Scooterist Juga Manusia, Bonceng Anak Yatim Keliling Desa

0

Suara knalpot puluhan vespa yang berjajar rapi di kanan dan kiri jalan depan Panti Asuhan At Tarbiyah, Wates, Kabupaten Kediri memecah kesunyian pada sore itu, Minggu, 5 Juli 2015. Para pengendaranya sudah siap di belakang kemudi. Satu per satu anak-anak panti asuhan At Tarbiyah keluar dari asrama, dibantu sejumlah pengasuh menaikkannya satu per satu diboncengan vespa. Rata-rata usianya 5 – 12 tahun, sementara yang masih berusia balita harus digendong oleh pengasuhnya.

Buka-Puasa-Vespa-Kediri-3

Parade vespa keliling desa. Foto: Arief Priyono

Setelah semua kebagian boncengan, dimulailah parade vespa sore itu. Secara serempak dengan barisan rapi dua berbanjar, scooterist menghela gas vespanya berkeliling jalanan di Kecamatan Wates. Setidaknya 70 vespa yang tergabung dalam “Scooterist Kediri Raya” berpartisipasi dalam acara ini.

“Senang tadi diajak keliling-keliling naik vespa, ini baru pertama kali saya naik vespa,” kata Nabila, salah satu anak yatim piatu mengungkapkan pengalamannya dibonceng vespa. Anak perempuan yang usianya berkisar delapan tahun tersebut senyum-senyum sepanjang perjalanan karena merasakan sensasi unik menunggang vespa.

“Kegiatan semacam ini sangat positif bagi scooterist, bisa menghilangkan kesan bahwa pengendara vespa senang ugal-ugalan saat di jalan raya,” kata Ustadz Saifuddin, pengasuh Panti Asuhan At Tarbiyah yang juga seorang pengendara vespa. Sore itu ia membonceng istrinya naik vespa mengikuti para anak asuhnya.

“Sore ini membuktikan teman-teman vespa bisa tertip di jalan, rapi dan sopan santun dalam berlalu-lintas. Dalam arti secara sosial scooterist juga bagian dari masyarakat yang harus patuh aturan lalu-lintas,” tambah Saifuddin. “Apalagi ada program santunan anak yatim ini, saya kira scooterist di Kediri bagus dan positif kegiatannya,” katanya.

Buka-Puasa-Vespa-Kediri-5

Ustadz Saifuddin bersama istri. Foto: Arief Priyono

“Komunitas vespa bukan komunitas yang ekstrem atau terkesan urakan. Kita juga menanamkan unsur-unsur sosial juga, kita adakan acara ini untuk tunjukkan jati diri kita,” kata Gus Bangkak, salah satu dedengkot scooterist Kediri yang menjadi penggagas acara. “Kami berharap semua scooterist di Indonesia bisa menyelenggarakan kegiatan seperti ini, agar citra positif scooterist terangkat, image negatif pada penunggang vespa bisa dikurangi,” jelas Gus Bangkak.

Nah acara sore itu juga diringi oleh lantunan sholawat nabi dan unjuk gigi dari anak yatim piatu dengan hapalan Asmaul Husna untuk menyambut para scooterist yang hendak buka bersama mereka.  Sebelumnya, seorang anak juga membacakan ayat suci Al Qur’an dengan suara merdunya.

 

Saat azan magrib berkumandang, tanpa dikomando kardus-kardus yang berisi nasi dan lauk pauknya dibagikan dengan sigap oleh para scooterist. Anak-anak di panti asuhan menyambutnya dengan gembira. Terbayang kebahagiaan para scooterist yang menyisihkan sedikit rezekinya untuk berbagi dengan kaum duafa. Mereka juga tak segan-segan duduk bersama berdampingan dengan anak yatim piatu menikmati nasi kotak hingga tandas.

 

Foto: Arief Priyono

Foto: Arief Priyono

Di akhir acara sebelum pamitan, scooterist Kediri yang diwakili oleh Yusuf Gimbal membagikan amplop berisi uang pada seluruh anak yatim tanpa kecuali. Dengan tertib anak-anak itu satu per satu maju ke depan untuk menerima sumbangan yang ikhlas dikumpulkan dari donasi internal Scooterist Kediri Raya. (Arief Priyono)

 

 

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.