Kuno Kini Stasiun Kediri

0

Sejarah panjang jalur kereta api di Indonesia dimulai sejak 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele. Pada masanya, kereta api menjadi alat transportasi utama baik untuk kebutuhan logistik atau penumpang. Kereta api melintasi Kediri setelah dibukanya jalur Kediri – Blitar pada medio 1884. Dari sinilah titik pembangunan Stasiun Kediri dimulai.

Stasiun Kediri berdiri di tengah kota, dengan pintu masuk melalui Jalan Doho yang menjadi sentra perdagangan di Kota Kediri. Posisi strategisnya menkonfirmasi bahwa kereta api memang menjadi pilihan transportasi yang paling cepat pada era pesawat terbang belum menjadi alat transportasi massal.

Foto Stasiun Kediri pada masa-masa awal berdiri. Sumber foto: KITLV

Foto Stasiun Kediri pada masa-masa awal berdiri. Sumber foto: KITLV

Sebagai pusat jujugan untuk pergi dan datang, tentunya perkembangan di sekitar kawasan Stasiun Kediri membawa dampak tersendiri bagi masyarakat. Losmen-losmen murah berdiri di gang-gang sempit sekitar Stasiun Kediri, menggantikan sentra konveksi yang dulu terkenal di kawasan ini. “Dahulu sekitar tahun 1970-an daerah sini disebut Chong Wa – Chong Wei, diambil dari nama produsen tekstil. Orang biasa menjemur kain di sepanjang jalan di sekitar stasiun,” kata Kagok Hadi Anto, ketua paguyuban ojek Bocah Stasiun (Bosta) di Stasiun Kota Kediri, Jumat (3 Juli 2015). “Namun lama-lama industri tekstil mati, maklum kawasan ini dulu juga menjadi sentra prostitusi dan judi. Istilahnya daerah hitam lah,” jelas Kagok. Jalan atau gang Chong Wa Chong Wei sekarang berubah nama menjadi Jalan Ade Irma Nasution.

Melihat perkembangan kawasan Stasiun Kediri yang mendapat sorotan negatif dari masyarakat, tak kurang berbagai tokoh besar sekelas Gus Mik ikut melibatkan diri terjun di lingkungan Stasiun Kediri untuk sedikit demi sedikit mengikis stigma sebagai kawasan hitam Kota Kediri. “Cara dakwahnya Gus Mik kalau ada yang berjudi, beliau ikut berjudi. Anehnya, kalau ada Gus Mik pasti semua kalah. Lama kelamaan mereka kapok berjudi karena selalu kalah dari Gus Mik,” kata Nowo Doso Satrio, tokoh pemuda di lingkungan Stasiun Kediri.

Sekarang, seiring perkembangan masyarakat sekitar yang semakin sadar untuk menjaga lingkungannya, stigma hitam kawasan Stasiun Kediri sudah mulai luntur. Embrionya adalah terbentuknya organisasi pemuda Bocah Stasiun, yang membuat program-program bagi anak-anak muda di sekitar stasiun. Jalan Ade Irma Nasution yang dulu menjadi pusat prostitusi sekarang sudah tidak ada transaksi pekerja seks komersial yang mangkal di sekitar gang-gang di sepanjang jalan. “Dulu setiap kamar warga di Jl Ade Irma Nasution tinggal psk-psk yang bisa di booking, transaksi dan pelayanan juga langsung terjadi di kamar-kamar tersebut. Sekarang sudah tidak ada lagi,” kata Nowo Doso Satrio.

Paguyuban Bosta yang awalnya hanya bergerak di bidang kepemudaan dan olahraga, sekarang sudah berkembang menggerakkan ekonomi masyarakat melalui paguyuban ojek dan becak, rental dan carter mobil, dan paguyuban pedagang kaki lima. Berbagai lokakarya yang melibatkan organisasi sosial juga digerakkan untuk menyadarkan masyarakat, bahkan saat ini sudah ada taman baca untuk anak-anak. Mereka juga mulai merintis untuk mewujudkan cita-cita terbentuknya koperasi yang akan menggerakkan umkm di sekitar kawasan Stasiun Kediri. (Arief Priyono)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.