Tangan ‘Midas’ Seniman Cekakik

0

Sampah ampas kopi ‘disulap’ menjadi sebuah karya seni berkualitas tinggi.

Nur Habib menjelaskan tentang lukisan cekakik yang dipajang di galerinya.

Nur Habib (berkaos hijau) menjelaskan tentang lukisan cekakik yang dipajang di galerinya.

GALERI lukisan cekakik ini jauh dari keramaian. Letaknya, di Desa/Kecamatan Kepung, sekitar 30 km dari pusat Kota Kediri. Galeri ini mengoleksi 250 lukisan lukisan cekakik yang bahan utamanya ampas kopi. Karya pelukis anak-anak hingga maestro pelukis cekakik. “Yang dipajang hanya 40, karena keterbatasan tempat,” kata Anna Nurhamidah, pengelola  galeri.

Lokasinya yang jauh dari pusat kota tak mengurangi minat penikmat seni mengunjungi galeri yang dibangun tahun 2010 ini. Lukisan aliran natural hingga ekspresionis mengundang decak kagum. “Bagus-bagus, tidak mengira dari ampas kopi bisa menghasilkan lukisan bernilai seni tinggi,” ungkap Ade, salah seorang pengunjung dari Tinalan, Kota Kediri.

Lukisan cekakik tentang mantan Presiden RI Gus Dur. Hasil lukisan salah seorang siswa Habib.

Lukisan cekakik mantan Presiden RI Gus Dur karya salah seorang siswa Habib.

Galeri lukisan cekakik ini wujud dari mimpi panjang Nur Habib, seniman pelukis cekakik yang memprakarsai pendirian galeri lukisan cekakik di samping rumahnya. Habib mulai melukis cekakik tahun 1978. Dia terinspirasi oleh Kyai Mahmudin, guru spiritualnya yang hanya sekali mengajarinya menggambar dengan ampas kopi.

Secara otodidak, Habib mengembangkan bakatnya dan mulai memamerkan karyanya pada tahun 1990. Bak Raja Midas  dalam mitologi Yunani yang tiap sentuhannya bisa menjadi emas, kreatifitas Habib dapat menyulap sampah ampas kopi menjadi karya lukisan bernilai seni tinggi. Kini, lukisan Habib menghiasi dinding kolektor dari dalam negeri dan luar negeri dengan nilai mencapai puluhan juta rupiah.

Guru bahasa inggris sebuah SMP swasta di Kepung ini juga menularkan kemampuan menggambarnya pada anak-anak hingga orang dewasa. Karya-karya siswa Habib inilah yang menghiasi dinding galeri lukisan cekakik.

“Filosofinya adalah cekakik itu adalah sisa kopi yang dianggap sampah di tangan seorang seniman bisa menjadi lukisan bernilai tinggi,” ungkap Habib.

Salah seorang siswa Nur Habib belajar melukis cekakik tahap dasar.

Salah seorang siswa Nur Habib belajar melukis cekakik tahap dasar.

Agar menjadi bahan lukisan cekakik yang baik cukup tambahkan kopi dengan gula merah dan gula putih. Setelah diendapkan, ampas kopi siap dipakai. Nilai lukisan selanjutnya ditentukan oleh imajinasi sang seniman.

Lama melukis bervariasi. Habib dapat membuat lukisan dalam waktu singkat. Seperti lukisan letusan Gunung Kelud dan Lembu Suro ini yang diselesaikan sepuluh menit. Namun, Habib juga memiliki lukisan yang enam tahun belum juga tuntas. Dia belum memperoleh inspirasi untuk mengisi ruang kosong di atas kanvas lukisan yang berjudul ‘Tak Sendirian Ini’. (Danu Sukendro)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Leave A Reply