Kuliner Kediri: Nasi Goreng Tiwul Asli Besuki

0

Bau bawang goreng menusuk hidung, harumnya memaksa kami menahan air liur agar tidak menetes atau tertelan. Tangan Umi Niyati (41) masih sibuk dengan wajan dan sutil yang mengorek-ngorek telur yang baru saja dicampurkan dengan bumbu-bumbu. Bedug magrib belum tiba, kami harus bersabar untuk menunggu berbuka puasa.

Adalah ide Romi Perbawa, kawan seperjalanan yang membuat saya bersama Nakula dan Muhammad Al Faris menikmati buka puasa di kawasan wisata Air Terjun Ironggolo, Besuki, Kabupaten Kediri. Romi yang seorang fotografer Surabaya, memang beberapa kali ke Kediri, tentunya Ia mencari hidangan yang istimewa untuk berbuka. “Kalau makan pecel Jalan Dhoho sudah sering, ayo kita cari yang lain,” tantangnya.

Ajakan itu diamini Muhammad Al Faris, pemimpin redaksi Majalah Misykat – Pondok Lirboyo, juga mendapat dukungan sahabat saya Nakula. Jadilah kami ber-empat dalam remang petang menyusuri jalanan menuju Besuki, sebuah desa di lereng Gunung Wilis. Kami memacu kendaraan, setidaknya butuh setengah jam dari Kota Kediri.

Kembali ke aktifitas dapur tadi, Umi Niyati sibuk menyiapkan hidangan kuliner andalannya: nasi goreng Thiwul. Jangan salah membaca menjadi Thiwul Goreng, tapi ini benar-benar nasi goreng dengan bahan baku Thiwul, makanan khas pegunungan dari bahan baku gaplek ketela. Tak ada yang berbeda dengan cara masak nasi goreng biasa. Thiwul yang sudah ditanak digoreng dengan bumbu standar seperti bawang putih, bawang merah, cabai ditambah telor yang sudah diurak-arik dengan minyak goreng atau margarin.

Romi Perbawa (kiri) bersama Muhammad Al Faris (tengah) dan Nakula (kanan). Foto: Arief Priyono

Romi Perbawa (kiri) bersama Muhammad Al Faris (tengah) dan Nakula (kanan). Foto: Arief Priyono

“Tenang saja mas, nanti pas bedug magrib saya jamin sudah matang,” kata Umi Niyati. Selain nasi goreng Thiwul kami juga memesan ikan asin, tumis pakis, tempe goreng juga bakwan jagung sebagai pelengkap. Benar saja, tak sampai setengah jam semua makanan yang kami pesan sudah siap. Umi Niyati dengan cekatan menatanya di atas meja.

Aha, beberapa saat kemudian terdengar adzan magrib. Kami bersiap-siap menikmati hidangan. “Belum mas, itu suara adzan magrib dari channel televisi Surabaya. Tunggu beberapa saat lagi,” cegah Umi Niyati. Kami hampir tertipu, ternyata suara adzan itu berasal dari saluran televisi yang ditempatkan di sebuah kamar di salah satu bagian warung itu.

Namun toh beberapa menit kemudian, bedug magrib untuk wilayah Kediri dan sekitarnya terdengar juga. Kami segera menyerbu hidangan yang sedari tadi menunggu di meja makan. “Hhhmmmm enak, ini baru pertama kali saya makan nasi goreng dari thiwul, ada oseng pakis juga yang tidak bisa saya temukan di kota besar,” kata Romi sambil menikmati makanannya. Sementara Nakula dan Faris tidak berkomentar apa-apa selain dengan lahap menyantap nasi goreng thiwul dan lauk-pauknya.

Oh ya, jika Anda hendak menikmati nasi goreng thiwul ala Besuki, datang saja setiap saat ke kawasan wisata Air Terjun Ironggolo. Di sana ada beberapa warung di areal parkir yang menyediakan menu tersebut. Untuk harga bervariasi, seperti di Warung Giras yang menjadi langganan kami harga sepiring nasi goreng thiwul Rp 7.000,-. Tak hanya itu, ada varian nasi goreng lainnya dengan harga sama yakni nasi goreng Jawa, dan nasi goreng jagung. Untuk lauknya Anda bisa memesan tumis daun pakis, tumis daun manisa, dan tumis daun sintrong yang harganya masing-masing Rp 7.000,- per porsi. Untuk minuman ada wedang uwuh, wedang secang atau kopi luwak alas yang diproduksi oleh luwak liar di lereng Gunung Wilis – Besuki. (Arief Priyono)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.