Membanggakan, Reva Juara 2 Karate Internasional Banzai Cup di Jerman

0

WAJAH yang cantik. Murah senyum. Suka bercanda. Namun, semuanya berbalik 180 derajat, saat di arena. Balutan seragam dogi karate, membuat sosoknya berwibawa. Raut muka yang menunjukkan kesungguhan. Tak ada keraguan dalam tiap gerakan kata.

Dia, gadis kecil bernama Indira Maureen Rheifa ini berhasil mewujudkan mimpinya bisa berprestasi di kancah internasional. Siswi kelas 5 SD Plus Rahmat Kota Kediri ini meraih juara 2 nomor Kata U – 12 dalam kejuaraan karate Internasional Banzai Cup Open di Berlin, Jerman.

“Saya bangga sekali bisa membawa nama baik sekolah, juga membawa nama baik Indonesia,” kata siswi yang akrab dipanggil Reva ini, sembari tersenyum lebar.

Reva terpilih mewakili Indonesia dalam Internasional Banzai Cup setelah meraih juara 1 kata perorangan putri O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional) di Makasar.

Setelah itu, Reva mengikuti training centre di Jakarta pada 22 September – 8 Oktober 2015. Reva banyak mendapatkan pengalaman selama mengikuti TC.

“Pelatihan ketat dan sangat disiplin. Makannnya banyak sayur dan ditakar. Jam 9 harus istirahat. Semua peralatan elektronika dimatikan,” kisah gadis cilik dengan tinggi badan 149 ini.

Meski pelatihannya ketat, Reva tak pernah melupakan ibadah. Dia selalu berdoa dan beribadah. Tak lupa, Reva meminta doa orang tuanya, Denok Eke Wahyuningtyas dan Prasetyo Wibowo. Berdoa dan berusaha merupakan kekuatannya untuk berprestasi.

Ketika menginjakkan kaki di Jerman, pada 9 – 13 Oktober 2015, Reva sempat deg-degan. Ada 36 negara yang berpartisipasi dalam Internasional Banzai Cup. Namun, mentalnya sudah terlatih.

Reva berhasil tergabung dalam pool 2. Dia berhadapan dengan karakteka cilik dari berbagai negara Eropa. Namun, setelah menang melawan empat karateka asal negara Eropa, Reva akhirnya menjadi juara pool 2.
“Karateka asal Jerman yang paling berat. Lebih tinggi. Gerakannya bagus, dan lebih tinggi,” ujarnya.

Dia harus berhadapan dengan juara pool 1, Lala Diah Pitaloka yang sama-sama wakil Indonesia. Ternyata dalam pertandingan final itu, skornya seri. Pada saat itu, ada beberapa faktor di luar hal teknis yang menentukan pemenang.
“Akhirnya saya dinyatakan kalah, karena postur saya kalah tinggi,” tambahnya.

Kendati hanya juara 2, namun Reva merasa bahagia, jerih payahnya menuai hasil maksimal. Dan, Reva bertekad tak berhenti sampai di sini. Dia akan terus berlatih dan berlatih agar bisa memperoleh prestasi yang lebih tinggi. (*)

netizer : Luci Apriliasari, S.TP
editor : KDR

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.