DALAM merayakan Idul Fitri, warga di kawasan Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek memiliki tradisi berbeda dengan yang dilakukan mayoritas masyarakat di wilayah Indonesia. Puncak lebaran di daerah ujung timur Trenggalek tidak terjadi di hari pertama, melainkan hari kedelapan bulan Syawal pada penanggalan Hijriyah. Hari raya ini akrab disebut sebagai “Bada Kupat” atau “Kupatan”, yang berarti Lebaran Ketupat. Saat itulah para penduduk mulai membuka pintu dan menerima tamu.

Tak ayal, jalan-jalan perkampungan di Durenan tiap Bada Kupat selalu padat oleh warga, hilir-mudik hendak bersilaturahmi ke tetangga dan sanak saudara. Rata-rata, para tamu akan mendapat hidangan ketupat yang disaji dengan bermacam menu khas Trenggalek. Seperti bubuk abon kedelai, sayur lodeh nangka muda, ayam lodho, pindang kikil, berpadu dengan kripik tempe.

Uniknya, rumah-rumah warga Durenan tidak hanya terbuka untuk para famili. Siapa saja yang melintas dipersilakan turut bertamu menikmati santapan ketupat.

“Harapannya, agar keluarga kami mendapat imbalan berkah melimpah,” kata Suratin, warga Durenan, pada Rabu, 12 Juni 2019, di kediamannya. Ia menambahkan, budaya tersebut telah mengakar selama ratusan tahun dalam kehidupan masyarakat Durenan.

Tradisi tersebut bermula dari kebiasaan sesepuh Durenan, KH Abdul Masyir, pendiri Pondok Pesantren Babul Ulum pada tahun 1671. Kyai yang lebih dikenal dengan nama Mbah Mesir ini, rutin berpuasa sunah Syawal enam hari berturut-turut sejak hari kedua Idul Fitri. Sehingga, warga sekitar yang selalu mengawali silaturahmi dengan mengunjungi kiai, menjadi segan. Kemudian memilih waktu sowan bertepatan saat melaksanakan Kupatan.

“Istilah ‘Kupatan’ itu hari untuk merayakan puasa Syawal,” kata KH Fattah Muin, pengasuh Pondok Pesantren Babul Ulum.

Ia kemudian mengutip Hadits Nabi Muhammad yang berbunyi: Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti berpuasa setahun penuh. Amal ibadahnya pun juga bertambah sampai sepuluh kali lipat.

Generasi keempat dari keluarga Mbah Mesir tersebut melanjutkan, tradisi puasa Syawal dan Kupatan awalnya hanya dilakukan oleh lingkup kecil keluarga pondok. Berlangsung secara rutin sejak dua ratusan tahun lampau. Lambat laun diikuti oleh masyarakat desa Durenan, lalu merambat sampai desa-desa tetangga. Antara lain, Desa Ngadisuko, Pandean, Kedalrejo, Semarum, Pakis, dan Kamulan.

Kemeriahannya mulai terasa sejak malam menjelang Bada Kupat. Setelah sungkem pada pengasuh Pondok Pesantren Babul Ulum, ribuan warga bondong-bondong anjangsana ke tetangga dan kerabat dekat. Untuk menyemarakkan suasana, biasanya penduduk setempat selalu menerbangkan balon udara. Namun beberapa tahun terakhir telah diganti dengan menyalakan kembang api.

Keesokan paginya, mereka menggelar kirab tumpeng ketupat. Tahun ini, masyarakat mengarak tumpeng ketupat dari Pondok Pesantren Babul Ulum menuju lapangan Durenan. Aneka hiburan dan perlombaan bertema ketupat telah dipersiapkan menyambut kedatangan rombongan pawai. Turut hadir juga dalam barisan kirab, Mochammad Nur Arifin, Bupati Kabupaten Trenggalek.

Menurut KH Fattah Muin, kirab tumpeng ketupat yang baru digelar sejak empat tahun lalu itu hanya hiburan semata. Karena inti dari budaya Kupatan adalah silaturahmi. Terlihat dari ribuan tamu yang bertandang, dengan niatan ingin mengunjungi sanak famili atau sekadar merasakan olahan ketupat.

Hingga kini, tradisi Bada Kupat semakin meluas hingga kawasan luar Trenggalek. Seperti open house bermenu ketupat telah marak di beberapa wilayah di Kabupaten Tulungagung. Umumnya, digelar secara swadaya oleh lingkungan RT atau RW masing-masing.

“Tapi keramaiannya belum ada yang mengalahkan Kupatan di Durenan,” kata KH Fattah Muin. (Naim Ali)

36 Shares

Komentar Anda