SEJAK pertama kali munculnya Pneumonia Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19 di Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019, kini penyakit yang menyerang organ vital pernafasan manusia itu telah menular ke hampir seluruh penduduk bumi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), secara resmi menyatakan virus corona COVID-19 sebagai pandemik pada Rabu, 11 Maret 2020, dan telah menyebar di 150 negara. Menurut laman Worldometers yang diakses pada Selasa, 17 Maret 2020, pukul 16.30 WIB, mencatat sebanyak 183.737 orang di seluruh dunia terjangkit virus corona. Dari total jumlah kasus tersebut, 7.178 pasien dinyatakan meninggal dunia, sedangkan 79.911 kasus telah sembuh.

Adapun dalam data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menyebutkan, bahwa virus yang disinyalir berasal dari kelelawar ini telah menginfeksi 172 warga Indonesia; 5 meninggal dunia dan 9 orang dinyatakan sembuh. Untuk mencegah perjangkitan virus COVID-19 lebih meluas, Presiden Joko Widodo menginstruksikan kepada kepala daerah, baik Gubernur maupun Bupati/ Wali Kota melakukan sejumlah tindakan antisipatif.

Hal tersebut mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri, Jawa Timur, membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, pada Senin, 16 Maret 2020, di Balaikota Kediri. 

“Masyarakat Kota Kediri tidak perlu panik menyikapi pandemik COVID-19, Pemkot Kediri sudah mengambil langkah-langkah antisipatif yang mengikuti prosedur protokol nasional,” kata Abdullah Abu Bakar, Wali Kota Kediri.

Wali Kota yang akrab disapa Mas Abu itu menunjuk Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri, Fauzan Adima, sebagai pemimpin tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, dan berkantor di Command Center Balaikota Kediri. Tim gabungan tersebut akan terus membaharui informasi terkini terkait pandemik virus corona di laman corona.kedirikota.go.id. Warga Kota Kediri juga bisa mengakses layanan terpadu melalui sambungan telepon ke nomor 0354-2894000, atau 08113787119.

Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar (bajut putih), mengecek kesiapan pusat perbelanjaan di Kota Kediri. (Foto: Harmoni Kediri)

Kediripedia.com sempat mencoba menghubungi Call Center yang terbuka selama 24 jam penuh itu, untuk mendapat penjelasan tentang apa yang harus dilakukan dan ke mana jika ada warga merasa sakit. Seorang petugas dari Command Center bernama Ayu menerima panggilan kami. Sebelum menjawab lebih lanjut, Ayu meminta keterangan nama dan domisili penelepon.

Secara rinci, ia menjelaskan bahwa bila terdapat warga merasakan gejala klinis yang identik timbul akibat virus corona, seperti flu; demam, batuk, pilek, nyeri tenggorok, nyeri otot, sakit kepala, sesak nafas, hingga berkomplikasi berat seperti pneumonia atau sepsis, agar segera memeriksakan diri ke layanan kesehatan terdekat. Di antaranya, puskesmas atau rumah sakit.

“Bagi warga yang memeriksakan diri, mohon untuk mengikuti seluruh anjuran dokter atau petugas kesehatan,” kata Ayu. Bilamana ada warga atau seseorang yang kebetulan berada di Kediri dan sekitarnya dinyatakan positif terjangkit COVID-19, akan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pare, Kabupaten Kediri.

Di Kota Kediri, sejauh ini tercatat 41 orang sehat dalam risiko (ODR). Mereka ialah warga yang memiliki riwayat perjalanan dari negara atau wilayah terjangkit, dan tidak merasakan gejala sakit saat pulang. Dua belas dari jumlah total ODR itu masih dalam proses pemantauan, 29 orang di antaranya dinyatakan Sehat.

Sejak membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Pemkot Kediri memberlakukan kebijakan proses belajar di rumah bagi pelajar dan mahasiswa selama dua minggu. Kebijakan itu berlaku juga bagi tempat kursus dan bimbingan belajar. Pemerintah Kota Tahu itu mengimbau, untuk menunda segala kegiatan yang berkaitan dengan berkumpulnya masyarakat. Begitu pula dengan semua elemen keagamaan, sementara waktu disarankan beribadah di rumah masing-masing.

Mengingat dampak pandemik COVID-19 begitu luas, Mas Abu mengatakan, bahwa Pemkot Kediri berupaya menempuh tindakan-tindakan preventif, khususnya menjamin kegiatan ekonomi dan pelayanan publik dari kendala outbreak virus corona. Dia juga menyeru kepada masyarakat luas untuk bijak menyaring informasi. Lebih-lebih menyebarkan berita tentang COVID-19 yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Saya harap, gunakan satu informasi dari sumber resmi kami. Jangan membuat berita-berita spekulatif yang bisa memperkeruh situasi,” katanya. (Naim Ali)

68 Shares

Komentar Anda