke daerah-daerah dengan menggelar lokakarya film dan seni peran. Sedang dipersiapkan pula, aplikasi casting benama Lakon, untuk memudahkan masyarakat luas yang tertarik ikut audisi.

“Aplikasinya masih dalam bentuk beta, tapi sudah bisa diakses dan dimanfaatkan siapa saja,” katanya. (Naim Ali)

80 Shares

Komentar Anda