Yang Tersembunyi dari Cikar Kediri

0

Sejarah alat transportasi berputar kencang seiring perkembangan teknologi dan ketergesaan umat manusia. Yang dianggap lambat, ditinggalkan pada ruang antah-berantah. Semua atas nama efektifitas. Namun hal-hal yang dianggap usang sungguh sayang kalau dibuang, seperti juga Cikar.

Cikar-Kediri-5Sebuah Cikar  berukuran besar tampil menyita perhatian di pintu masuk booth  B di Pekan Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kediri 2015 pada minggu kedua Agustus lalu. “Kalau ukurannya tidak besar bukan Cikar  namanya mas, diameter rodanya mencapai 180 cm, lebih tinggi dari ukuran rata-rata manusia Indonesia,” jelas Eko Priatno, Kasi Sejarah dan Purbakala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri .

Eko Priatno yang saat itu sedang menjaga stand Museum Corner, menjelaskan perbedaan nama gerobak kayu yang ditarik oleh sapi berdasar ukuran roda-nya. “Kalau gerobak dengan ukuran roda 150 cm disebut Othor, dengan diameter roda 100 cm disebut Unthol, dan yang paling kecil dengan diameter 50 cm disebut Gledhekan,” jelasnya.

Cikar-Kediri-3Cikar  yang dipajang di Museum Corner ini kebetulan sudah 30 tahun lebih tidak keluar dari gudangnya. “Untuk usia Cikar  belum diketahui secara pasti, berdasar umur yang mewarisi saat ini sudah 72 tahun bisa dibayangkan pasti lebih tua dari pemiliknya,” tambah Eko Priatno.

Cikar  tersebut milik Gunawan (72) seorang warga di Plemahan, Kabupaten Kediri. “Untuk mengangkut dari gudangnya saja harus diangkat 5 orang lebih, berat sekali karena rodanya terbuat dari besi,” terang Eko.

Cikar  milik Gunawan dahulu digunakan untuk alat mengangkut arang kayu  yang dikirim ke Surabaya. Butuh waktu tempuh selama lima hari dari Kediri ke Surabaya.

“Sapi penarik Cikar  ini benar-benar pilihan, harus memiliki unyeng-unyeng  (pusaran rambut – red) posisi ditengah kepala supaya tidak takut makhluk halus selama di perjalanan,” tambahnya. Sementara ukuran sapi juga diatas rata-rata sapi pada umumnya. “Alat kelamin sapi penarik Cikar  dikebiri, sehingga badannya bisa tumbuh besar,” jelas Eko Priatno.

Cikar-Kediri-2Pada masanya, setiap Cikar  memiliki plat nomor dan membayar pajak agar bisa menjadi angkutan umum jalan raya. Eko Priatno sempat menunjukkan plat nomor Cikar  meskipun sudah luntur dimakan usia. Cikar  sendiri selain ukuran rodanya lebih besar dari jenis gerobak kayu lainnya, juga memiliki ciri khas melebar pada posisi atas dan menyempit ke bawah.

Cikar  ini ditarik oleh dua ekor sapi, ini bisa diidentifikasi karena setu-nya cuma satu,” tambah Eko. Setu  yang dimaksud adalah kayu penarik gerobak yang menjadi tumpuan sapi.

Cikar  yang dipamerkan di Museum Corner rencananya akan dipajang sebagai salah satu koleksi Cagar Budaya Benda Bergerak jika Museum Kediri kelak benar-benar berdiri. Kabupaten Kediri sedang merencanakan pembangunan Museum Kediri dengan areal seluas 25 hektar di sekitar kompleks situs Pamuksan Sri Aji Jayabaya di Desa Menang. (Arief Priyono)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.