Rayakan Kemerdekaan Indonesia, Anak Laba-Laba Kediri Panjat Tebing Spikul

0

FRASA peringatan kemerdekaan kadang hanya dimaknai sebagai sebuah perayaan kebebasan. Lalu sebagai penanda, setiap tahun hiruk pikuk konvoi disiapkan. Balap karung, sepakbola sarung, lomba makan kerupuk, panjat pinang, dan varian lomba lain menyambut kemeriahan menjelang hingga usai 17 Agustus. Namun ada juga yang memilih keheningan dengan menggelar malam tirakatan, berdo’a untuk keutuhan bangsa, keselamatan negara dan rakyatnya. Sementara sekelompok anak yang masih duduk di taman kanak-kanak dan sekolah dasar, menjauh dari hingar bingar perayaan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke-70 dengan memanjat tebing di Bukit Spikul, Kecamatan Watulimo – Trenggalek. Lalu kemudian sebut saja mereka Anak Laba-Laba.

17 Agustus 2015, selepas subuh. Dua kendaraan multi purpose vehicle (MPV) yang kami tumpangi melaju menembus keheningan pagi di sepanjang jalan raya Kediri – Tulungagung via Kecamatan Mojo. Isinya adalah empat keluarga dengan enam anak berdesak-desakan berbagi kursi, sementara tas logistik dan perbekalan menumpuk di bagasi belakang.

Berangkat dini hari adalah skenario kedua, karena rencana berkemah kami batalkan setelah salah satu keluarga menjadi tuan rumah malam tirakatan, tepatnya beranda rumahnya dijadikan panggung dadakan untuk acara hiburan setelah kondangan.

Tujuan kami pagi itu menyaksikan upacara pengibaran bendera merah putih raksasa di tebing Bukit Spikul, Trenggalek, sebuah event tahunan yang kebetulan kali ini sudah memasuki tahun ke 20. Pengibaran bendera pertama dilakukan pada 1995, tepat pada perayaan ulang tahun emas 50 tahun Kemerdekaan Indonesia. Itu tujuan pertama, yang kedua tentu menuruti keinginan anak-anak kami untuk mencoba memanjat curam-nya tebing Spikul yang sangat legendaris.

Meskipun dengan kecepatan berkendara sedang, kurang dua jam kami sudah tiba di lokasi. Itu sudah dengan beberapa kali berhenti, mulai dari beli minyak kayu putih hingga tergiur memborong semangka untuk tambahan bekal.

Ketua rombongan kami saat itu Pak Kholif, nama ini sudah sangat populer di kalangan pemanjat tebing di Jawa Timur. Maklum dia juga yang memasang poin-poin jalur pemanjatan di tebing Spikul belasan tahun lalu. Sampai sekarang, poin-poin buatan sendiri (handmade) tersebut masih menancap kokoh di tebing Spikul.

Kami berhenti di pos pemanjatan di sebuah rumah warga di bawah Bukit Spikul, memarkir kendaraan, menurunkan tas perbekalan. “Ayo anak-anak, yang mau pipis ke kamar mandi dulu,” Dewi Rahmawati, istri sang ketua rombongan memberi komando pada anak-anak.  Mbak Dewi, kami biasanya menyapa – adalah mantan atlet panjat tebing Jawa Timur.

Anak-Laba-Laba-Kediri-Spikul-3Perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki melewati jalan tanah berbatu, tak sampai 30 menit untuk menuju lokasi dari rumah terakhir penduduk. Persiapan upacara bendera sudah dimulai sejak sehari sebelumnya. Para pemanjat yang bertugas mengibarkan bendera telah naik terlebih dahulu. Maklum memanjat tebing dengan ketinggian lebih dari 150 meter  membawa beban bendera berukuran 40 x 30 meter tentu bukan persoalan mudah. Lokasi pengibaran bendera yang tak jauh dari garis pantai (400 mdpl), membuat angin berhembus cukup kencang. Hanya pemanjat dengan jam terbang tinggi yang diperkenankan ikut dalam tim pengibaran yang berjumlah 10 orang.

Kami disambut oleh Roshid pemanjat senior asal Ponorogo, ia biasanya selalu ikut dalam tim pengibaran bendera, namun kali ini memilih memandu di bawah saja dan mempercayakan pada yuniornya. Ia menggenggam handy talky memantau para pemanjat. Sebenarnya sejak kami datang bendera sudah dikibarkan, tetapi kemudian dilipat untuk dikibarkan kembali tepat pada detik-detik proklamasi saat upacara kemerdekaan.

