JIKA biasanya bambu digunakan untuk membuat pagar, kandang hewan, bahan konstruksi bangunan, tusuk sate, dan perlengkapan memasak; salah seorang warga di Kota Kediri memanfaatkan bilah-bilah bambu untuk dijadikan alat musik. Bukan angklung, seruling, atau pun sasando. Di tangan Kusnan Sweting Janji, tanaman berjenis rumput-rumputan disulap menjadi instrumen berdawai yaitu gitar.

Memproduksi gitar secara mandiri telah dijalani Kusnan sejak tahun 1977. Namun, pengerjaan alat musik dari ruas-ruas bambu, baru digarap sekitar empat tahun belakangan. Sebelum muncul ide gitar bambu, pria lima puluh tujuh tahun ini membuat gitar dari bahan kayu lapis atau tripleks.

Sebelum berkiprah sebagai produsen gitar, saat remaja Kusnan berhasrat menjadi seorang musisi. Para tahun 1980an, bersama teman sekampung, Kusnan membentuk grup musik bergenre country balada yang diberi nama Belmakx. Grup tersebut sering membawakan lagu-lagu karangan musisi di era 1970-1980an seperti Harry Roesli, Franky Sahilatua, dan Leo Kristi.

“Belmakx itu artinya Belakang Makam,” jelas Kusnan sambil terkekeh, Selasa  4 Desember 2018. Rumahnya, memang terletak  di sebuah pemukiman tepat di belakang Makam Pahlawan, Kelurahan Banjaran, Kota Kediri, Jawa Timur.

Bersama Belmakx dia kerap tampil dari Desa ke Desa, serta mengikuti beberapa festival musik country di Surabaya. Namun, saat itu dia mengaku kesulitan mengembangkan minatnya, sebab tidak tersedianya alat musik. Membeli gitar pun tidak sanggup, sehingga terpaksa meminjam.

Bosan pinjam kesana kemari; berbekal pengetahuan seadanya, dia membuat gitar secara otodidak. Proses trial and error, sempat dialaminya. Setelah satu-dua kali percobaan gagal, komposisi ideal rancangan gitar berhasil dia temukan.

“Suatu ketika ada teman yang memainkan gitar bikinan saya, katanya suaranya bagus. Tapi dia tidak percaya kalau itu saya buat sendiri,” kenangnya. Dari peristiwa itulah, langkah menjadi seorang produsen gitar dimulai. Seiring waktu, dari mulut ke mulut, dari interaksi sesama musisi, Kusnan makin dikenal.

Meski sudah jarang tampil dari panggung ke panggung, dia enggan meninggalkan dunia musik. Kreativitas digelontorkan sepenuhnya untuk memproduksi gitar bermerk Belmakx. Nama yang sama seperti grup musiknya dahulu.

Di ruang tamu, berjejer gitar-gitar yang dibuat dari bambu. (Foto: Fatikhin)

Bambu dipilih sebagai bahan dasar membuat gitar karena jumlahnya melimpah dan harganya cenderung murah. Ide membuat gitar dari bambu, sempat diragukan oleh para tetangga, kawan, dan keluarga. Mereka menganggap bahwa gagasan tersebut mustahil dilakukan. Namun, Kusnan bersikeras walaupun eksperimen pertamanya gagal. Varian bambu apus yang dianggap sesuai, ternyata tidak membuahkan hasil maksimal. Bunyi gitar tidak bisa nyaring.

“Lantas saya menggantinya dengan bambu jenis ori dan petung,” kata Kusnan sambil memeluk gitar buatannya.

Untuk bagian body atau tabung, Kusnan menggunakan bambu jenis petung. Sementara stang gitar, dibuat dari bambu ori. Bahan-bahan tersebut diambil dari kebun milik saudara di daerah Wates, Kabupaten Kediri. Percobaan memakai kedua jenis bambu tersebut, rupanya berhasil. Menurut Kusnan, gitar dari bambu terdengar lebih nyaring dibandingkan dari bahan kayu.

Proses pengerjaan mulai dari memilih bambu kualitas terbaik, pemotongan, perakitan body dan stang gitar, hingga proses finishing; dipusatkan di halaman samping rumahnya. Sementara ruang tamu, difungsikan sebagai tempat display.

Selain gitar akustik, bapak sepuluh anak ini menerima jasa pembuatan gitar elektrik. Rata-rata, untuk penggarapan satu gitar, memakan waktu sekitar lima belas hari. Jika menginginkan jasa servis dan perawatan, juga diladeni. Satu gitar bambu dipatok tarif beragam. Mulai 500 ribu, hingga di angka satu juta Rupiah lebih. Jika ada penambahan spul atau equlizer, dikenakan biaya tambahan.

Peminat gitar buatan Kusnan, berasal dari berbagai daerah. Utamanya dari Kediri dan sekitarnya. Selain itu, ada juga pemesan dari Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. “Ini saya sedang mengerjakan pesanan dari orang Nusa Tenggara Timur,” jelasnya.

Saat ini, Kusnan tengah berusaha meningkatkan inovasi untuk terus membuat alat musik berbahan bambu. Dia mulai menggarap instrumen berdawai lainnya. Di antaranya, biola, cello, dan contra bass atau bass betot. Bukan tidak mungkin, di kemudian hari muncul piano, drum, dan saksofon berbahan bambu dari tangan kreatif Kusnan. (Kholisul Fatikhin)

Bagikan
  • 89
    Shares

Komentar Anda