Tahoe Games, Menantang Dunia dengan Main-main

0

Pada dasarnya manusia adalah makhluk bermain. Seorang filsuf Belanda, Johan Huizinga menyebutnya sebagai homo ludens. Sebagai makhluk yang senang bermain, manusia membuat sebuah permainannya sedemikian rupa untuk mendapatkan kesenangan. Kecenderungan inilah yang ditangkap oleh developer games berbasis smartphone asal kediri Tahoe Games sebagai peluang usaha.

Tahoe Games yang sebelumnya bernama Unlimited Slash dibentuk oleh Robertus Rahardian Haris dan Utong Akbar pada akhir 2014. “Berawal dari hobi, masa kecil saya diisi dengan video games. Saat kuliah bisa utak-atik games akhirnya punya keinginan untuk bikin sendiri,” kata Haris, Rabu 7 Desember 2016.

“Banyak sekali tantangan untuk merintis sebuah tim kreatif game, salah satunya adalah mengumpulkan personil sesuai bidangnya. Karena banyak elemen di dalam game yang harus dipenuhi untuk merancang sistem permainan yang mudah dipahami dan mampu menjalin keterikatan emosi dengan pemain, ” ungkap pria lulusan Sekolah Tinggi Teknik Surabaya tersebut.

Lebih detail Haris menjelaskan, selain dirinya sebagai programmer yang bertugas merancang sistem dan logika dalam game, personil lain mempunyai peran yang penting untuk mengisi elemen dalam game baik yang kasat mata maupun tidak.

Gameplay atau alur permainan dalam game dibangun oleh game designer. Sementara artist, sebutan bagi personil bidang keahlian grafis, membuat visual dan mempermanis tampilannya. Suasana permainan pun perlu dibangun menggunakan olah suara oleh bagian sound dan musik. Sedangkan tim riset memperkaya cerita dengan mengolah fakta atau cerita yang berhubungan dengan tema permainan.

“Untuk membangun suasana game memang dibutuhkan kejelian dan hal-hal detail semacam efek getar dari ledakan atau efek silau ketika sebuah pedang dihunuskan oleh karakter, “ begitu penjelasan Budhi Luhur mengenai game feel.

Suasana sehari-hari di ruang kerja Tahoe Games (Foto : Studio Tahoe)

Suasana sehari-hari di ruang kerja Tahoe Games (Foto : Studio Tahoe)

Karena membuat sebuah games adalah pekerjaan yang membutuhkan banyak talent di dalamnya, penambahan personel pun dilakukan untuk melengkapi kebutuhan skill.

Pada akhir November 2015, Unlimited Slash berganti nama menjadi Tahoe Games. Kriswin Yuniar, Rizal Catur Pamungkas, dan Hermawan Andika bergabung ke dalam tim. Kemudian disusul oleh Budhi Luhur yang masuk pada awal tahun 2016.

Dengan personel yang utuh secara skill Tahoe Games mulai memperluas jaringan dan mencoba untuk memperkenalkan diri lewat event game nasional hingga internasional seperti InGame Award, Game Prime, PopCon Asia 2016, IMGA (International Mobile Game Award) South East Asia 2016.

Bomb Raider, salah satu game yang sedang dalam tahap pengerjaan mendapat respon positif di khayalak gamer dan publisher. Saat mengikuti event pertama InGame Awards di Yogyakarta, Bomb Raider berhasil memenangkan Best Gameplay dan menjadi nominasi Best Art. Game petualangan ini juga berhasil mendapatkan predikat Most Anticipated Games versi Game Prime 2016.

Studio developer game yang bermarkas di rumah Haris di daerah Dlopo ini sudah mulai dikenal oleh komunitas gamer di indonesia. Tahun ini Tahoe Games bersama 10 developer game lain dibiayai oleh Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF) untuk berangkat ke Jakarta dalam acara PopCon Asia 2016.

Cover sebuah games produksi Tahoe Games. (Grafis oleh Studio Tahoe)

Ging Hero’s Legacy yang menjadi nominasi game terbaik asia-tenggara di International Mobile Game Awards 2016(Grafis oleh Studio Tahoe)

Game yang dibuat oleh studio ini mempunyai ciri khas menggunakan tampilan games klasik. Jika Anda pernah memainkan Nintendo atau SEGA era 90-an seperti Super Mario Bros, Contra atau Sonic The Hedgehog, grafiknya tidak jauh dari permainan itu. Dimana tampilannya menggunakan pixel art.

Dalam membuat proyek gamenya, Tahoe membuat game untuk pesanan atau ditawarkan kepada publisher game dan juga membuat game untuk tujuan idealisme studio yang lebih memperhatikan konten lokal, riset yang lebih dalam atau hal lain sesuai keinginan para konseptor Tahoe Games.

Beberapa karya Tahoe Games diantaranya Pesawat 2020, VI Defender, Candy Pocket, Risky Trip, Ouch Finger, Blocky Kick telah dipublish oleh beberapa penyedia konten game seperti www.kiz10.com, Nedrago, dan Armor Games. Game-game tersebut lebih diarahkan sebagai sumber pendapatan Tahoe Games yang masih tergolong studio rintisan ini. Sedangkan Ging, Bomb Raider, dan Panji Kediri adalah proyek idealis tim kreatif Tahoe Games yang masih dalam tahap pengerjaan, yang nantinya akan dipublish dibawah brand Tahoe Games sendiri.

Kemunculan Tahoe Games di Kediri tidak hanya bertujuan untuk menghidupi secara finansial para pekerja kreatif di dalamnya. “Ada misi untuk mencari sosok kreatif lain yang mempunyai keinginan untuk berkecimpung di dunia developer game, “ ungkap Kriswin.

Bersama Kodeka (Komunitas Developer Kadiri) Tahoe Games rutin mengadakan pelatihan untuk umum dan pelajar. Terus berkembangnya industri games di tanah air merupakan indikator semakin bergairahnya iklim ekonomi kreatif yang patut diapresiasi oleh para penikmat games. (Nakula)

Cover sebuah games produksi Tahoe Games. (Grafis oleh Studio Tahoe)

Bomb Raider sukses menjadi pilihan juri sebagai Best Gameplay di ajang InGame Awards 2016, Jogjakarta. (Grafis oleh Studio Tahoe)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.