Kami duduk-duduk bergerombol di bawah rindang pepohonan, Pak Itung salah satu anggota rombongan kami berinisiatif menggelar batang-batang daun kelapa kering atau yang biasa disebut blarak sebagai alas. Maklum, karena tidak ada rencana berkemah kami tidak membawa tikar dari rumah.

Anak-Laba-Laba-Kediri-Spikul-15Sejumlah warga, petani, anak-anak, hingga ibu rumah tangga dengan menggendong bayinya sudah bersiap di sebuah tanah lapang yang disiapkan sebagai lapangan upacara. Sebagian berdiri di sejumlah batu-batu besar yang berserakan di lereng bukit. “Ayo ikut upacara bendera dulu, nanti habis ini latihan manjat,” seru Sri Dento Resi Dwipoyono, personel setia dalam tur mbolang kami yang kebetulan bekerja sebagai humas di PT Gudang Garam Tbk. yang kali ini hanya berdua bersama putra pertamanya, Ara.

Anak-anak pada berlarian, hanya Ara yang ikut dalam barisan upacara, yang lain berlalu ke semak-semak, mengintip inspektur upacara yang baru saja tiba. Mochamad Nur Arifin (25), seorang tokoh pemuda lokal dipercaya untuk menjadi inspektur upacara.

Anak-Laba-Laba-Kediri-Spikul-14Beberapa saat kemudian, lagu Indonesia Raya berkumandang di angkasa. Para petani, anak-anak, anggota mahasiswa pecinta alam (Mapala) dari berbagai kota, ibu-ibu rumah tangga dan para pemanjat serentak menghormat pada bendera yang pelan-pelan berkibar di tebing Spikul. Merinding rasanya bulu roma menyaksikan mereka bernyanyi sambil meresapi dalam hati, entah makna kemerdekaan seperti apa yang bergemuruh di dada masing-masing.

Anak-Laba-Laba-Kediri-Spikul-2Nah seusai upacara, tibalah agenda utama Anak Laba-Laba siap beraksi memanjat tebing Spikul. “Makan siang dulu, tambah energi agar kuat manjat,” ajak Mbak Meme, bagian konsumsi di komunitas kami—tercermin pada postur suburnya. Tak ada hidangan mewah, hanya beberapa potong ayam, ikan nila, dan semur telor puyuh kesukaan Billi, anak pasangan Meme dan Pak Itung.

Setelah semua tandas, barulah Pak Kholif kembali pegang kendali sebagai ketua rombongan. Dibantu oleh Riza aka Celeng, ia menyiapkan semua perlatan pemanjatan. Mulai harness, tali, webing, carabiner, sling dan runner.

Celeng yang mendapat tugas untuk memasang tali (rope), tak terlalu tinggi karena memang ini untuk anak-anak. Usia mereka paling kecil 5 tahun, sementara yang terbesar 8 tahun. Tugas Celeng hanya mengaitkan rope pada anchor (poin) kedua dari bawah, sekira 20 meter dari permukaan tanah. Meskipun dengan ketinggian hanya 20 meter, untuk anak-anak dengan tinggi tubuh tak lebih dari 1 meter dengan sudut kemiringan tebing 70-80 derajat tentu sangat menantang.

Sementara Pak Kholif memasang harness di lingkar pinggang dan kedua pahanya – ia mendapat tugas sebagay Bileyer atau penahan rope untuk menjamin keselamatan. Anak Laba-Laba mengundi giliran memanjat dengan melakukan suit, ternyata Vian mendapatkan giliran pertama, disusul Beril, Kinan , Ara dan Anda. Vian, yang baru saja naik ke kelas 3 SD Pawyatan Daha, Kediri adalah anak sulung dari pasangan Kholif dan Dewi, sementara Kinan anak perempuan mereka.

Celeng memasangkan harness ditubuh Vian, ternyata harness yang tersedia di lokasi pemanjatan kebesaran. “Wah, tahu gitu tadi bawa harness dari rumah,” celetuk Pak Kholif, yang memiliki sebuah CV instalatir listrik rekanan Perusahaan Listrik Negara. Sebagai gantinya, webing dililitkan ke tubuh Vian. Webing lazim dipakai para pemanjat sebagai pengganti harness, namun memang kurang praktis saat bongkar pasang dan kurang nyaman.

Celeng mendorong tubuh Vian hingga bisa menggapai pijakan pertama, pelan-pelan Vian merayap mencari cekungan-cekungan kecil di tebing batu untuk naik. “Yah, yang kencang talinya ya…” teriaknya dari atas agar sang ayah waspada, keselamatan pemanjat memang sangat bergantung pada biley.

