Potret Para Seniman Karya Adhi Kusumo

0

Budi “Swiss” Kustarto tampak terpejam di antara kepala-kepala berwarna hijau dengan ekspresi yang sama. Seniman lukis dan patung Yogyakarta itu dipotret bersama tumpukan patung kepala yang merupakan perwujudan dirinya sendiri.

Budi Swiss, begitu sapaan akrabnya di kalangan seniman, sering menampilkan dirinya dengan manusia hijau dalam karyanya. Kencederungan inilah yang ditangkap oleh Adhi Kusumo sebagai salah satu ide pemotretan untuk pamerannya.

Potret Budi "Swiss" Kistarto karya Adhi Kusumo

Potret Budi “Swiss” Kustarto karya Adhi Kusumo.

Dua puluh karya foto potret tampak berjajar di ruang pamer Bentara Budaya, Jalan Suroto 2 Kotabaru Yogyakarta. Mereka yang ada dalam foto tersebut adalah para pelaku seni Yogyakarta yang sudah tidak asing di dunia kesenian Indonesia. Pameran yang berlangsung tanggal 10 – 17 Januari 2017 lalu merupakan pameran foto tunggal Adhi Kusumo berjudul Art Begins at 40.

Usia yang menginjak 40 merupakan penghubung kenapa para penggiat seni kontemporer ini dimunculkan dalam pameran. Bisa dikatakan secara spiritual dan emosional pemikirannya lebih matang dan kontemplatif. Alasan lain adalah sebagai penghormatan kepada mereka yang pada usia 40an telah mewarnai seni kontemporer Indonesia, khususnya Yogya.

Lulusan D3 Komunikasi UGM Yogyakarta dan New York Institute of Photography ini memulai proyek foto potretnya sekitar dua tahun yang lalu. Pendekatannya kepada seniman Yogya dimulai dari yang welcome saat diajak kerjasama dan mempunyai akses luas ke seniman lain. Dari situ akhirnya poses perkenalannya dengan pelaku seni lainnya menjadi mudah.

Para penggiat seni yang terekam di lembaran foto itu berasal dari berbagai jalur mulai dari seni rupa, teater, pantomim, penulis, pemusik, komikus, fotografer, dan aktivis seni. 20 seniman tersebut adalah Abdi Setiawan, Agus Bakul, Akiq AW, Anggar Prasetyo, Bob Sick, Budi “Swiss”, Budi Ubrux, Eko Nugroho, Gunawan Marianto, Heri Pemad, I Made Toris, Jamaluddin Latif, Laksmi Shitaresmi, Marzuki “Kill The DJ”, Naomi Srikandi, Ugo Untoro, Pardiman, Putu Sutawijaya, Sri Krishna dan Wok The Rock.

Adhi Kusumo saat pembukaan pameran Art Begins at 40 di Bentara Budaya Yogya (Foto : Dokumentasi Adhi Kusumo)

Adhi Kusumo saat pembukaan pameran Art Begins at 40 di Bentara Budaya Yogya (Foto : Adhi Kusumo).

Yogyakarta sebagai kota yang didiami segudang seniman ini menjadi daya tarik Adhi untuk lebih dalam mengeksplorasi para pelaku seninya menjadi lembaran karya potret. “Seniman yang menjadi subyek dalam series ini dipilih karena mereka mempunyai pengaruh kuat dalam kesenian di Yogya ataupun nasional, jadi berkaryanya tidak untuk dirinya sendiri,” ungkap Adhi Kusumo ketika ditemui kediripedia.com, Minggu 5 februari 2017.

Tidak semua yang dijadikan subject matternya berdasarkan karya yang sedang diminati dalam seni kontemporer. Tetapi ada pertimbangan bagaimana sosok tersebut juga mempunyai andil besar dalam gerakan seni yang lebih luas.

Hari Pemad misalnya, sosok dibalik kesuksesan pameran, festival dan pasar seni rupa kontemporer Art Jog menjadi wajib tampil dalam proyek foto ini. Sebagai pengelola pameran yang sangat ditunggu-tunggu publik seni rupa Indonesia, Hari dikenal mempunyai kejelian dalam melihat karya.

“Agak ragu memotret Heri Pemad karena sosoknya yang cukup penting di dunia seni kontemporer, tapi menjelang deadline saya memutuskan untuk menampilkannya,” kata Adhi. Pria berkacamata itu difoto sedang mengoperasikan gadget dan membaca buku di toilet rumahnya, tempat dimana dia seringkali mendapatkan ide-ide segar.

Selain karya-karyanya yang sudah banyak dikenal, karakter para penggiat seni ini sudah menarik menurut pria yang bertempat tinggal di Kelurahan Burengan, Kediri. Sehingga untuk menemukan konsep pemotretannya tidak sulit. Fotografer kelahiran Kediri 42 tahun yang lalu ini sudah lama menggunakan environmental portraiture sebagai pendekatan visual dalam karya fotonya.

Potret I Made Toris karya Adhi Kusumo.

Potret I Made Toris karya Adhi Kusumo.

Genre fotografi yang digunakan Adhi Kusumo lebih menekankan ambient selain pose si subyek. Suasana dan emosi ketika melihat karya potret dibangun melalui lokasi, pernak-pernik dan elemen lain yang ada dalam sebuah foto.

Keinginan untuk mendokumentasikan para seniman diawalinya dengan memotret komikus Eko Nugroho pada tahun 2006. Saat itu Eko Nugroho sedang mengerjakan komik strip The Konyol yang tokohnya menggunakan sarung sebagai identitasnya. Pria yang membangkitkan semangat perkomikan dengan jalur underground lewat kompilasi Daging Tumbuh ini pun dipotret bertopeng selembar sarung.

Kepercayaan diri dalam genre fotografi yang dipelajarinya ini semakin bertambah saat mengikuti workshop fotografi yang diadakan oleh World Press Photo Foundation dan Panna Institute of Photography tahun 2007 di Jakarta.

Selain aktif menjadi fotografer freelance dengan spesialisasi potret dan documentary, Adhi juga mengajar ekstrakurikuler fotografi di SMU N 2 Kediri. Tahun 2008, Adhi pernah mengadakan pameran foto tunggal berjudul Wonokromo Kabaret di Erasmus Huis Jakarta, dengan kurator Erik Prasetya. Pameran foto bersama yang pernah diikutinya adalah Au Dela De Sa Beaute di Paris, Perancis tahun 2007 dan Arternative Photo Festival di Pasar Festival Kuningan, Jakarta tahun 2009. Kemudian tahun 2015 pernah mengikuti Surabaya Foto Festival dan tahun 2016 bersama para penggiat foto lainnya mengikuti 10 tahun Panna Photo Institute dengan judul Wisdom di Jakarta. (Nakula)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.