Wanita-wanita yang Hidup dari Cengkeh

0

TERIK matahari menyengat di atas kepala. Beberapa motor memasuki halaman gudang Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) Margomulyo, Sugihwaras, Ngancar, Kabupaten Kediri, Sabtu (03/10/2015) itu.

Sejumlah pria yang mengenakan tutup kepala dari kaos kumal ini menenteng karung berisi cengkeh. Usai ditimbang, bunga cengkeh yang masih menyatu dengan sisa tangkai dan daun itu dituang ke tengah sekumpulan wanita yang duduk melingkar dan lagi asyik ngerumpi.

Tak menunggu lama, wanita ini bekerja dengan cekatan. Tangan kanan mengambil satu per satu bunga cengkeh. Lalu, ditabrakkan pada telapak tangan kiri.

Crek… crek.. crek…” Begitu kira-kira suara yang muncul, silih berganti dari banyak aktifitas tangan itu. Dalam bahasa Jawa, aktifitas ini disebut mithil.

Tangkai terpisah dengan bunga. Bunga cengkeh terjatuh. Menumpuk, di depan kaki yang bersila. Sementara, tangkai dibuang ke belakang.

“Pluk..,” satu tangkai cengkeh mendarat di kaos depan saya yang tengah jongkok memotret aktifitas mereka.  “Ngapunten mas,” seorang ibu meminta maaf. Teman-temannya terkekeh.

Aktifitas ngobrol tetap berjalan. Meski lengan dan jemari wanita-wanita ini bergerak dengan cepat merontokkan cengkeh.

“Dapatnya nggak mesti. Kadang sehari bisa dapat 13 kilogram, kadang 15 kilogram. Kalau upah per kilogramnya Rp 1000,” kata Umi, salah seorang buruh mithil. Di sebelah Umi, Jea anak perempuannya yang masih 3 tahun duduk sembari memain-mainkan bunga cengkeh.

Aktifitas sehari-hari wanita pe-mithil cengkeh ini baru dimulai pukul 12.00 – 13.00. Mereka menanti para laki-laki yang memetik cengkeh di perkebunan tiba. Aktifitas ini berakhir pada sekitar pukul 16.00. Bunga cengkeh yang sudah dipilah ini langsung disimpan dan siap dijemur keesokan harinya.

Sementara di tepian penjemuran, seorang wanita renta sendirian mithil. “Sehari saya bisa dapat 15 kg lebih,” kata wanita bernama Mbah Muji yang sudah berusia 90 tahun ini, dalam bahasa Jawa.

Mbah Muji tinggal sebatangkara di perumahan karyawan PDP Margomulyo, pemukiman terakhir yang terdekat dengan puncak Kelud. Kedua putranya sudah berkeluarga di Tulungagung.

00873.MTS_000002920

Mbah Muji mengaku lebih dari 30 tahun menjadi buruh yang mengurusi tanaman cengkeh. Dari tugasnya mengurusi cengkeh ini, Mbah Muji mendapat upah Rp 20 ribu per hari. Itu belum termasuk upahnya mithil. Cukup untuk memenuhi hidupnya yang sebatangkara.

Ketika matahari mulai beranjak ke ufuk barat, Mbah Muji mulai mengambil alatnya, meminggirkan bunga cengkeh yang mengering. Tak terlihat kerentaan dalam gerak wanita tua ini. Semoga selalu dinaungi kesehatan Mbah. (Danu Sukendro)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.