Mengubah Titian Bambu Menjadi Jembatan Baja

0

Dampak erupsi tahun 2014 bagi masyarakat lereng Gunung Kelud cukup terasa. Salah satunya adalah terputusnya jalur penghubung wilayah Kabupaten Kediri dan Malang yang berada di lintasan terdekat gunung berketinggian 1.731 meter diatas permukaaan laut (mdpl) itu.

(Foto : Nakula)

(Foto : Nakula)

Selama ini lalu lintas masyarakat dua kabupaten itu dihubungkan oleh jembatan bambu. Sayangnya tiap terjadi banjir lahar dingin jembatan itu putus. Seperti yang terjadi di jembatan penghubung Desa Bayem (Malang) dan Desa Siman (Kediri). Dengan lebar sekitar dua meter yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, masyarakat harus berhati-hati dalam melintas.

Beberapa kali warga terpaksa mengganti bambu yang sudah rapuh dan tetap saja mengalami kerusakan akibat tidak kuat menahan arus Sungai Konto ketika turun hujan lebat. Pondasinya pun juga dibuat seadanya, terbuat dari tong yang dicor dengan semen sehingga membahayakan warga yang melintas.

Jembatan bambu yang dibuat secara swadaya oleh warga sekitar itu sekarang digantikan oleh jembatan baru. Paskaletusan tahun 2014, PT Gudang Garam Tbk. membangun jembatan yang tepatnya berada di Desa Siman Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri dan Desa Bayem Kecamatan Kasembon Kabupaten Malang.

Pembangunan infrastruktur ini adalah rangkaian kegiatan “Peduli Kelud”, yang merupakan salah satu program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Gudang Garam Tbk. yang dibangun dalam waktu kurang lebih lima bulan. Menandai beroperasinya jembatan itu, dilakukan peresmian yang dilaksanakan pada Kamis 31 Maret 2016 di Kantor Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri. Peresmian dilakukan oleh Bupati Kediri Haryanti Sutrisno yang kemudian dilanjutkan dengan meninjau langsung jembatan tersebut.

“Program ini merupakan wujud pelaksanaan Catur Darma Perusahaan, salah satunya yaitu memperjuangkan kehidupan yang bermakna dan berfaedah bagi masyarakat luas,” kata Iwhan Tricahyono, Kepala Hubungan Masyarakat PT Gudang Garam Tbk.

Keberadaan jembatan baru ini cukup membantu akses masyarakat khususnya dalam hal pendidikan, perekonomian dan pertanian. Jembatan dengan panjang 48 meter dan lebar 3,6 meter ini juga bisa dijadikan jalur alternatif ketika terjadi kemacetan di perempatan pasar Kandangan.

Pemantau Daerah Aliran Sungai Konto Diperbatasan Kediri-Malang (Foto : DUM)

Pemantau Daerah Aliran Sungai Konto Diperbatasan Kediri-Malang (Foto : DUM)

Untuk menjaga kelestarian jembatan ini, tonase kendaraan yang lewat maksimal berbobot 5 ton. Kendaraan roda empat berpenumpang diperkenankan lewat karena tonasenya berada di bawah batas maksimal. “truk- truk pasir yang setiap hari lewat di kawasan ini tidak boleh melintas jembatan baru karena tonasenya lebih dari 5 ton,“ kata Slamet, warga Desa Bayem yang setiap hari menjaga jembatan sejak masih berupa bambu.

Menurut lelaki yang dulunya berprofesi sebagai pekerja proyek itu, aliran sungai Konto setiap hari menggelontorkan jutaan kubik pasir. Salah satu titik yang menjadi tambang utama pengambilan pasir berada di dekat prasasti Harinjing di Desa Siman Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri. Prasasti ini memiliki arti penting dalam sejarah Kediri karena merupakan prasasti tertua yang menunjukkan adanya hubungan penguasa dan masyarakat. Hal itu yang mendasari angka tahun yang tertulis dalam prasasti yang kemudian dipakai sebagai penada hari jadi Kabupaten Kediri.

Dari pantauan kediripedia.com setiap menit truk bermuatan pasir keluar dari area penambangan pasir sungai Konto. Pasir itu dibawa ke berbagai kota diluar Kediri. (Nakula)

(Foto : Nakula)

(Foto : Nakula)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.