Santri Lirboyo Asah Akik Usai Tarawih

0

Suara bising membelah kesunyian di sebuah gubuk bambu di dalam areal Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri. Lokasinya tak jauh dari kamar mandi umum para santri, semacam bak air panjang untuk mandi berjamaah. Tangan Doni berhati-hati memegang sebuah batu akik, menubrukkannya dengan mata gerindra untuk mendapatkan bentuk yang sesuai. “Sudah hampir setengah tahun belajar mengasah batu akik, sekarang sudah bisa membentuk batu akik berbagai ukuran,” kata Doni, santri senior asal Mrican, Kota Kediri.

Akik-Santri-Lirboyo-2Malam itu sejumlah santri lain ikut menyaksikan cara kerja Doni mengasah batu akik, maklum demam akik juga menjalar ke lingkungan pesantren. “Biasanya kalau setelah sholat Tarawih sudah mulai mengasah batu akik, tak jarang berlangsung hingga saat sahur tiba,” kata Muhammad Al Faris, santri senior Pondok Lirboyo yang juga pemimpin redaksi Majalah Al Misykat.

“Justru sebelum booming batu akik, sudah lama para santri menggemarinya. Sejak dulu juga ada pedagang batu akik keliling dan masuk asrama pondok yang rutin menawarkan batu akik ke santri Lirboyo,” jelas Faris. Yang jelas, makna batu akik buat para santri Lirboyo bukan sesuatu yang mengandung unsur klenik, tapi lebih sekedar sebagai hiasan jari tangan.

Mungkin para santri juga ingin meneladani Nabi Muhammad, yang konon juga suka memakai cincin perak dengan hiasan batu akik. Menurut sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim, secara spesifik menyebutnya sebagai batu Habasyi, oleh para pecinta batu ini disebut juga Yaman Wulung. Ada juga yang meriwayatkan Nabi Muhammad memiliki cincin bermata batu Pirus sebagai salah satu favoritnya. (Arief Priyono)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Leave A Reply