Murid kelas XII Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) Plandaan, Kabupaten Jombang, melangsungkan ujian praktik. Salah satu materi wajib yang diujikan berbeda dari sekolah pada umumnya. Siswa diwajibkan untuk mementaskan seni pertunjukan, yang bisa menjadi sebuah tontonan dan tuntunan bagi khalayak.

Ada empat kelas yang mengikuti ujian praktik ini, yakni kelas XII IPS 1 dan 2, kelas XII IPA 1 dan 2. Ujian praktik dimulai sejak hari Kamis, 15 Februari hingga Selasa, 22 Februari 2018. Masing-masing kelas tersebut diwajibkan mementaskan sebuah drama. Baik drama tari tradisi maupun kontemporer. Beberapa naskah drama yang diusung adalah Roro Jonggrang, Anoman Obong, Anjasmoro Nandang bronto, dan Emansipasi wanita.

Mengorek keterangan dari Puput, guru seni dan budaya di SMAN Plandaan Jombang, selain menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah, para siswa kelas XII memang sengaja diwajibkan mementaskan drama, terutama drama tari. Lewat pementasan yang mereka mainkan, dia berharap anak-anak lebih berkarakter serta lebih mencintai budaya asli bangsa.

“Pelajaran seni dan budaya ini jangan berhenti pada teori dan wacana saja,” terang Puput, Kamis, 22 Februari 2018.

Dalam menyongsong ujian Praktik Seni Budaya tersebut, para siswa kelas XII sudah digembleng sejak memasuki semester awal. Seperti yang dituturkan Ericka, salah seorang siswa yang mengikuti ujian praktik. Pada tahap persiapan sebelum ujian, dia dan beberapa teman satu kelas, memperdalam seni drama pada salah satu ekstra kulikuler teater di sekolah. Demi totalitasnya dalam menyuguhkan pementasan, dana pengadaan properti dan penyewaan kostum diperoleh dari iuran teman satu kelas.

“Persiapan saya dan teman-teman untuk menempuh ujian praktik ini sudah maksimal, semoga bisa menampilkan yang terbaik,” ungkapnya di sela-sela acara.

Gamelan juga dimainkan sendiri oleh para murid. (Foto: Panitia)

Meski hanya di tingkat SMA, ujian praktik ini tidak main-main dalam penggarapannya. Dari proses maupun pembiayaan dilakukan secara serius. Keutuhan dalam tata panggung, musik, keaktoran, kostum, dan kekompakan dalam tim menjadi sebuah sajian yang lebih dari sekedar ujian sekolah.

Keseriusan dalam penggarapan drama tersebut dibenarkan oleh Riska, salah satu tim penilai dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA). “Wah, saya benar-benar sangat kagum dengan mereka. Tugas akhir yang pernah saya lakukan tempo hari masih kalah jauh dengan yang mereka lakukan,” ungkap Riska, mahasiswi yang kuliah di Jurusan Sendratari ini.

Meskipun demikian, awal mula menggagas dan memberlakukan Ujian Praktik Seni Budaya ini tidak semulus seperti sekarang. Pasalnya, dulu pihak sekolah belum mempunyai fasilitas peralatan berupa satu set gamelan. Pihak sekolah harus berjuang untuk mengupayakan pengadaan alat-alat seni, agar ide ini bisa diterapkan. Hingga akhirnya, gagasan pengadaan alat tersebut disetujui oleh instansi terkait, dan ujian praktik seni budaya mulai dijalankan.

“Dalam Ujian Praktik Seni Budaya ini, selain untuk memperoleh nilai kelulusan, harapannya agar mereka bisa menjadi penerus serta pelestari budaya bangsa ditengah semakin pudarnya budaya lokal dan semakin maraknya serangan budaya asing,” pungkas Puput.

Netizen: Supri (Aktivis Komunitas Sastra Pare)

Editor: Fatikhin

Bagikan
  • 57
    Shares

Komentar Anda