Serunya Belajar di Swalayan

0

MASIH pukul 07.00. Golden Swalayan sudah terlihat ramai. Adiba, Devina, Naura, Areta dan Shevil berlarian memasuki pintu masuk swalayan.“Lembar kerjanya sudah dibawa?” tanya seorang guru. Hampir bersamaan, mereka mengangguk. “Sudah Us…”

Setelah diberitahu agar sopan, jujur dan tertib, siswa kelas 4 SD Plus Rahmat Kota Kediri ini bersemangat mengambil troli belanja. Mereka lantas berkeliling. Beriringan sembari menenteng lembaran kertas.

Anak-anak ini bukan sekadar berbelanja. Pada Kamis (17/12/2019) pagi itu, mereka sedang belajar di luar ruangan: outing class.

Tiap anak dibekali sekolah uang Rp 5000. Lalu, diminta belanja dan berhitung secara berkelompok yang terdiri dari 4 – 6 anak. Swalayan yang biasanya baru buka pukul 09.00 ini merelakan diri buka dua jam lebih awal.

Diselingi canda tawa, anak-anak menyisir rak-rak belanja. Melewati klaster buah, Adiba ingin membeli anggur. Dia membeli 1 ons anggur: Rp.4.500. Dicatatnya. Jika dibulatkan menjadi Rp 5.000.

Teman-temannya, ada yang membeli kwaci, minuman mineral dan pizza. Lima anak dalam satu kelompok Adiba ini menghabiskan uang Rp 25 ribu.

Melalui lembar kerja yang diberikan, siswa belajar berhitung dan menaksir harga. “Senang bisa menaksir semua harga dengan baik. Ketika di kasir uangnya tidak kurang, ” papar Adiba.

(foto: Luci Apriliasari/SD Plus Rahmat)

(foto: Luci Apriliasari/SD Plus Rahmat)

Kelompok Dito dan Kemal lain lagi. Mereka lebih suka membeli permen. Mereka duduk di lantai swalayan untuk berdiskusi tentang barang yang akan dibeli dan menaksir harganya.

Dito tak segan tanya kepada pelayan dan dijawab dengan baik. “Asyik bisa berbelanja sambil belajar bersama teman-teman. Seru,” kata Kemal sambil tertawa.

 

Aktifitas anak-anak belajar dan berbelanja di swalayan ini merupakan implementasi pembelajaran tematik.
“Siswa praktik secara langsung. Mereka dibekali pengetahuan dan menemukan sendiri permasalahan dengan diskusi bersama teman-temannya,” ungkap Bety Nur Handayani, SE Koordinator Kurikulum SD Plus Rahmat Kediri.

Dalam kompetensi sikap spiritual, mereka menerapkan sikap jujur dan tanggung jawab. Aspek sosial: siswa harus bisa bekerjasama dengan baik dan menghargai pendapat orang lain. Dari segi pengetahuan, semua muatan telah tercapai.

“Kalau muatan Bahasa Indonesia terpenuhi dengan menuliskan laporan kegiatan; Ilmu Pengetahuan Sosial Interaksi sebagai pembeli, muatan IPA memilih makanan yang sehat, Matematika: menaksir harga. Kemudian, dari aspek ketrampilan, mereka sudah menjalankan sendiri kegiatannya,” papar Betty.

Ada kombinasi berbagai metode pembelajaran yang digunakan. Antara lain: Inkuiri, Problem Solving, Praktik and Discuss. Dari keseluruhan rangkaian kegiatan tersebut, siswa tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka telah melakukan pembelajaran tematik.

netizer : Luci Apriliasari (Humas SD Plus Rahmat)
Editor : KDR

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.