Rekreasi dan Edukasi di Agrowisata Strawberry

0

BUAH strawberry yang memikat. Merah merekah dan segar. Diapit dedaunan, menggantung di pipa hidroponik. Azzaraina Naulah mengamatinya dengan gemas. Tak lama berselang, dia menggunting tangkai strawberry dan daun yang menempel pada buah. Lalu, memasukkan ke keranjang kecil yang dibawa oleh kakaknya, Firyaal Ulayya.

Agrowisata Strawberry ini terletak di halaman radio Kelud FM, di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Persis di depan radio adalah budidaya strawberry hidroponik dengan pipa paralon yang dimodifikasi sedemikian rupa. Sedangkan, di utara radio berjajar ratusan polybag strawberry yang tertata rapi.

“Strawberry ini bisa tumbuh dengan baik di dataran tinggi. Setidaknya, dengan ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut,” papar Suratno, pengelola Agrowisata Petik Strawberry kepada sejumlah pengunjung, Minggu (15/11/2015) siang itu.

Pengunjung memperoleh edukasi tentang strawberry (foto: Danu Sukendro)

Pengunjung memperoleh edukasi tentang strawberry (foto: Danu Sukendro)

Firyaal, siswa kelas 5 SD itu menyimak paparan Suratno. Sedangkan, Azza yang masih kelas 2 SD malah asyik memotongi buah strawberry yang lain.

“Di sini berapa ketinggiannya, Mas?” tanya Firyaal.

“Kalau di sini, ketinggiannya sebenarnya kurang ideal. Hanya 700 meter di atas permukaan laut, tapi perkembangannya juga bagus. Kalian bisa lihat sendiri ‘kan,” jawab Suratno sembari menunjuk beberapa buah strawberry. Dia lantas menerangkan media tanam hingga budidaya strawberry. Lalu, melayani tanya jawab dengan pengunjung.

Itulah salah satu nilai tambah Agrowisata Petik Strawberry di Radio Kelud FM. Tak sekadar membeli buah strawberry, tapi ada plusnya. Pengunjung bisa memetik sendiri strawberry sesuka hati. Mereka juga diberi edukasi tentang budidaya strawberry.

foto : Firyaal Ulayya

foto : Firyaal Ulayya

“Asyik. Seneng banget bisa metik buah strawberry sendiri. Apalagi, dapat tambahan pengetahuan,” kata Firyaal, sembari tersenyum lebar.

Buah strawberry yang melekat pada tangkainya terlihat artistik. Buahnya mungil seperti bentuk hati, warnanya merah merekah dengan bintik di permukaan kulitnya. Tak heran, jika banyak aksesoris, furniture dan fashion anak-anak perempuan yang menggunakan motif strawberry.

“Melihat buahnya saja sudah suka. Apalagi, rasanya nano-nano. Manis, tapi ada masamnya,” tambah Azzaraina, sembari mengamati Suratno menimbang buah strawberry yang dipetik bersama kakaknya. Satu ons strawberry, Rp 6000. “Kalau edukasinya itu bonus,” ujar Suratno, sembari tertawa.

Agrowisata Strawberry yang dikelola oleh kru Radio Kelud FM ini terletak sebelum pintu masuk Areal Wisata Gunung Kelud. Lebih ke atas lagi, ada juga Agrowisata Strawberry yang dikelola oleh PDP Margomulyo.

Agrowisata ini biasanya buka pada hari Sabtu dan Minggu, mulai pukul 07.00 – 16.00. Banyak pengunjung siswa-siswa dari TK dan SD yang berbondong-bondong datang untuk rekreasi, sekaligus edukasi.

Persiapan Agrowisata Strawberry di Kelud FM berlangsung sejak April 2015. “Mulanya, kami belajar budidaya di Mojo dan Magelang,” papar Suratno.

Lalu, mereka diberi bantuan 700 bibit oleh Pemerintah Kabupaten Kediri. Proses budidaya mulai pada bulan Mei 2015. Budidaya dikembangkan dengan sistem Hidroponik dan polybag.

Hasil panen pertama pada bulan Agustus tak maksimal. Hanya 2 kilogram. Namun, anak-anak Kelud FM ini tak mau menyerah. Mereka malah mengembangkan pembenihan, dengan 1500 bibit.

Saat ini, kapasitasnya sudah meningkat. Sekali buka, menurut Suratno, mereka bisa menghabiskan 5 kg strawberry. “Jika animo pengunjung, 50 kilogram satu hari bisa habis. Karena itu, kami terus mengembangkan pembibitan, sehingga pada tahun depan, kami sudah punya 5000 tanaman strawberry,” tambah pria berambut lurus ini.

Arif, kru Kelud FM yang masih SMP. (foto: Danu Sukendro)

Arif, kru Kelud FM yang masih SMP. (foto: Danu Sukendro)

Sebanyak 12 kru Kelud FM yang terlibat dalam pengelolaan budidaya strawberry ini. Salah satunya, Arif Setiawan, siswa kelas 3 SMP Ngancar. Setiap sore, dia menyirami tanaman-tanaman itu. Dia juga ikut membantu pemupukan dan ikut menjaga kebersihan Agrowisata Petik Strawberry ini.

Di sela kegiatan itu, Arif juga siaran pada program tertentu. “Seneng bisa kumpul teman-teman. Saya juga banyak belajar di sini,” ungkap Arif.

Secara finansial, kegiatan Agrowisata belum memberikan dampak finansial pada para pengelola. Sementara, mereka harus mengencangkan ikat pinggang, hingga saatnya nanti.

“Namun, kami sudah punya kas. Minimal dari hasil pengelolaan agrowisata ini, kami bisa bayar listrik radio secara mandiri. Mudah-mudahan, tahun depan sudah banyak menghasilkan,” harap Suratno. (Danu Sukendro)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.