Vespare Bersama Pak RT

1

Seperti biasa, pada hari libur kami bermain di sekitar tempat tinggal kami di Perumahan Griya Indah Permatasari, RT 24/ RW 04, Bandarkidul, Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Minggu (7/6/2015), kami: Bevan, Raffi, dan Zamzami, sedang bermain petak umpet ketika Pak RT kami melintas menaiki Vespa. Tanpa berpikir panjang, kami bertiga berlari mengejar Pak RT yang melaju pelan di tikungan. Entah kenapa, tiap kali melihat beliau naik Vespa kami selalu ingin ikut naik, kemanapun scooter Pak RT melaju. Mungkin karena perasaan seperti kami itulah orang Italia suka bilang, “Vespare,” yang atinya pergi ke suatu tempat naik Vespa.

Gayung pun bersambut. Pak RT berhenti dan mempersilahkan kami naik. Jok model panjang Vespa Excel 1990 langsung penuh sesak. Tak peduli berhimpitan, yang penting, “Yoo..maann..” Itu istilah yg kerap disebut para pecinta scooter. Kami bertiga tak ada yang pakai helm. Hanya Pak RT yang menggunakan pelindung kepala. Sebenarnya tidak boleh ya. Kalau ketahuan Pak Polisi, pasti ditilang. Tapi kalau kami pulang dulu mengambil helm, bisa-bisa Pak RT berubah pikiran dan tidak jadi mengajak kami jalan-jalan. Wah, bisa gagal acara vespare.

SInggah di Pondok Pesantren Lirboyo.

SInggah di Pondok Pesantren Lirboyo.

Keluar dari perumahan kami yang berlokasi di kawasan Jalan Penanggungan, Vespa berwarna kuning emas melaju ke arah selatan, melewati perempatan Kemuning, Lirboyo. Sepanjang perjalanan kami memborbardir Pak RT dengan sejuta pertanyaan tentang hal yang kami temui. Meskipun tidak jauh dari rumah, tapi rasanya rute yang kami lewati jadi seperti dunia lain.

Memasuki Gedung Olah Raga (GOR) Jayabaya yang berlokasi di kelurahan Bandarkidul dan Banjarmlati, kami masih mendapati banyak pedagang kaki lima memadati jalanan sekitar GOR. Tiap hari Minggu, kawasan itu menjadi tempat kunjungan warga Kediri. Selain berolahraga dan jalan-jalan, warga juga berbelanja barang kebutuhan sehari-hari. Beraneka ragam makanan khas Kediri juga bisa ditemui di pasar pagi itu. Pokoknya, yang suka kuliner, pasti senang hang out di pasar pagi GOR. Yang capek jalan, bisa lo naik dokar keliling GOR. Nggak usah jauh-jauh ke luar kota kalau mau merasakan asyiknya naik kendaraan yang dulu dinaiki para raja.

Puas muter-muter di GOR, kami keluar melalui pintu selatan dekat Rumah Sakit Islam yang kini terbengkelai, kosong. Zamzami sempat menutupi mukanya saat melihat rumah sakit yang tak terawat itu. “Banyak hantunya itu, hiiii,” kata Zamzami tanpa menoleh. Vespa pun terus melaju ke arah selatan.

Bevan yang duduk paling depan keheranan dengan banyaknya pedagang bakso di sepanjang jalur antara perempatan Kemuning hingga Mojo. Dia tidak menghitung persis. Tapi, “Kayaknya nggak sampai 100 meter selalu ada bakul bakso,” kata Bevan.

Beberapa saat kemudian, kami memasuki kawasan yang cukup ramai. Ternyata kami tiba di pusat Kecamatan Mojo. Berdekatan dengan pasar, di kiri kanan ada sejumlah kantor tingkat kecamatan dan sekolah. Selain toko-toko yang menjual berbagai kebutuhan, ada juga show room mobil dan sepeda motor.

 

Tiba-tiba Pak RT menghentikan Vespa yang kami naiki, di timur jalan. Setelah memarkir scooter di tempat yang aman dan teduh, kami diajak masuk ke sebuah rumah yang di sebelahnya ada tempat berjualan. Tidak ada tulisan apapun. Kami hanya tahu, ini warung. Karena kedai itu penuh sesak pembeli, kami masuk ke rumah yang berdampingan dengan warung. Rupanya di dalam rumah terdapat beberapa set meja kursi yang bisa dipakai pembeli menikmati hidangan.

Makan soto di warung Mbah Djito Tjokro, Mojo, Kabupaten Kediri.

Makan soto di warung Mbah Djito Tjokro, Mojo, Kabupaten Kediri.

Tak lama kemudian, seorang lelaki sepuh masuk membawa mangkok kecil seperti mangkok es dawet. “Oalah, soto to ini,” kata Rafi keheranan. Tak lama kemudian, seorang perempuan sepuh membawa empat gelas teh hangat. “Mboten wonten es lo mas di sini,” kata beliau sembari tersenyum.

