Sate Satak, Ekspedisi Kuliner Lereng Kelud

0

 

Tak tampak ujung jalan setapak, hanya rimbun pohon dan debu yang beterbangan ke dalam jip tua, sementara perut kami sudah semakin keroncongan. Kalau menghitung waktu, harusnya matahari tepat di atas ubun-ubun. “Tenang, nanti sehabis makan kita akan melihat hutan Harry Potter,” kelakar Dwidjo U. Maksum, tangannya sigap memutar kemudi mengimbangi kontur jalanan perkebunan yang kami lalui.

Siang itu, 29 Juli 2015, kami menurut saja dengan ajakan Pak DUM, begitu kami menyapanya. “Lha kalau ke sini harus mencoba sate satak,” katanya berpromosi. Maksudnya “ke sini” adalah rute perjalanan kami yang tujuan sebenarnya ke Agro Wisata Sepawon. Ini adalah wahana wisata perkebunan yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara XII Ngrangkah Pawon, Kabupaten Kediri. Lokasinya berada di lereng Gunung Kelud, dengan hamparan kebun kopi dan kakao dengan luas mencapai 3.995 hektar.

Sate-Pak-Eko-Satak-7Nah kembali ke soal sate satak, jangan mengernyitkan dahi dulu dengan istilah ini karena memang tidak akan Anda temukan di kamus dunia kuliner manapun. Ini sebenarnya adalah sebuah depot sate kambing muda Pak Eko yang berada di Desa Satak, Kecamatan Puncu. Kalau Anda menuju Perkebunan Satak yang masih di wilayah operasional PTPN XII Ngrangkah Pawon, pasti akan melintasi tempat kuliner ini.

Jalur menuju ke kuliner sate satak paling mudah dan dekat sebenarnya lewat jalan raya Pare – Plosoklaten, atau sebaliknya. Karena kami saat itu sudah berada di Agro Wisata Sepawon, nanggung rasanya kalau harus kembali ke jalan raya Pare – Plosoklaten. “Kita nerabas saja lewat jalur perkebunan, lumayan kalau sekalian mau survey jalur untuk bersepeda,” ajak Pak DUM. Jadilah kami berempat—saya, Nakula, Danu dan Pak DUM, mengambil jalan pintas menerabas jalan tanah berdebu perkebunan Sepawon – Satak. Hampir setengah jam perjalanan, setelah bertanya sana-sini, tibalah kami di warung sate kambing muda Pak Eko.

Sate-Pak-Eko-Satak-2Warung sate kambing Pak Eko tidak terlalu luas untuk sebuah tempat kuliner yang lumayan terkenal di wilayah lereng Gunung Kelud, menampung delapan meja panjang dilengkapi kursi-kursi plastik. Saat kami tiba, hanya satu meja yang terisi oleh dua pekerja kantoran yang tengah menikmati santap siang. Kami mengambil meja di seberangnya.

Bau harum pembakaran sate yang berada di belakang kios membuat kami semakin penasaran, namun mesti bersabar menunggu daging kambing matang di atas bara pemanggangan. “Di sini daging sate-nya terkenal empuk,” Pak DUM kembali berpromosi. Kami memesan 40 tusuk sate dan dua porsi gule, cukup lah untuk santap siang bagi mereka yang tak punya pantangan kolesterol. Untuk pelepas dahaga, kami kompak membuka empat botol coffee beer – minuman tradisional berkarbonasi dengan perasa kopi produksi pabrik limun terkenal di Ngoro, Jombang.

Sate-Pak-Eko-Satak-3Saya sempat mengintip ke dalam dapur, tumpukan daging tertata rapi di atas amben, sebuah ranjang kayu yang difungsikan sebagai tempat barang dan sekaligus tempat duduk. Seorang perempuan tengah sibuk mengipasi puluhan tusuk sate yang tertata rapi di atas panggangan. Sementara sang pemilik warung, Pak Eko sibuk menyiapkan bumbu sambal kacang untuk kami.

Akhirnya tiba saatnya untuk makan siang, meski sebenarnya agak terlambat karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, dua rekan seperjalanan malah belum sarapan. Pak Eko sendiri yang mengantar makan siang kami, Ia membawanya dalam dua lansiran. Yang pertama nasi dan kuah gule lalu sate menyusul kemudian.

Sate-Pak-Eko-Satak-5“Monggo silahkan dinikmati,” sapa Pak Eko ramah kepada kami. Benar saja, daging sate yang saya kunyah perlahan terasa empuk, langsung lembut dan mudah ditelan. Efeknya tentu saja sisa daging tidak menyempil di sela-sela gigi. Istilah kerennya slilit.  Yang istimewa, setiap tusuk sate tidak ada campuran jeroan seperti di warung sate pada umumnya. “Kambing yang saya potong untuk bahan sate usianya sekitar 5-6 bulan, jadi masih muda dan dagingnya empuk,” kata Pak Eko.

Sementara kuah gule-nya juga patut diacungi jempol. Rasanya sangat kaya dan segar, dengan santan yang tidak terlalu kental. Kuahnya tidak terlalu berminyak, ini menandakan Pak Eko membersihkan lemak dari daging dan tulang kambing atau balungan yang dimasak untuk gule. Pak Eko menambahkan  taburan kecambah dan irisan daun sledri di atas kuah.

Sate-Pak-Eko-Satak-6“Kalau hari-hari biasa saya menghabiskan 2-3 tiga ekor kambing, saat musim liburan atau hari raya bisa lima ekor kambing,” jelasnya. “Banyak pelanggan saya dari luar kota. Akhir pekan nanti sudah ada yang pesan 30 porsi untuk acara ulang tahun,” kata Pak Eko.

Nah Anda ingin mencicipi sate gule kambing muda Pak Eko? Kalau dari Kota Kediri jarak tempuh tak sampai satu jam, dari Simpang Lima Gumul rutenya menuju ke Plosoklaten lalu mengambil jalan ke arah Pare. Untuk mempermudah, gunakan panduan google maps atau GPS dengan titik koordinat -7.8571 LS dan 112.244 BT.  (Arief Priyono)

 

Warung Sate Pak Eko

081330739160
085283004257
08563417827

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.