Maestro Wayang Mbah Gandrung dari Kediri

0

Jauh dari ingar bingar perkotaan, Mbah Kandar masih setia mementaskan wayang berusia ratusan tahun. Roh yang merasuki dirinya mengantarkan cerita berbeda di setiap pementasan Wayang Mbah Gandrung.

Bibir Lamidi komat-kamit membaca mantra sesaat sebelum membuka kotak Wayang Mbah Gandrung, di Desa Pagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Tangan laki-laki berusia 62 tahun itu hati-hati mengangkat satu demi satu wayang yang terbungkus kain. Para penonton khusyuk dan diam menunggu keheningan. Asap dupa mengepul, baunya memenuhi ruangan.

Lamidi mengeluarkan wayang pusaka Mbah Gandrung dari kotak. Foto: Arief Priyono

Lamidi mengeluarkan wayang pusaka Mbah Gandrung dari kotak. Foto: Arief Priyono

Setelah semua wayang pusaka yang berjumlah empat diangkat dari kotak, wayang-wayang pendukung yang relatif baru mulai dijejerkan. Lamidi memang satu-satunya orang yang berhak mengeluarkan wayang pusaka dari kotak penyimpanan, Ia merupakan keturunan ke-tujuh dari Ki Demang Proyosono, leluhur yang dipercaya menemukan Wayang Mbah Gandrung pertama kali.

“Sebelum pementasan, saya melakukan ritual untuk menentukan lakon yang akan dimainkan dalang,” kata Lamidi. Biasanya, setelah melakukan ritual Lamidi mengaku mendapat wangsit dari kakek buyutnya Ki Demang Proyosono.

Mbah Kandar memimpin ritual kenduri. Foto: Arief Priyono

Mbah Kandar memimpin ritual kenduri. Foto: Arief Priyono

Tibalah saatnya sang dalang, Mbah Kandar mengambil alih. Semua ritual berawal dari kenduri. Isinya, nasi kepal berjumlah Sembilan, bubur merah dan bubur putih atau jenang sengkala, ingkung ayam, urap-urap, telur rebus dan aneka kuah sayur. Semua yang hadir di ruangan kebagian untuk mencicipi penganan itu.

Mbah Kandar sendiri mengaku tidak pernah belajar mendalang sebelumnya, hingga ia dipercaya menjadi dalang Wayang Mbah Gandrung karena ditinggal mati dalang sebelumnya. “Setelah dalang lama meninggal, saya mendapat wangsit untuk menjadi dalang,” kata Mbah Kandar.

Mbah Kandar memulai pementasan. Foto: Arief Priyono

Mbah Kandar memulai pementasan. Foto: Arief Priyono

Wayang Mbah Gandrung merupakan kesenian langka di Nusantara, usianya diyakini telah mencapai 300 tahun saat pertama kali ditemukan pada abad ke-17. Wayang pipih dari kayu atau biasa disebut “wayang krucil” ini hanya dimainkan setahun sekali di punden (balai) desa setempat.

Selain itu, hanya orang yang memiliki nazar (janji) yang boleh menanggapnya atau mementaskan. Biasanya yang punya nazar mendatangi rumah Lamidi. Jika pementasan harus digelar di rumah sang pemilik nazar, Wayang Mbah Gandrung harus dibawa jalan kaki, tidak boleh menumpang kendaraan. Sejauh apa pun, kotak wayang dan gamelan dipanggul oleh para nayaga menuju tempat pertunjukan. Kadang mereka harus menerabas persawahan, atau perbukitan untuk mempersingkat jarak tempuh. Saat melintasi perkotaan tak jarang mereka dianggap sebagai pengamen, karena justru masyarakat Kediri sendiri masih banyak yang tidak tahu eksistensi Wayang Mbah Gandrung, terutama generasi mudanya.

Para nayaga yang memanggul Wayang Mbah Gandrung melintas di jembatan lama Kota Kediri. Foto: Arief Priyono

Para nayaga yang memanggul Wayang Mbah Gandrung melintas di jembatan lama Kota Kediri. Foto: Arief Priyono

Wayang Mbah Gandrung hanya boleh dipentaskan satu orang dalang. Sejak 1982, Mbah Kandar dipercaya mementaskannya hingga sekarang. Tidak ada proses belajar pedalangan seperti umumnya dalang wayang, penunjukan murni berdasarkan wangsit. Mbah Kandar mengaku, saat pentas ia seperti kemasukan ruh, setiap lakon mengalir dengan sendirinya, dan hampir tidak ada yang sama dalam setiap pementasan. Meskipun begitu, dasar cerita dari lakon-lakon yang dipentaskan berdasar cerita legenda Kerajaan Kediri, Panji Asmorobangun.

Atas dasar itu, Mbah Kandar yang saat ini berusia 81 tahun, pada 2008 mendapatkan anugerah Maestro Seni Tradisi dari Kementerian Pariwisata. (Arief Priyono)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Leave A Reply