Salut! Kakek 103 Tahun ini Keliling Jualan Lincak

0

Usia yang kian senja tak menggerus semangatnya. Sang kakek tetap bersemangat mengangkat lincak, menarik gerobak dan keliling berjualan. Demi bertahan hidup di atas jerih payahnya sendiri.

Gubuk yang reot. Berdinding anyaman bambu. Sempit, hanya berukuran 2 kali 4 meter. Di situlah, Suryani berteduh.

Sebelumnya, gubuk yang terletak di usun Brangkal, Desa Puhrubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri ini hanyalah kandang sapi. Empat bulan silam, rumah lama Suryani rusak. Seorang tetangga yang iba menyulap kandangnya menjadi tempat tinggal Suryani.

Untuk keperluan mandi dan mencuci, Suryani masih nebeng ke rumah tetangga. Urusan makan, sesekali dia mendapat pemberian dari tetangga ataupun orang yang simpati saat bertemu di jalan.

Namun, Suryani bukan pribadi yang suka bergantung pada orang lain. Dia ingin bekerja, memperoleh uang dari tangannya sendiri, meski usianya terus menua; 103 tahun. “Saya kelahiran tahun 1912,” kata Suryani, dalam bahasa Jawa.

Mbah Suryani menyeret gerobak menjajakan lincaknya keliling kota. (foto: Abddurrahman)

Mbah Suryani menyeret gerobak menjajakan lincaknya keliling kota. (foto: Abddurrahman)

Kakek dengan enam putra dan delapan belas cucu ini tiap harinya berangkat pukul enam pagi dari rumahnya. Dia mengambil barang dagangan berupa kursi bambu (orang Jawa menyebut lincak) dari tetangganya. Kemudian, dengan sebuah gerobak kecil, Suryani menjajakan dagangannya dan berkeliling Kota Kediri.

Keuntungan yang diperoleh tak seberapa, jika dibandingkan perjuangannya. “Dari setiap kursi, saya hanya mengambil untung Rp 5000,-. Biasanya bisa menjual satu sampai tiga kursi per hari,” katanya. Duit segitu hanya cukup untuk makan.

Sebelum menjual kursi keliling, Suryani bekerja mencari batu korang di kawasan lereng Gunung Wilis. Namun karena kondisi fisik yang terus menurun, pekerjaan tersebut ditinggalkan.

Meski oleh anak dan cucunya, Suryani dilarang bekerja, namun dirinya tetap memaksa. “Kalau hanya berdiam diri di rumah, saya malah bingung. Saya juga tidak mau jadi beban hidup anak serta cucu,” tuturnya.

Meski kondisi fisiknya terus melemah, namun diusianya yang lebih satu abad, Suryani masih semangat dan tegar menyongsong hidup hari esok dengan penuh keikhlasan.

Netizer : Abdurrahman

Editor : Danu Sukendro

 

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.