BEBERAPA tahun terakhir, monumen Simpang Lima Gumul (SLG) di Kabupaten Kediri menjadi medan magnet warga dan para pelintas. Ribuan potret orang-orang yang mendokumentasikan dirinya dengan bangunan mirip Arc de Triomphe di Paris, Prancis, itu tersebar di belantara maya. Berlokasi di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, SLG menjadi circle pemecah jalur menuju luar kota.

Sejak dibangun pada 2003 lalu diresmikan 2008, kawasan Gumul lebih terasa sebagai shelter perjumpaan masyarakat, utamanya para muda. Banyak pedagang kuliner, kantor, taman, dan lahan parkir juga dibangun di sekitarnya. Di sisi monumen yang mengusung aliran arsitektur kubisme, terpahat relief-relief yang menggambarkan tentang sejarah, kesenian, dan kebudayaan Kediri.

Namun, sejak Presiden mengumandangkan situasi darurat akibat meluasnya Covid-19 di seluruh dunia, Gumul pun sunyi. Perintah menjalani social/physical distancing, dipatuhi. Tak lagi ada warga hang out atau menyalakan mata kamera. Kendaraan yang melintas di bundaran SLG tidak seramai hari-hari biasanya. Aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) terlihat bersiaga di parkiran, pusat kuliner Pasar Tugu, taman hijau, dan taman bundar yang mengelilingi SLG. Petugas siap menghalau jika ada orang mendekat.

“Kebijakan menutup sementara SLG sudah tepat, supaya tidak berisiko pada penularan virus corona,” kata Wahyu Setiobudi, warga Desa Gurah, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jumat 27 Maret 2020.

Pria yang akrab disapa Budi Pethak itu menambahkan, merebaknya virus corona juga berimbas pada penghasilannya sebagai seniman tato. Namun, pendapatan yang berkurang dari bisnis yang sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun itu bukan menjadi masalah. Dia rela menutup sementara usaha demi melakukan social/physical distancing, agar penyebaran virus covid-19 tidak semakin meluas.

Pethak mengelola bisnis bernama Clinyk Tattoo Studio yang berlokasi di Desa Gurah Kabupaten Kediri dan di dekat Kediri Mall, Kota Kediri. Meski masih banyak permintaan, dia tidak memaksakan diri untuk melayani konsumen. Baginya, memperkuat kewaspadaan lebih penting.   

“Corona dapat menular lewat sentuhan, jadi saya tidak ingin mengambil risiko. Kondisi mereka positif atau negatif, tidak diketahui secara pasti,” ujar Pethak.  

Kendaraan yang melintas di bundaran Simpang Lima Gumul tak seramai hari-hari biasanya. (Foto: Naim)

Dia berharap, warga Kabupaten Kediri tetap waspada dan menjauhi kerumunan agar penularan corona dapat dihentikan. Dengan begitu, aktivitas masyarakat segera pulih dan titik-titik keramaian di Kediri termasuk Simpang Lima Gumul kembali menjadi destinasi wisata.

Selain sebagai spot favorit berfoto, SLG menjadi salah satu sentra ekonomi dan perdagangan di Kabupaten Kediri. Di salah satu sudut monumen terdapat sebuah arca Ganesha; dewa yang menurut kepercayaan Hindu sebagai Dewa Kebijaksanaan, Pelindung, dan Penolak Bala. Di malam hari, pedagang kuliner beraneka ragam berjejer di area Pasar Tugu. Kawasan terbuka di sekitar SLG juga dimanfaatkan warga untuk menggelar kegiatan seperti event, pertunjukan, dan konser musik.

“Semoga kondisi ini segera membaik dan kita dapat mengadakan konser lagi di sana,” ujar Eka Kristanto, Bassist Dupa Band.

Hingga hari Jumat, 22 Maret 2020, angka statistik Corona Kabupaten Kediri menurut situs http://covid19.kedirikab.go.id/ menunjukkan jumlah Orang Dalam Risiko (ODR) sebanyak 1140 orang: proses pemantauan 920 orang dan selesai pemantauan 220 orang. Sedangkan Orang Dalam Pemantauan (ODP) sejumlah 62 orang, terdiri dari 59 orang proses pemantauan dan 3 dinyatakan sehat. Sementara Pasien Dalam Pengawasan (PDP) berjumlah 4 orang, dengan rincian 2 orang positif corona (1 dirawat dan 1 meniggal), serta 2 orang lainnya dinyatakan pulang dan sehat. (Kholisul Fatikhin)

859 Shares

Komentar Anda