Perempuan di Belantara Pers Mahasiswa

0

Gambaran seorang aktivis berwajah kumuh dan pakaian amburadul, barangkali akan lenyap saat berjumpa Sekretaris Jenderal Perhimpun Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Dewan Kota Tulungagung. Isvita Claudya, begitu nama gadis kelahiran Makassar 21 September 1996. Berada di dekatnya, akan tercium aroma wangi dan wajah berseri-seri. Rambutnya tergerai di atas pinggang dengan poni miring. Pendek kata, jauh dari kesan maskulin.

Selama periode 2016-2017, mahasiswi Universitas Islam Kadiri (UNISKA) ini bergerilya di lima kabupaten/kota. Ada 10 Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), yang dia ayomi. Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek, dan Jombang; adalah area tempatnya berjuang.

Menjadi koordinaor jaringan mahasiswa bukan hal mudah. Selain harus mengerti dan memahami ketrampilan jurnalisik, juga harus mampu kritis terhadap keadaan. Belum lagi tanggungjawab sebagai mahasiswa yang harus selesai tepat waktu.

“Saya menikmati semua tugas ini, sebagai proses untuk melihat dunia pers yang lebih luas,” kata Isvita, Senin, 16 Januari 2017.

Dalam sejarah PPMI Dewan Kota Tulungagung, Isvita adalah perempuan pertama yang menjadi juru mudi. Sebelumnya, posisinya ditempati oleh kaum adam. Di LPM Independen, tempat Isvita beraktifitas di kampusnya, ia juga memimpin banyak kaum perempuan.

Kongres Nasional PPMI ke 13 di Yogyakarta.

Kongres Nasional PPMI ke 13 di Yogyakarta. (Dok. PPMI)

Menjadi aktivis Pers mahasiswa adalah pengorbanan yang cukup berat. Dia meninggalkan hobi menyanyi dan berpisah dengan bandnya yang sudah berjalan dua tahun. Selain itu dia juga meninggalkan dunia model. Memasuki dunia Pers Mahasiswa merupakan penebus karena ketika SMA dia ditolak masuk dalam ektrakurikuler jurnalistik di sekolahnya. “Itu gara-gara saya nggak punya laptop,” kata gadis yang juga menjadi guru les.

Sembari terus belajar jurnalistik, Isvita juga harus menjalani hari-harinya sebagai orang yang berbeda dari aktivis lainya. Dia tidak minum teh dan kopi. “Ini adalah bagian dari ketaatan sebagai seorang Kristen Advent,” ungkap Isvita.

Isvita bisa menentukan hidupnya menjadi penyanyi atau model yang pernah digelutinya. Namun ia lebih memilih menjadi seorang aktivis pers mahasiswa yang banyak berhubungan dengan hal-hal kemanusiaan dan perjuangan. (Muhammad Fahmi Idris)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.