Ngabuburit di Batas Kelud

0

Anak-anak kampung Inggris ini ngabuburit – menunggu waktu berbuka puasa- hingga batas zona larangan wisata Kelud. Sebuah taddabur alam, merasakan kebesaran Tuhan, pada pemandangan yang tersisa dari letusan Kelud 2014.

“Melihat pemandangan ini saya cuma bisa bilang Subhanallah,” kata Aulia. Pemuda asal Jakarta ini takjub melihat panorama Kelud dari tepi Gunung Gajah Mungkur, puncak Kelud yang terletak di barat. Dari hamparan pasir dan batu yang membentang, dia seolah diajak berpikir tentang kebesaran Tuhan.

Dari parkir di jembatan gantung, pengunjung Kelud harus berjalan sekitar 1,5 km menuju batas akhir wisata. (foto: Danu Sukendro)

Dari parkir di jembatan gantung, pengunjung Kelud harus berjalan sekitar 1,5 km menuju batas akhir wisata. (foto: Danu Sukendro)

Aulia bersama tiga rekannya yang kursus di Kampung Inggris Pare memang berniat ngabuburit ke Kelud, Minggu (21/06/2015), hari ke empat puasa. Dan, ngabuburit di Lereng Kelud butuh energi. Sebabnya, motor hanya bisa sampai jembatan gantung. Jika ingin melanjutkan ke batas Kelud, harus berjalan kaki 1,5 km. Jalannya juga menanjak. Sebuah perjuangan tersendiri, khususnya bagi mereka yang berpuasa.

Namun, perjuangan itu berbanding lurus dengan hasil yang didapat. Di batas akhir zona wisata Kelud, mereka bisa menyaksikan pemandangan Kelud. Hamparan gunung Gajah Mungkur dan Sumbing yang mengelilingi kawah Kelud. Sementara puncak Kelud menyembul di balik Gajah Mungkur.

Ke arah barat, hamparan jalur lahar membentang bak lukisan. Deretan bangunan di perkotaan bisa tergenggam dalam sekepal tangan. Selebihnya adalah langit dipenuhi iring-iringan awan. Angin sangat kencang.

Selama ini Aulia hanya mendengar Kelud dari media. Utamanya, saat letusan Kelud. Saat kursus Bahasa Inggris di Pare, dia berkesempatan jalan-jalan ke Kelud. Walhasil, Aulia bisa menyaksikan pemandangan langsung eksotis sisa letusan. “Keren, pemandangannya keren,” paparnya.

Kesan yang kurang lebih sama juga diungkapkan rekan Aulia lainnya. “Jalan kaki ke sini capek juga, apalagi pas bulan puasa. Tapi melihat pemandangan ini wah capeknya jadi hilang. Tempat ngabuburit yang asyik. Nggak terasa, ntar tiba-tiba buka,” ungkap Wira, asal Baubau Sulawesi Tenggara, sembari terbahak.

Wira, Aulia dan dua rekannya berfoto-foto di depan pagar kawat berduri larangan menuju kawah Kelud.  Mereka terlihat riang, meski masih menyimpan penasaran: menyaksikan kawah Kelud.

Di awal Ramadhan, tingkat kunjungan ke wisata Kelud menurun drastis. Penurunannya bisa mencapai 70 persen.  “Kalau minggu atau tanggal merah, siang jam segini sudah 1000 pengunjung, ini baru 300-400 pengunjung. Mungkin pengunjung utamanya yang muslim masih fokus untuk ibadah,” kata Gunawan, pengelola wisata Kelud. (danu sukendro)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Leave A Reply