Terowongan Kelud, Inspirasi Kolonial Meredam Dampak Letusan

0

TEROWONGAN Gunung Kelud merupakan penggalan masa lalu yang monumental. Fungsinya, lebih dari sekadar akses menuju ke sekitar kawah. Terowongan dibangun sejak awal abad 19 oleh kolonial Belanda agar dampak letusan Kelud tak menimbulkan banyak korban jiwa.

Meterial letusan Kelud 2014 menimbun infrastruktur wisata kelud. (foto: Danu Sukendro)

Lereng kelud dua pekan setelah letusan 2014. Jalan beraspal sepanjang 1 km, bangunan, warung dan terowongan tertimbun material letusan. (foto: Danu Sukendro)

Dan, material letusan Kelud 14 Februari 2014 menimbun terowongan. Begitu juga berbagai infrastruktur pariwisata; jalan beraspal, bangunan, hingga gardu pandang. Namun, terowongan justru menjadi titik perhatian. Sejak bulan September 2015, Departemen Pekerjaan Umum melakukan pengerukan material dari dalam terowongan Kelud.

Dengan alat berat, material letusan Kelud di dalam terowongan Ampera dikeruk. Akses terowongan mulai terbuka. Namun, pengerukan terus berlangsung. Utamanya, sudetan air di sekitar kawah yang membuang air berlebih ke sejumlah jalur lahar.

“Kalau informasi yang saya terima dari Pos Pantau Gunung Kelud, proyek pengerukan ini akan memakan waktu sekitar 3 tahun,” kata Eko Dheny, bagian pemasaran Dinas Pariwisata Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri.

Bagian dalam Terowongan Ampera setelah dikeruk. Terowongan ini sempat tertimbun letusan 2014. (foto: Eko Dheny untuk Kediripedia.com)

Bagian dalam Terowongan Ampera setelah dikeruk. Terowongan ini sempat tertimbun letusan 2014. (foto: Eko Dheny untuk Kediripedia.com)

Mengapa pengerukan terowongan-terowongan di sekitar Kawah begitu penting?

Sekilas, kita hanya tahu terowongan ini adalah akses masuk ke kawasan air kawah. Sejatinya, terowongan ini erat dengan normalisasi air kawah. Air kawah harus dikendalikan untuk meminimalisir dampak letusan Kelud.

Catatan sejarah menunjukkan, jika korban jiwa letusan Kelud berbanding lurus dengan volume air kawah. Semakin tinggi volume air danau kawah, kian berbahaya bagi warga yang tinggal di sekitar lereng Kelud dan aliran jalur lahar.

Letusan tahun 1919 menjadi contoh nyata. Ketika volume air danau kawah mencapai 40 juta m3, jarak luncur lahar panas mencapai 37,5 km yang mengakibatkan 5110 jiwa melayang.

Sebagai perbandingan letusan 1990 dengan Volume air danau kawah: 2,4 juta m3, jarak luncur lahar panas hanya 5 km. Korban jiwa 31 orang. Mereka bukan tertimpa material, namun hanya tertimpa reruntuhan bangunan yang ambruk.

Dampak letusan Kelud tahun 1919. Banjir lahar mengakibatkan jembatan patah. Pembangunan terowongan dibangun untuk mengendalikan air kawah. (foto: KITLV)

Dampak letusan Kelud tahun 1919. Banjir lahar mengakibatkan jembatan patah. Pembangunan terowongan dibangun untuk mengendalikan air kawah. (foto: KITLV)

Korban jiwa akibat letusan Kelud 1919. (foto: KITLV)

Korban jiwa akibat letusan Kelud 1919. (foto: KITLV)

Dampak mengerikan air kawah yang melimpah ini sejatinya sudah disadari orang-orang kuno. Prasasti Harinjing mencatat, pada 804 Masehi, warga telah membangun bendungan dan saluran yang mengalirkan air danau kawah Kelud di Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kediri.

Ide membangun terowongan untuk menormalisasi datang dari Pemerintah Belanda. Tujuh terowongan dibangun kolonial di sekitar danau kawah pada tahun 1907 dan 1923. Namun, terowongan itu rusak oleh letusan 1951.

Terowongan yang mulai dibangun oleh Kolonial Belanda pada awal abad 19. (foto: TropenMuseum)

Terowongan yang mulai dibangun oleh Kolonial Belanda pada awal abad 19. (foto: TropenMuseum)

Pembangunan terowongan ini dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1967. Terowongan Ampera berfungsi mempertahankan volume danau kawah pada kisaran 2,5 juta meter3. Sehingga, dampak luncuran lahar panas bisa diminimalisir.

Terowongan Ampera sebelum letusan 2014. (foto : Kru Radio Kelud FM)

Terowongan Ampera sebelum letusan 2014. (foto : Kru Radio Kelud FM)

(Danu Sukendro)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.