PERSEBARAN penyakit Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Indonesia yang makin meluas, berdampak pada banyak sektor, termasuk penurunan pengguna transportasi publik. Sebagaimana jumlah penumpang bus Angkutan Kota dalam Propinsi (AKDP), yang berangkat dari terminal Kota Kediri pada Senin, 23 Maret 2020.

“Jumlah penumpang AKDP hari ini sebanyak 7.608 orang. Cenderung menurun bila dibandingkan dengan jumlah keberangkatan pada awal Maret yang mencapai 11.090 orang,” kata Bambang Suprianta, Koordinator Satuan Pelaksana (Korsatpel) Terminal A Tamanan, Kota Kediri, saat ditemui di kantornya.

Begitu pula dengan total kedatangan penumpang bus AKDP, tercatat di angka 6.470. Sebelum virus corona mendera, tiap hari, sedikitnya 9.000 pengguna transportasi massa jalur darat ini transit di terminal yang berlokasi di selatan Pondok Lirboyo itu. Menurut Bambang, penyusutan paling besar justru terjadi pada pemakai jasa Angkutan Kendaraan Antar Propinsi (AKAP). Pada awal Maret lalu, sebanyak 422 orang terekam berangkat dari Kota Kediri, dan 508 penumpang datang. Kini, sekitar tiga puluhan armada AKAP yang tersedia, hanya mengangkut 291 penumpang hendak berangkat, dan mengantar kedatangan 228 orang saja.

Bambang mengamini, bahwa lengangnya terminal bus Kota Kediri ini, bisa berarti mengurangi risiko penularan Covid-19 pada masyarakat luas. Virus yang menyerang organ vital pernafasan manusia itu, diketahui dapat masuk ke tubuh dari percikan batuk atau bersin seseorang yang terinfeksi, atau ketika menyentuh permukaan yang sama dengan mereka. Menjaga jarak fisik antar individu menjadi hal yang mutlak dilakukan semua insan agar virus corona tidak menyebar. Maka, potensi kendaraan umum terinfeksi virus corona makin tinggi bila dalam kondisi ramai. Lebih-lebih, jika kontak fisik antar manusia tidak memungkinkan dihindari saat terjadi lonjakan penumpang.

Fasilitas cuci tangan tersedia di enam titik sekitar Terminal A Tamanan, Kota Kediri (Foto: Naim)

Namun, kemerosotan pengguna transportasi publik ini turut mengurangi pendapatan para sopir, kondektur dan kernet. Mereka tidak punya pilihan selain tetap melanjutkan mencari nafkah di lingkup kerja yang rentan akan infeksi virus corona.

“Tentu, saya takut terkena (virus) corona, tapi lebih takut tidak bisa kasih makan keluarga,” kata Sunarko, sopir bus Bagong trayek Kediri-Malang.

Tiap hari, kurang lebih empat ratus bus menjemput dan menurunkan penumpang di Terminal A Tamanan, Kota Kediri. Sejak pandemik corona masuk kawasan Indonesia, kursi-kursi bus yang melintas jalanan Kediri tampak jarang sepenuhnya terisi. Rata-rata, masyarakat memilih berdiam diri di rumah, dan membatalkan rencana kegiatannya di luar kota.

Menyikapi peri hal Covid-19 yang terus mewabah, sementara masih terdapat sebagian warga yang terpaksa keluar rumah mencari nafkah, Dinas Perhubungan Kota Kediri menggiatkan sosialisasi kewasapadaan terhadap virus corona, melalui pengeras suara yang terpasang di titik-titik persimpangan jalan kota.

Salah seorang petugas parkir di Jalan Dhoho, Kota Kediri (Foto: Naim)

“Kami juga membagikan cairan hand sanitizer kepada petugas parkir di kawasan Kota Kediri. Meski jumlahnya terbatas, semoga bisa mengedukasi masyarakat akan pentingnya cuci tangan,” kata Ferry Djatmiko, Kepala Dinas Perhubungan Kota Kediri.

Pandemik yang disinyalir berasal dari kelelawar ini telah menginfeksi lebih dari 383 ribu orang di seluruh benua dunia minus Antartika. Memakan korban 16.500 orang meninggal dunia, sedangkan 102.500 pasien dinyatakan sembuh. Hingga hari ini, 24 Maret 2020, Covid-19 telah menjangkiti sedikitnya 686 penduduk di 22 propinsi di Indonesia. Tiga puluh orang dinyatakan sembuh, 55 pasien meninggal dunia. (Naim Ali)

14 Shares

Komentar Anda