DI depan kobaran api, Warno menari sambil mengucapkan kalimat epilog tentang pentingnya pemaafan dalam setiap gerak kehidupan. Berakhirnya scene yang memungkasi adegan demi adegan pada film “Air Mata di Ladang Tebu” itu disambut sorakan dan tepuk tangan ratusan penonton.  

Pada acara pemutaran perdana dan peluncuran film produksi Kediripedia.com berdurasi 44 menit itu, dihadiri berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari dosen, mahasiswa, guru, pelajar, pegiat komunitas, pegawai, dan kalangan lainnya, memadati Gedung Rektorat lantai 4 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri, Jumat 8 November 2019.

“Film ini mengandung aspek naturalitas yang kuat dari para aktor, perspektif lokalnya juga sesuai dengan budaya Kediri. Perspektif masyarakat kelas bawah jarang diangkat ke dalam sebuah film,” kata Ropingi, dosen Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) IAIN Kediri.

Ibarat perjamuan, film diputar layaknya makanan pembuka, acara dilanjutkan dengan bedah film yang menjadi menu utama. Pada kesempatan itu, Ropingi bertandem dengan Danu Sukendro selaku Jurnalis Indosiar. Keduanya didapuk sebagai pembicara untuk membedah film “Air Mata Di Ladang Tebu” bersama Rommy Fibri, Komisioner Lembaga Sensor Film (LSF). Namun, Rommy mendadak berhalangan hadir karena menghadiri kegiatan internal LSF.

Khaerul Umam salah seorang dosen Ushuludin IAIN Kediri ditunjuk sebagai moderator. Diskusi dimulai dengan paparan dari sutradara film, Dwidjo U. Maksum. Pria yang akrab disapa DUM memberi pengantar mengenai latar belakang ide dan proses pembuatan film.

Dari segi produksi, film ini memang sengaja dibuat berbeda dengan film pada umumnya. Dia mengatakan, film itu dibuat nyaris tanpa konflik, kecuali percakapan sengit di ladang tebu antara Warno dan Pardi. Begitupun para aktor, secara keseluruhan karakter mereka baik, tidak ada tokoh jahat.  

Ending film sengaja dibuat menggantung, agar penonton dapat bebas menafsirkan intisari dari pesan-pesan yang disampaikan,” ujar pria kelahiran Nganjuk itu.

Sedangkan dari segi senimatografi, Danu Sukendro menyoroti beberapa aspek teknis. Utamanya terkait penataan angle kamera yang kurang ideal. “Namun hal teknis itu boleh diabaikan, mengingat unsur naratif dalam film ini sangat kuat,” kata Danu Sukendro.

Usai bedah film, acara yang terselenggara berkat kerjasama Kediripedia dan Dewan Mahasiswa (DEMA) Program Studi Sosiologi Agama (SA) IAIN Kediri itu dilanjutkan dengan pemencetan tombol menandai resminya “Air Mata di Ladang Tebu” mengudara ke tengah publik. Sesi peluncuran itu dilakukan oleh Zaenal Arifin, Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin IAIN Kediri.

Dengan begitu, film fiksi sejarah itu dapat dinikmati khalayak luas lewat kanal Youtube Kediripedia. Setelahnya, beragam respon bermunculan. Baik itu berupa kritik maupun apresiasi dari masyarakat.

Film “Air Mata di Ladang Tebu” mengudara ke tengah publik di kanal Youtube Kediripedia. (Foto: M Yusuf Ashari)

Afnan Subagio misalnya, sosok Kaji Dullah yang diperankan Taufik Al Amin membuatnya tertegun. Awalnya, dia menduga Kaji Dullah adalah sosok antagonis karena pada adegan bertemu Kirman, Kaji Dullah tidak mau menyapa. “Di luar dugaan karakternya bijaksana, di sini saya sebagai penonton sempat tertipu,” kata jurnalis MNC TV itu.

Berbeda dengan Afnan, menurut Dewi Anggraeni, jurnalis senior feminis yang sekarang berdomisili di Sidney, Australia, cerita film ini seperti membuat penonton ingin kembali ke masa lalu, kemudian menjalaninya dengan baik. “Film ini memberi pencerahan yang lebih mendalam, sehingga lebih mengerti akan apa yang membuat seseorang melakukan sesuatu,” ujar Dewi.

Meski begitu, film “Air Mata di Ladang Tebu” juga dibanjiri kritikan. Baik dari sisi teknis produksi, hingga plot cerita. Salah satunya dari Wasis Sasmito. Usai menonton film ini dari awal hingga akhir, dia merasa para aktor masih terjebak dalam naskah dialog yang harus diucapkan.

“Beberapa dialog antar tokoh bahkan tidak didukung oleh gestur gerak tubuh,” ujar aktivis NGO yang saat ini bertugas di Timor Leste.

Sementara menurut Eko Wahyu Tawantoro, Wakil Pemimpin Redaksi Kompas TV, merasa proses rekonsiliasi di film yang mengambil setting tahun 1979 ini terlalu cepat terjadi. Seharusnya, proses rekonsiliasi diwarnai dengan sedikit konflik verbal melalui dialog para tokohnya.

“Dengan begitu, bisa jadi ketegangan akan semakin terasa dan lebih mengaduk perasaan,” kata Eko.

“Akan tetapi, secara keseluruhan film ini bagus dalam konteks mudah dicerna dengan plot yang tidak bertele-tele,” pungkas lelaki yang juga penyair itu. (M Yusuf Ashari)

43 Shares

Komentar Anda