Mendaki Kelud Lewat Punggung Naga

0

Gunung Kelud tampaknya sudah rindu oleh jejak kaki lusuh saya. Setelah mengalami erupsi yang dahsyat pada tahun 2014 lalu, kabarnya Kelud jadi lebih eksotis. Hal itu yang menggugah saya dan beberapa teman, mendaki gunung yang masih aktif ini.

Mengisi liburan akhir semester kuliah, pendakian ke Gunung Kelud  kami lakukan via jalur pendakian Tulungrejo, Blitar pada Senin, 24 Juli 2017. Kami beranggotakan lima orang, yaitu saya Humaniko Silangit, Muhammad Afnan, Yunus Zakaria, Amel, dan Iqbal. Memulai perjalanan dari Kota Kediri pukul 11.00 WIB, kemudian tiba di Kabupaten Blitar pukul 12.15 WIB. Untuk mendaki Kelud melalui Kabupaten Blitar, pertama kita dapat mengambil arah ke Kecamatan Wlingi, lalu menuju ke Desa Tulungrejo, selanjutnya kita akan menemui Basecamp Pendakian Gunung Kelud.

Sesampai di tempat penitipan motor, kami melakukan pendaftaran untuk mendapatkan Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI). Pendaki ditarik biaya masuk sebesar lima belas ribu per orang. Biaya tersebut sudah termasuk biaya ojek untuk menuju gerbang pendakian.

“Biaya masuknya sangat terjangkau bagi kantong pendaki yang masih mahasiswa,” kata Afnan kepada saya.

Sekitar pukul 14.30 WIB kami mulai melakukan pendakian menuju pos 1.  Untuk sampai ke sana,  pendakian butuh waktu sekitar satu jam. Dari gerbang pendakian kami melewati hutan pinus dengan medan yang masih cukup landai. Setelah itu, jalur menanjak serta hutan lebat kami lalui, hingga sampai ke sebuah gubug yang berfungsi sebagai pos 1 pendakian gunung Kelud.

Setelah berhenti beberapa saat, perjalanan kami  lanjutkan ke pos selanjutnya. Jalur pendakian Gunung Kelud via Tulungrejo ini sangat unik, karena pos 2 tidak ada. Jadi, kami langsung menuju pos 3 melewati medan yang cukup menanjak, dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.

Pos 3 dijadikan para pendaki untuk mendirikan tenda, karena lahannya yang cukup lapang. Kami disuguhi pemandangan khas dari Kelud. Di tempat itu, kami dapat melihat gunung Buthak, Kawi, Panderman, Arjuno, dan Welirang. Sama seperti pendaki yang lain, Pos 3 kami jadikan tempat mendirikan tenda untuk bermalam. Kami harus segera beristirahat sebelum melakukan serangan puncak pada pagi harinya. Angin kencang, membuat suhu di Kelud malam itu cukup dingin.

“Saking kencangnya, tadi malam tenda hampir terbang,” kata Yunus sambil bercanda.

Selasa pagi, 25 Juli 2017, setelah segala persiapan dirasa cukup, kami mulai melanjutkan perjalanan. Agar lebih praktis, kami memutuskan untuk meninggalkan barang  yang sekiranya tidak dibutuhkan di tenda. Untuk melakukan serangan puncak, kami hanya membawa daypack kecil untuk kemudian diisi bekal seperlunya. Misalnya, air dan makanan ringan yang nantinya dapat kita santap, sembari menikmati suasana puncak dan kawah Gunung Kelud. Untuk menuju puncak dan kawah Gunung Kelud, dari pos 3 ditempuh sekitar satu setengah jam.

Jalur dari pos 3 menuju puncak dan kawah sangat istimewa. Di tengah  perjalanan, kami disuguhi pemandangan indah. Salah satunya Punggung Naga yang sudah terkenal di kalangan para pendaki. Punggung Naga merupakan bagian puncak dari Gunung Kelud yang dilalui oleh pendaki untuk menuju batas vegetasi terakhir.

Jalur Punggung Naga di Gunung Kelud.

Setelah melewati punggung naga, Track sedikit curam dan berbatu. Sekitar satu jam berjalan, kami sampai di persimpangan antara jalur menuju puncak dan kawah kelud. Jika ingin menuju ke puncak kelud kita ambil jalur sebelah kiri, jika menuju ke kawah ambil jalur ke kanan.

Kami memutuskan untuk melihat kawah terlebih dahulu.Sepintas kawah Gunung Kelud ini mirip dengan Puncak Gunung Rinjani. Gunung di Lombok yang juga ingin kami daki. Setelah cukup mengambil foto, kami langsung melanjutkan menuju puncak kelud dengan ketinggian 1731 Mdpl, dari kawah menuju puncak Kelud mungkin hanya dibutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Di puncak kelud, kami hanya menghabiskan waktu sebentar. Setelah puas menikmati keindahannya, kami langsung beranjak kembali ke tenda, merapikan kembali barang-barang kemudian bersiap untuk turun. Di perjalanan pulang, saya sempat bergumam mengucap syukur. Kawah gunung kelud itu, sempat tertutup oleh kubah lava akibat erupsi tahun 2007. Setelah terjadi erupsi pada tahun 2014 yang lalu, membuat kawah yang sempat hilang selama tujuh tahun, kini dapat dinikmati kembali.

Netizen: Humaniko Silangit, Kepala Unit Kegiatan Taruna (UKT) Dirgantara Pecinta Alam (DIRGAPALA), Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan (STTKD) Yogyakarta 2017

 Editor: Kholisul Fatikhin

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.