Napak Tilas Jalan Daendels Lamongan

0

Secara geografis, Kabupaten Lamongan masuk dalam kawasan jalur Pantai Utara (Pantura). Bentangan pada jalur pesisir utara Jawa ini lebih kurang mencapai seribu Kilometer. Dari pucuk barat hingga ujung timur pulau Jawa. Dimulai dari Anyer, Serang, Banten hingga Panarukan, Situbondo, Jawa Timur.

Lintasan bersejarah tersebut dibangun dengan cara kerja paksa, pada era Hindia Belanda dipimpin oleh seorang Gubernur Belanda yang terkenal kejam, Herman Willem Daendels, tahun 1808 hingga 1811. Di telinga masyarakat Indonesia, jalur itu kini lebih familiar dengan sebutan Jalan Daendels.

Seperti halnya warga Kabupaten Lamongan. Walau puluhan tahun lalu Indonesia telah lepas dari kungkungan kolonialisme Belanda, nama serta sejarah kelam kehadiran Gubernur Hindia Belanda ke tiga puluh enam ini, sangat melekat di benak masyarakat Lamongan.

Lebih-lebih diabadikan dalam bentuk nama ruas jalan. Bisa kita lihat ketika melintasi area Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Pada kiri-kanan marga, papan nama toko kelontong, sekolah, hingga instansi pemerintahan terpampang nama Gubernur yang memerintah selama tiga tahun itu.

Papan nama salah satu instansi sekolah di Lamongan tercantum nama Deandels. (Foto: Muhammad Fahmi Idris)

Tidak semua kota yang dilintasi jalur perdagangan peninggalan Daendels menamakan jalan tersebut seperti yang diterapkan Kabupaten Lamongan. Kota Bandung misalnya, Jalan Daendels di sana kini berganti nama menjadi Jalan Asia Afrika.

Mulanya laluan itu bernama Jalan Raya Pos atau dalam bahasa Belanda disebut Grote Postweg. Daendels ingin mengintegrasikan kepentingan dagang, industri, pertahanan dan administrasi pemerintahan sekaligus dengan memanfaatkan transportasi darat, yang menghubungkan wilayah di pesisir utara.

Dalam buku “Jalan Raya Pos, Jalan Raya Daendels”, Pramoedya Ananta Toer menuang kesaksian peristiwa genosida paling mengerikan di balik pembangunan Jalan Raya Pos. Ribuan warga pribumi di tiap daerah dipaksa untuk kerja rodi membangun jalan tersebut.

Rumah Sakit di Jalan Daendels Kabupaten Lamongan. (Foto: Muhammad Fahmi Idris)

Tak luput juga kala itu, warga Kabupaten Lamongan. “Menurut cerita, dulu Jalan Daendles ini dibangun oleh warga Paciran, akan tetapi banyak juga warga dari daerah lain yang ikut,” kata Makhid, Sekretaris Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Senin, 10 Juli 2017.

Belakangan Jalan Daendels merupakan rute transportasi darat yang sangat strategis. Dibalik kelamnya kolonialisme Belanda, jalan ini adalah poros utama jika ingin menuju ke kawasan wisata di kabupaten Lamongan. Sebut saja Wisata Bahari Lamongan (WBL), Goa Maharani, Pantai Lorena, Makam Maulana Ishaq atau Makam Ayah Sunan Giri.

Selain itu, Jalan Daendles mempermudah akses ke Kabupaten Tuban dan Kabupaten Gresik. Tak heran, lajur utama yang berada di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan ini, jarang sunyi oleh bisingnya ribuan kendaraan bermesin yang setiap hari melintas. Makhid menambahkan, jalan yang juga dekat dengan beberapa destinasi wisata itu bagi warga sekitar cukup strategis sebagai lokasi usaha. Bila kita melintasi jalan Daendels, akan banyak menjumpai jejer-jejer lapak pedagang kaki lima. Mulai dari sekadar menawarkan jajanan pasar sampai oleh-oleh khas Lamongan. (Kholisul Fatikhin)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.