Segarnya Kopi Wilis Buat Mata Merem Melek

0

Tangan Umi Niyati (41) lincah membuka stoples berisi bubuk hitam pekat tersebut. Dua sendok teh kopi telah beralih ke dalam cangkir. “Pahit atau manis mas?” ia bertanya. Sementara ketel di atas kompor masih juga belum berbunyi. “Duduk dulu mas, nunggu airnya mendidik dulu,” katanya.

Kabut tipis menyisakan pandangan samar pohon-pohon pinus yang menjulang di pelataran parkir wisata air terjun Ironggolo di Besuki, Kabupaten Kediri. Warung “Kopi Giras” berdiri bersahaja di bawahnya. Lengkingan suara ketel menandakan air mendidih memecah kebekuan pagi, dua cangkir kopi siap menghangatkannya.

KeludKediriPedia-3Umi Niyati menyorongkan nampan di atas meja, “kami juga punya kopi kemasan kalau mas mau bawa pulang untuk oleh-oleh,” ia mulai berpromosi. Ia menunjukkan kemasan kopi dengan berbagai ukuran. “Kalau mau kopi biasa harganya Rp 60.000 per kilogram, jenis kopi robusta,” katanya. Kami mengamati dengan seksama kemasan kopi itu, ada merk “Putri Wilis” yang tertera sebagai penanda. “Putri Wilis itu nama kelompok petani kopi di Besuki,” katanya. Kalau dijual seduhan harga kopi jenis robusta Rp 3.000 per cangkir.

Kelompok petani “Putri Wilis” mampu memproduksi sekitar 120 kilogram bubuk kopi setiap bulan, tentu kapasitas produksi ini saat musim panen kopi tiba. “Kami kulakan dari petani seharga Rp 5.000 per kilogram dalam keadaan basah,” kata Sudhiro (48), suaminya nimbrung dalam percakapan. “Kalau dalam bentuk biji kering (green bean) harganya Rp 20.000 per kilogram,” jelas Sudhiro.

KeludKediriPedia-4Pohon-pohon kopi ditanam warga di sekitar Besuki di lahan milik PT Perhutani, yang memberikan ijin swakelola pada masyarakat sekitar. “Kalau mas mau tambah greng, sekali-kali mencoba produk kopi lanang,” kata Sudhiro tanpa menjelaskan lebih lanjut maksud dari kata greng. Istrinya hanya senyum-senyum saja mendengar promosi tersebut. Ia mengangsurkan sebungkus kopi lanang, “harganya Rp 275 ribu per kilo,” katanya.

KeludKediriPedia-5

“Ada juga kopi luwak liar, asli dari alam bukan ternakan. Namun produksi kami terbatas,” kata Sudhiro. Untuk harga bubuk kopi luwak liar, ia menghargai Rp 560 ribu per kilogram, sementara luwak liar lanan Rp 780 ribu per kilogram. “Petani mengambil biji-biji kopi ini langsung dari kotoran luwak yang memakan kopi di hutan, dijamin higienis karena sudah kami bersihkan,” Sudhiro berpromosi. (Arief Priyono)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Leave A Reply