Libur Panjang, ke Kampung Inggris Yuk!

0

Dua remaja berjilbab memacu sepedanya di jalanan Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Samar di telinga saya, mereka bercakap dalam bahasa Inggris. Saat itu saya sedang menikmati secangkir kopi di sebuah warung, menengok dari kiri hingga kanan mengikuti laju sepeda mereka, yang ternyata berhenti di sebuah toko buku.

“Lagi liburan panjang mas, lumayan tambah ramai,” kata Mat, pemuda pemilik warung yang lokasinya persis di depan toko buku Asmo John yang berada di sebelah kanan lembaga kursus Basic English Course (BEC). “Kalau mau masuk BEC harus antri mas, pendaftaran tidak boleh diwakilkan,” Mat berusaha menjelaskan prosedur pendaftaran di tempat kursus bahasa inggris legendaris tersebut.

Seorang guru mengaja di salah satu tempat kursus di Pare. (Foto: Arief Priyono)

Seorang guru mengaja di salah satu tempat kursus di Pare. (Foto: Arief Priyono)

Pare telah lama mendapat julukan Kampung Inggris, tepatnya di Desa Pelem dan Tulungrejo. Saya pernah menghabiskan waktu satu tahun di sini sepanjang 2005. Saat itu saya baru semester 5 belajar Ilmu Hukum di sebuah kampus swasta di Malang. Saya terpaksa mengambil cuti satu tahun, untuk belajar bahasa inggris di kampung ini, menuntaskan rasa penasaran tentang sistem pelajarannya yang terkenal. Dan saya tak pernah menyesalinya.

Letak kampung ini mudah dijangkau dari berbagai penjuru kota. Dari pusat kota Kediri, misalnya, hanya

Siswa kursus belajar bahasa inggris sembari lesehan. (Foto: Arief Priyono)

Siswa kursus belajar bahasa inggris sembari lesehan. (Foto: Arief Priyono)

berjarak 24 km arah Timur Laut. Atau jika Anda dari Surabaya, jaraknya sekitar 120 km arah Barat Daya. Itu artinya, dalam tempo kurang dari tiga jam perjalanan darat Anda sudah berada di Kampung Inggris. Hampir semua rumah di sepanjang jalan di Desa Pelem dan Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare telah berubah fungsi. Beberapa di antaranya menjadi tempat kursus bahasa Inggris dengan beraneka ragam paket.

Sebagian lainnya diubah menjadi kos-kosan siswa yang belajar kursus. Tak ketinggalan pula, warung-warung makan dan warnet pun bertebaran untuk melayani ribuan peserta kursus yang berasal dari berbagai penjuru daerah di Indonesia

“Lembaga resmi yang terdaftar mencapai sekitar 75 tempat kursus, sementara menurut data Forum Kampung Bahasa (FKB) data riil lembaga kursus di Pare mencapai 200 lebih,” kata Muhammad Nadlirin, staff pegawai negeri sipil di Disbudpar Kabupaten Kediri.

June 20, 2013 - Kediri, Indonesia. A general view of the classroom porch where locals study English language in the village of Pare.  "English Village" is the nickname for the village of Pare in Kediri, East Java. The village has around 114 English language colleges and institutions, which has led to the whole area becoming a centre of English education in the region. English has permeated the region to an extent that it has become the lingua franca of the area. The low cost of living and easy access by bicycles has turned this remote village into prime destination for Japanese aiming to learn English. Mr. Osen Kalend started the first course called Basic English Course in the region in 1985. Since then, institutes have mushroomed all over the town including some which teach in huts and on porches of residential houses. Peak crowd in "English Village" is the month of July-August, this is a period of long school holidays in Indonesia.

Peserta belajar dalam gubuk bambu beratap rumbia di bawah pohon rindang. (Foto: Arief Priyono)

Para peserta kursus itu pun beragam, perorangan atau berkelompok. Ada mahasiswa yang akan kuliah ke luar negeri. Ada juga pekerja yang ingin melancarkan komunikasinya dalam bahasa Inggris. “Sepanjang bulan Mei 2015, jumlah siswa yang belajar menurut data yang terekam dari 15 lembaga kursus besar di Pare mencapai 15.302 orang,” kata Nadlirin. “Dari jumlah itu, ada 32 orang siswa kursus yang berasal dari mancanegara, mereka dari Libya, Thailand dan Malaysia,” katanya. (Arief Priyono)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Leave A Reply