Saat menikmati soto, mata kami terus berkeliling melihat langit-langit. Di atas kami bergelantungan banyak lampu kuno yang oleh sebagian besar orang Jawa disebut lampu robyong. Di dinding ruangan, terlihat banyak foto pemilik warung naik sepeda ontel dengan baju gaya kompeni. Ohh, rupanya beliau juga pecinta sepeda tua.

Setelah selesai makan, kami berpindah tempat ke warung dan berbincang dengan lelaki sepuh yang belakangan kami tahu namanya Djito Tjokro. Lelaki berumur 76 tahun itu meneruskan usaha ayahnya. “Bapak saya membuka warung soto ini sejak tahun 1938 dan saya teruskan sampai sekarang,” kata lelaki yang akrab disapa Mbah Tjokro. Semula, ayah Mbah Tjokro tinggal di Tulungagung. Sejak warung itu dibuka, mereka menjadi warga Mojo, Kediri sampai sekarang.

Rombong lengkap dengan pikulan yang digunakan berjualan sejak 77 tahun silam, kini ditempatkan permanen di dalam warung. Pikulan dari bahan bambu itu tampak tua, mengkilat kecoklatan.

Bu Tjokro yang turut mendapingi kami ngobrol, berseloroh, “Mbah Tjokro masih kuat lo naik sepeda ontel ke luar kota,” kata perempuan berumur 60 tahun ini. “Kalau ada acara sepeda di Surabaya, Madiun, Nganjuk, Tulungagung, Malang, dan kota lainnya, beliau pasti ikut.”

Kepada kami, Mbah Tjokro berpesan agar rajin belajar, rajin shalat, dan rajin membantu orangtua. “Jika umur kalian dijumlahkan, masih banyak umur saya, jadi boleh to saya menasehati kalian,” kata Mbah Tjokro sambil tertawa.

Usai membayar, kami berpamitan dan mencium tangan Mbah Tjokro. Meskipun sebentar bertemu, kami merasa mendapat banyak nasehat, juga belajar tentang ketekunan dan kebaikan. Ketika Vespa bergerak, Mbah Tjokro berdua melambaikan tangan dari dalam warung yang berdiri sejak sebelum Indonesia merdeka itu.

Matahari sudah berada di atas kepala. Kami ingin meneruskan perjalanan ke selatan, ke arah Kabupaten Tulungagung. Namun Pak RT mengajak kami pulang karena besok kami harus masuk sekolah.

Di perjalanan pulang kami masuk Desa Surat, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Di desa itu ada ibu-ibu yang sehari-hari bekerja di perumahan kami. Kami juga menyempatkan singgah di salah satu tambangan (perahu penyeberangan) di dekat Mondo. Perahu-perahu itu setiap hari menyeberangkan warga yang hendak pergi ke daerah di timur Sungai Brantas, seperti Ngadiluwih dan Kras. Di sepanjang jalan raya Kecamatan Mojo banyak titik tambangan yang menghubungkan kawasan barat dan timur Sungai Brantas karena belum ada jembatan.

Di tambangan yang menghubungkan dengan Desa Badal, Ngadiluwih, kami melihat rombongan pecinta trail adventure. Ketika kami memotret mereka, mereka menyambutnya dengan menaikkan roda depan sembari menggeber gas kencang-kencang. Wow, seru bro.

Dalam perjalanan pulang, kami juga mengambil rute kawasan perkebunan tebu di Tamanan dan rerimbunan pohon bambu di kawasan Pondok Pesantren Lirboyo. Tempat tinggal kami memang berdekatan dengan pondok pesantren yang dihuni puluhan ribu santri itu. Ketika Vespa kami lewat pintu gerbang pondok, kami semakin merasa, hari ini kami mendapat pelajaran berharga. Ternyata banyak hal di sekitar kita yang sangat menarik, asal kita mau mendekati dan menelitinya.

Teng teng teng.. Deru suara kenalpot Vespa Pak RT pun melambat dan berhenti di bawah pohon pete. Ternyata Pak RT sudah ditunggu warga yang hendak mengurus surat pengantar bikin KTP (Kartu Tanda Penduduk). Kami pun segera berpamitan dan mengacungkan jempol karena sudah diberi kesempatan ber-vespare. ”Yoo..maann..”

Netizer :

  • Bevan Pramudito, siswa kelas 4 SD Plus Rahmat, Kota Kediri.
  • Raffi Sanjaya, siswa kelas 5 SDS Pawyatan Daha, Kota Kediri.
  • Ali Mansyur Zamzami, siswa kelas 5 SDN Bandar Lor II, Kota Kediri.

Editor: DUM

Baca juga:

http://www.kediripedia.com/ngeeeriiiii-santri-lirboyo-main-sepakbola-api/

http://www.kediripedia.com/si-kecil-egi-dan-fotografi-capung/

http://www.kediripedia.com/tukang-ojek-naik-haji/

 

Bagikan

Komentar Anda

komentar

1 Comment

Leave A Reply