Mengenal Mister Kalend, Pendiri Kampung Inggris

1

Mendengar nama Mr. Kalend pertama kali, bayangan saya adalah lelaki berbadan tinggi besar. Maklum, dengan penyebutan “mister” yang mengawali namanya, sudah tentu asosiasi di kepala menganggap-nya sebagai “bule”, minimal masih keturunan-nya. Namun ternyata semuanya salah besar, Mr. Kalend adalah pria paruh baya dengan postur tubuh kebanyakan orang Indonesia, boleh dibilang agak pendek. Penampilannya sederhana, orang yang bertemu pertama kali pasti tidak akan menyangka dialah perintis kampung inggris di Pare, Kediri hingga se-terkenal sekarang.

Nama lengkapnya Kalend Osen, lahir pada 4 Pebruari 1945 di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. “Waktu SD banyak yang iseng mengganti huruf terakhir Kalend diganti dengan “g”, jadinya dibaca Kaleng,” katanya terbahak-bahak saat di kelas. Kebetulan, sekitar tahun 2005 saya sempat mengenyam kursus bahasa inggris dibawah bimbingan langsung Mr. Kalend.

Awalnya, ia belajar di Pondok Gontor – Ponorogo. Namun pada medio 1970-an ia terpaksa meninggalkan kehidupan santrinya di Pondok Gontor karena kekurangan biaya. Atas saran seorang teman, ia hijrah ke Pare untuk belajar ilmu agama pada Ustad Yazid, seorang kiai kharismatik pengasuh Pesantren Darul Falah, Desa Singgahan, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Konon Ustadz Yazid menguasai tak kurang dari 18 bahasa asing. Pada kiai inilah, Kalend pada masa itu selain memperdalam agama islam, sekaligus belajar berbagai bahasa asing. Tak sampai berlama-lama, Kalend muda sudah lihai dalam berbahasa inggris.

Lalu bagaimana Kalend merintis kampung inggris Pare hingga se-terkenal sekarang. Awalnya adalah sebuah kejadian tak sengaja, saat sejumlah mahasiswa IAIN Sunan Ampel – Surabaya belajar bahasa inggris di Pesantren Darul Falah. Karena Ustad Yazid berhalangan memberi kursus, maka Kalend muda lah yang ditunjuk untuk menggantikannya. Tak disangka, para mahasiswa tersebut puas dengan cara pengajaran Kalend. Dari mulut ke mulut, lantas banyak mahasiswa lain mengikuti jejak seniornya dengan belajar bahasa inggris pada Kalend.

Foto: Arief Priyono

Foto: Arief Priyono

Karena semakin banyak peminatnya, maka Kalend mendirikan sebuah lembaga kursus bahasa inggris yang diberi nama Basic English Course (BEC) sebagai cikal bakal kampung inggris Pare. Lokasinya, tak jauh dari Pesantren Darul Falah. “Saya menamainya Basic English Course yang artinya kursus dasar bahasa inggris. Kalau lulusannya mendapatkan ilmu lebih atau setingkat advance ya Alhamdulillah. Kalau yang didapat sedikit, ya maklum. Namanya juga pelajaran dasar,” Kalend menjelaskan filosofi penamaan lembaga kursusnya dalam sebuah perbincangan dalam kelas.

Hingga dewasa ini, kampung inggris tumbuh begitu pesat sejak BEC mulai dirintis dan sekarang tumbuh sebagai lembaga kursus paling diminati di Pare. Tercatat, 75 lembaga kursus lain resmi berdiri untuk menampung calon siswa kursus yang tidak tertampung di BEC. Banyak juga lembaga-lembaga non formal atau belum terdaftar resmi yang mencapai sekitar 200 lembaga kursus. Setiap bulan, belasan ribu peserta kursus memadati kampung inggris Pare.

Namun kesuksesan tidak merubah gaya hidup Mr. Kalend, ia tetap pria sederhana baik penampilan dan gaya hidupnya. Ia memilih tidak membeli mobil, kemana-mana ia cukup mengayuh sepeda angin tua-nya. Ia bahkan tidak memiliki handphone.

Sampai sekarang, ia masih aktif mengajar. Bahkan, setidaknya setahun empat kali Mr. Kalend masih mendampingi murid-muridnya ke Candi Borobudur untuk mempraktekkan bahasa asing yang mereka dapat dengan bercakap-cakap dengan turis-turis mancanegara. (Arief Priyono)

 

 

Bagikan

Komentar Anda

komentar

1 Comment

Leave A Reply