Pengusaha Cantik Hobby Memelihara Luwak

1

Beberapa waktu lalu kita heboh dengan pemberitaan penjual jamu gendong cantik di Jakarta, tukang tambal ban cantik di Malang, atau polisi wanita cantik yang menjadi idola lelaki di dunia maya Briptu Eka. Nah kalau di Kediri, Jawa Timur ada pengusaha cantik yang hobby-nya memelihara luwak.

Nama Hj Yekti Murih Wiyati (39) mungkin sudah tidak asing bagi Anda karena Ia aktif di dunia maya terutama Facebook. Daftar pertemanan di akun media sosial Facebook-nya mencapai 2.634, itu pun masih ada 1157 orang yang masih menunggu approval untuk menjadi temannya.

Namun jangan salah, dibalik paras ayu perempuan berhijab itu memelihara sekitar 60 ekor luwak. Mereka ditampung dalam kandang-kandang kayu berdinding kawat di rumahnya yang asri di di Desa Pranggang, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri.

“Pekerjaan saya yang sebenarnya ya auditor hotel mas, kalau usaha kopi luwak hanya hobby saja hehehe,” begitu candanya suatu ketika dalam sambungan telepon. Entah guyon atau serius, kalau disebut hobby rasanya terlalu kecil karena faktanya rumahnya tak pernah sepi dari kunjungan turis asing.

European tourists visiting to the cage of civet.Saat ini, halaman rumahnya yang luas bahkan sudah dibangun mini kafe sekaligus kantor pemasaran kopi luwak. Sejumlah tenda dengan meja kursi portabel disediakan bagi para tamu yang ingin menikmati secangkir kopi sekaligus menikmati udara segar pedesaan.

Dibawah bendera CV Ivander Bintang Kastara, Hj Yekti mengibarkan merk “LUWAKMAS” untuk memasarkan kopi luwak produksinya baik berupa biji atau bubuk dalam kemasan. Tak berhenti disitu, Ia juga mendirikan wisma dan resto dengan nama yang sama di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, letaknya di jalan raya menuju Gunung Kelud.

Foto: Arief Priyono

Foto: Arief Priyono

Setiap akhir pekan, jika Ia sedang tidak berada di luar kota untuk menjalankan pekerjaan sebagai auditor hotel, Hj Yekti berusaha menyambut sendiri tamu-tamunya. Berbagai rombongan turis asing yang diangkut bus-bus operator tour and travel singgah di rumah Hj Yekti untuk melihat langsung penangkaran luwak sekaligus mencicipi kopi “LUWAKMAS”. Kebanyakan berasal dari Eropa seperti Jerman, Belanda dan Inggris. Tak sedikit pula yang berasal dari kawasan Asia seperti China dan Jepang.

Tak hanya melihat kandang-kandang luwak, wisatawan juga diajak untuk melihat proses produksi mulai dari memberi makan luwak dengan buah kopi segar, pengambilan feses luwak yang masih dalam bentuk kepalan biji kopi, pembersihan dan penjemuran feses, proses penyangraian dan penggilingan biji  hingga siap diseduh dalam secangkir kopi.

“Kalau turis dari Eropa kebanyakan hanya menikmati kopi di tempat, ada yang membeli kopi kemasan tapi sedikit. Beda dengan turis dari Asia semacam China dan Jepang, mereka biasa membeli banyak untuk oleh-oleh,” ungkap Hj Yekti.

European tourists visiting to the cage of civet.

Foto: Arief Priyono

Untuk menikmati secangkir kopi luwak, wisatawan harus meroboh kocek Rp 30.000 per cangkir. Sementara untuk membeli kopi luwak bubuk dalam kemasan stoples dikenakan harga Rp 185.000 per 100 gram, kopi luwak lanang Rp 200.000 per 100 gram, luwak white coffee sachet Rp 160.000, luwak lanang sachet Rp 225.000, dan berbagai ukuran kemasan lainnya.

Tidak semua hewan luwak bisa dipelihara atau ditangkarkan untuk menghasilkan biji kopi berkualitas. Hj Yekti hanya memelihara luwak pandan. Jenis luwak pandan ini dipercaya tidak berbau apek seperti jenis luwak lainnya. Dalam setahun, “LUWAKMAS” bisa memproduksi satu ton kopi luwak. Kopi produksi “LUWAKMAS” selain dijual kepada turis juga diekspor ke bebarapa negara di Asia dan Eropa. Hj Yekti mengaku perusahaannya kewalahan untuk memenuhi permintaan pasar ekspor, karena untuk pasar lokal saja masih belum tergarap semua, jadi masih ada peluang untuk mengembangkan distribusi.

Foto: Arief Priyono

Foto: Arief Priyono

“Masa produksi kopi hanya delapan bulan (April – November), itu sesuai dengan masa panen kopi di wilayah ini, sementara kebun kopi yang kami miliki masih terbatas,” jelasnya. “LUWAKMAS” berencana memperluas areal kebun kopi Arabica yang mereka kelola, dengan cara menambah petani plasma yang selama ini menjadi binaan “LUWAKMAS”. Tentunya jika areal kebun kopi bertambah luas, hewan luwak sebagai mesin produksi kopi alami ini juga harus bertambah. “Sekarang susah mencari luwak jenis pandan di pasar hewan, saya harus memesannya jauh-jauh hari kepada pedagang hewan langganan,” katanya. (Arief Priyono)

Pemesanan :

Jl. Ngrangkah Sepawon No. 99 Pranggang – Plosoklaten – Kediri 64175

Telp .081252128803 / 085645227500

Email: yektiswiyono@gmail.com

 

 

 

 

Bagikan

Komentar Anda

komentar

1 Comment

Leave A Reply