Anak-Laba-Laba-Kediri-Spikul-5Vian merayap dengan hati-hati dan penuh perhitungan, namun pelan-pelan dia sampai juga di titik tertinggi yang ditentukan. Maklum, anak atlet panjat tebing. Istilah buah jatuh tak jauh dari pohonnya ada benarnya juga. Setelah sampai puncak, pelan-pelan Vian turun dipandu uluran tali ayahnya.

Anak-Laba-Laba-Kediri-Spikul-6Giliran kedua Beril, baru saja masuk di taman kanak-kanak. Anak pasangan Pak Itung dan Mbak Meme ini sudah tak sabar mencoba, dan dengan pede-nya berkata berani dan bisa sampai puncak. Para orang tua terbahak-bahak melihat kepedean anak paling kecil dalam rombongan kali ini. Namun baru saja Celeng mendorong tubuhnya di pijakan pertama “Udah-udah, turun..capek aku,” kontak dia berteriak. Hahahahaha, kami serentak tertawa bersamaan.

Anak-Laba-Laba-Kediri-Spikul-12Lain lagi Kinan, ini kalau berdasarkan usia nomor dua dari bawah. Punya keberanian sama seperti Beril, namun karena ukuran tubuhnya yang masih pendek dan jangkauan tangan serta kaki yang terbatas, ia mesti rela turun setelah sampai separuh perjalanan. “Tidak apa-apa, kapan-kapan diulang lagi,” hibur sang ibu.

Anak-Laba-Laba-Kediri-Spikul-8Dua cowok terakhir mendapat giliran, berdasar urutan undian Ara mendapatkan kesempatan. Pembawaanya kalem, namun kelihatan berani.  Postur tubuhnya ideal untuk menjadi pendaki. Setelah webing dililitkan di pinggang dan kedua pahanya, dipandu Celeng ia naik pelan-pelan. Ia merayap, namun entah karena capek atau ngantuk untuk panjatan kali ini ia tampak kurang trengginas. Siswa kelas 3 SD Negeri 8 Ngronggo, Kota Kediri ini gagal dan hanya sampai ditengah-tengah.

Giliran terakhir Anda Langit, siswa kelas 3 SDI The Naff, Kota Kediri. Perawakannya kurus dan kecil, jujur saja ini anak saya. Saya sendiri awalnya kurang yakin Anda bisa melewati tantangan ini, maklum dari awal dia mesam-mesem seperti tidak memiliki beban saja. Tak ada rasa takut yang terlihat dari ekspresi wajahnya.

Anak-Laba-Laba-Kediri-Spikul-9Meski anak saya sendiri, saya sebetulnya enggan menulis sendiri kisah sukses-nya memanjat tebing Spikul. Takut dianggap melebih-lebihkan. Setelah Celeng  mengangkat tubuhnya di pijakan pertama, dengan entengnya dia merayap di tebing batu, seolah punya ilmu meringankan tubuh. Sangat cepat dia mencapai puncak poin ke-dua sebagai titik batas.

Saya pikir awalnya hanya sebuah kebetulan, namun setelah mengulang kedua kali dari bawah, hasilnya tetap sama, Anda Langit bisa melaju mulus memanjat tebing Spikul, dengan kecepatan hampir setara dengan panjatan pertama. “Ini bakat alam mas, harus diteruskan untuk diasah. Nanti berlatih kembali di FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia),” kata Dewi Rahmati, berkomentar sebagai mantan atlet.

Sudah hampir magrib, saat kami bergeser dari tebing Spikul. Tentunya setelah satu persatu anak-anak kami mendapat giliran memanjat, kecuali Billi anak sulung perempuan pasangan Pak Itung dan Mbak Meme. Kali ini, memang Billi yang sekarang duduk di kelas 4 SDI The Naff tampaknya tidak berminat ikut memanjat. Padahal, di kamar rumahnya di Jl Diponegoro – Kota Kediri dindingnya penuh poin-poin untuk latihan memanjat. “Biar latihan di kamar saja hahaha,” kata Pak Itung, ayahnya yang sehari-hari sibuk wiraswasta di dunia advertising.

Setelah berpamitan dengan warga yang halamannya kami pinjam untuk tempat parkir – juga numpang sholat dan kamar mandi, kendaraan kami melaju meninggalkan lereng Bukit Spikul. Sebuah perayaan kemerdekaan yang sederhana, namun saya yakin akan membekas lama di benak anak-anak kami. Tugas kami kali ini tinggal satu sebelum menginjak gas kembali ke Kediri, mencari tempat makan untuk mengisi perut kami yang sudah keroncongan sejak tadi. (Arief Priyono)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.