Tukang Ojek Naik Haji

0

Di bawah menara menjulang operator selular di sudut Stasiun Kota Kediri, percakapan selalu riuh setiap pagi. Celetukan para pedagang kaki lima bersahutan bersama lalu lalang para penumpang kereta api yang baru saja tiba di Kota Kediri. Ada yang mampir sekedar mencicipi secangkir kopi, ada yang berlalu begitu saja dengan tergesa. Sementara para abang becak tergopoh-gopoh menawarkan jasanya, bersaing dengan tukang ojek dan mobil carteran.

“Ayo, naik ojek ke Pare. Dapat makan,” seorang lelaki tua dengan rambut beruban nyeletuk di dalam kerumunan salah satu meja pedagang kaki lima. Jari-jarinya penuh dengan cincin batu akik. Secangkir kopi di depannya belum juga tandas, sementara saat ia asyik memijit-mijit sebatang kretek, seorang pemuda mengangsurkan korek api yang menyala. Lalu asap mengepul dari bibirnya.

TukangOjekNaikHaji-2Haryanto tahun ini telah berusia 67 tahun. Namun tubuh liatnya belum juga menyerah. Ia adalah salah satu dari puluhan orang yang setiap harinya mengadu nasib untuk mencari nafkah di Stasiun Kota Kediri. Ya, tentu saja sebagai tukang ojek.

“Saya tidak pernah ikut antrian, saya menunggu penumpang di sini saja, sambil ngopi,” katanya. Ia memang tidak pernah terlihat berkeliaran di halaman stasiun saat gerombolan penumpang turun dari kereta, namun lebih memilih duduk-duduk santai di dalam warung kopi langganannya.

Namun siapa sangka meski hanya berprofesi sebagai tukang ojek ia telah menunaikan ibadah haji pada tahun 2007 lalu. “Jika Allah sudah memanggil, tidak ada yang tak mungkin,” katanya. Ia mulai berkisah, semua berawal dari salah satu keahliannya; menjadi tukang pijat.

TukangOjekNaikHaji-3“Selain narik ojek di stasiun, malam hari saya juga berprofesi tukang pijat,” ia mulai menjelaskan. “Pada sekitar tahun 2006, saya memijat seorang mantan pejabat tinggi yang sakit parah, atas izin Allah beliau sembuh setelah saya pijat,” jelasnya. Sebagai ucapan terimakasih, mantan pejabat yang tak mau namanya diungkap ini membiayai total biaya keberangkatan Haryanto naik haji.

Selepas ibadah haji, ia memiliki nama lengkap H. Muhammad Nafi’ Haryanto. Ia tinggal dan berpraktek pijat di rumahnya di Jl Ade Irma Suryani Nomor 9B, masih disekitar lingkungan Stasiun Kota Kediri.

Namun, menyandang gelar haji tidak lantas membuatnya berleha-leha menikmati hari tua. Pengalaman hidupnya yang panjang telah mengajarkannya untuk bekerja keras. Mungkin karena sehari-hari berbusana baju koko, banyak pelanggan jasa ojeknya adalah para santri dari berbagai pesantren di Kota Kediri. “Dengan menjadi tukang ojek, mungkin ada manfaatnya bagi orang lain. Salah satunya mengantar para calon santri yang hendak mencari ilmu di pesantren,” katanya.

Untuk penumpang santri, ia tidak pernah mematok tarif. Tak jarang jika ia melihat santri tersebut dari kalangan tidak mampu, tak segan-segan ia menggratiskan jasa ojeknya. “Tuhan telah menggariskan rejeki bagi semua hamba-Nya. Semua sudah pasti, tak mungkin tertukar,” jelasnya menutup percakapan. (Arief Priyono)

Baca juga:

http://www.kediripedia.com/ngeeeriiiii-santri-lirboyo-main-sepakbola-api/

http://www.kediripedia.com/si-kecil-egi-dan-fotografi-capung/

http://www.kediripedia.com/vespare-bersama-pak-rt/

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Leave A Reply