Kisah Si Bolang ke Sumber Podang

0

Tak sabar rasanya menunggu libur panjang tiba. Setelah kami menghabiskan setahun terakhir belajar di dalam kelas, kini saatnya belajar langsung dari alam. Bukan berarti kami bosan di sekolahan, tapi kami butuh keseimbangan.

Dan biarlah kisah ini kami mulai dari sini. Sebut saja kami Si Bolang, sebuah akronim dari “Bocah Petualang”. Nama ini muncul mungkin karena memang kami bertiga kecanduan menonton acara populer petualangan anak-anak di televisi swasta Trans 7. Kami bocah lelaki dengan usia sepantaran, kebetulan memiliki orang tua yang memiliki hobi yang sama.

Tahun lalu, ya, kami hendak bercerita tentang liburan seru di tahun lalu. Orang tua kami, membuat rencana liburan bersama. Bukan liburan mewah dengan kegiatan wah di tempat yang jauh dari kota kami. Tapi sebuah kemah keluarga, untuk para orang tua, kami bertiga dan tentu saja adik-adik kami. Tak berhenti di tiga keluarga, ternyata ada dua keluarga tambahan kenalan orang tua kami yang semakin memperseru suasana.

Foto: Kholif

Foto: Kholif

Dan akhirnya liburan panjang pun tiba. Kami berlima, dengan mengendarai dua kendaraan meluncur ke Desa Wisata Sumber Podang, Kabupaten Kediri. Ya, tempat ini akhirnya diputuskan sebagai lokasi berkemah kami. Berbagai rencana sudah kami susun, mulai dimana letak dua tenda dome yang kami bawa dari rumah, dan sebuah tenda besar yang kami pinjam dari tempat persewaan alat-alat petualangan.

Sementara kami, Si Bolang, sudah menyusun rencana aksi kami sendiri. Mulai menelusuri sungai kecil di kawasan Sumber Podang, bermain perang-perangan di areal perkebunan jagung, mencari durian yang ternyata waktu itu sedang tidak musim.

Lokasi berkemah kami berada di sebuah petak bekas sawah, yang berada persis di bawah Wow Café, Sumber Podang. Kami tidak menyewa untuk lokasi berkemah tersebut, tapi membayar biaya kebersihan suka rela pada pengelola kafe yang memiliki lahan.

Dua tenda dome berdiri berhadapan di sisi Barat dan Timur, tepat membelakangi tebing dan saluran air. Sementara tenda besar dengan kapasitas 17 orang berada di sisi Selatan menghadap ke Utara. Ada gambar “Bulan Sabit Merah” di tenda warna putih tersebut. “Itu bekas tenda pengungsian di Afganistan,” kata Mas Ari, pengelola persewaan alat-alat outdor yang juga teman dari ayah-ayah kami. Entah benar atau tidak, kami mengira Ia bercanda.

 

Foto Dokumen

Foto: Dokumen

Untuk lima keluarga, dengan kami bertiga dan adik-adik kami rasanya begitu longgar. Kami tidak perlu berhimpitan di dalam tenda. Pembagian tenda sudah di tentukan, perempuan atau ibu-ibu kami dan anak-anak berada dalam tenda besar, sementara ayah-ayah kami menempati dua tenda dome dengan kapasitas empat orang untuk setiap tenda.

Malam harinya, kami beriungan di depan tenda. Api unggun telah menyala menghangatkan suasana. Nah saatnya makan malam tiba. Sejak petang tadi, para ayah kebagian tugas untuk memasak lauk berupa ikan bakar segar. Sementara ibu-ibu menyiapkan nasi dan sayur. Kami berebutan mengambil piring, rasanya sudah tidak sabar. Bau harum dari pengasapan ikan bakar membuat perut kami keroncongan. “Ayo makan yang banyak, besok biar kuat mbolang,” canda salah satu orang tua kami.

Ah rasanya kami sudah kekenyangan. Biasa, mata mulai memberat kalau perut sudah terisi penuh. Kami memutuskan masuk ke dalam tenda usai makan malam, begitu juga ibu-ibu dan adik-adik kami. Hhmmmm, begitu dingin rasanya malam hari di Sumber Podang. Untunglah kami sudah bersiap dengan membawa kantong tidur untuk menghangatkan tubuh. Di luar, ayah-ayah kami masih asik mengobrol.

Sumber-Podang-Kediri-Pedia-9

Foto: Kholif

Pagi yang ditunggu telah tiba. Sudah tak sabar kami keluar tenda. Tiba saatnya untuk merasakan dinginnya air yang mengalir di Sumber Podang. Kami membangunkan ibu dan adik-adik untuk memulai petualangan hari ini. “Tunggu sarapan dulu,” kata salah satu ibu kami. Ah terlalu lama, kami sudah tidak sabar.

Sembari menunggu sarapan siap, kami bermain-main di saluran air pertanian yang berada tepat di bawah arealkami berkemah. Lumayan lah agar mengurangi gundah. Toh, untuk sarapan kali ini tidak membuat makanan berat seperti ikan bakar semalam.

Dan usai sarapan, kami sudah berhamburan ke pematang sawah. Apalagi kalau tidak menuju ke bendungan Sumber Podang. Di atasnya, ada sebuah sungai kecil yang air nya sangat bening sekali, penuh bebatuan. Ini adalah areal kekuasaan kami pagi ini. Bermain prosotan di batu-batu besar, membuat istana pasir, perang air dan kejar-kejaran menjadi menu wajib.

Sesekali kami menyiratkan air ke orang tua kami. Kami tahu mereka belum semua mandi. “Eh jangan ciprat-cipratan, ini basah semua,” teriak salah satu ibu kami. Kami hanya tertawa, tetap melanjutkan permainan.

Sumber-Podang-Kediri-Pedia-7

Foto: Kholif

Tak terasa, tengah hari datang juga. Matahari mulai menyengat tepat di atas kepala. Ah, rasanya begitu singkat. Kami harus segara angkat kaki, meninggalkan tempat seindah ini. Ya, bagi kami bisa bertualang ke desa-desa, sungai, persawahan dan hutan adalah sebuah kemewahan.

Dengan langkah berat, kami melangkah kembali menuju tempat berkemah. Ayah-ayah kami, sudah mulai mengemas barang-barang. Mereka dengan cekatan membongkar tenda-tenda. Kami menunggu, memandang dengan sedih. Ah, seandainya orang tua kami juga ikut libur panjang dari pekerjaan, seperti anak-anak sekolah.

“Sudah mandi dulu semua, liburan panjang tahun depan kita bikin acara seperti ini lagi,” suara salah satu ibu kami menenteramkan suasana hati. Akan ada petualangan bersama lagi, setidaknya setahun lagi. Kami satu per satu menuju kamar mandi, membilas diri. Sambil tetap menyimpan janji, saat liburan panjang tiba, akan kami tagih janji itu.

Begitu kisah liburan seru kami, semoga Anda terhibur untuk membacanya. Syukur-syukur kalau terinspirasi dan melakukan hal yang sama atau lebih seru dari kami .

Netizer:

  • Vian, siswa kelas 2 SDS Pawyatan Daha, Kota Kediri
  • Ara, siswa kelas 2 SD Negeri 8 Ngronggo, Kota Kediri
  • Anda, siswa kelas 2 SDI The Naff, Kota Kediri

Editor: Arief Priyono

 

 

 

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Leave A Reply