Kisah Nyata Santri Lirboyo, Tak Menyerah Karena Keadaan

2

Menderita cacat fisik sejak lahir tidak membuat Imam Syafii menyerah dengan keadaan. Dari tanah Sumatera, ia berburu ilmu ke Tanah Jawa dengan mondok di Pesantren Lirboyo.

Imam Syafii di dalam kamarnya. (foto: Arief Priyono)

Imam Syafii di dalam kamarnya. (foto: Arief Priyono)

 

Mengenakan peci hitam, bersarung dan baju kemeja dengan sajadah tersampir di pundaknya, ia melompat-lompat menyusuri gang di sela-sela kamar santri di Pondok Pesantren Lirboyo – Kota Kediri. Sesekali tangan kanannya yang tumbuh tidak sempurna yang hanya memiliki dua jari seperti japit kepiting meraih tembok untuk menjaga keseimbangan. Ia hanya bertumpu pada satu kaki, karena kaki kirinya buntung hingga pangkal paha. Sementara tangan kirinya kecil dan buntung diatas siku. Tujuannya tidak jauh, ke kantin pesantren untuk makan siang.

Saat pertama kali tiba di Pondok Lirboyo pada 2008 lalu, ia masih berusia 18 tahun. Harusnya dengan usia seperti itu, dalam ukuran pendidikan formal seharusnya sudah memasuki bangku perkuliahan. Namun di Lirboyo, semua diberlakukan sama, tidak memandang usia. Imam Syafii yang ingin memperdalam agama islam harus belajar mulai dari bawah dalam madrasah sekelas Ibtidaiyah (SD-red).

Imam Syafii di dalam ruang kelas. (foto: Arief Priyono)

Imam Syafii di dalam ruang kelas. (foto: Arief Priyono)

“Saya ingin menjadi guru agama di kampung, orang tua saya akan bangga jika saya bisa lulus mondok dari Lirboyo,” katanya suatu ketika saat kami berbincang di dalam kamar, bersama teman-temannya. “Lazimnya orang cacat seperti saya lebih mudah jadi pengemis, saya tidak ingin mencari uang dengan menjadi pengemis,” katanya dengan mata menerawang.

KEDIRI, INDONESIA - Imam Syafii (23) talking with his friend, April 23, 2013.-- Imam Syafii arrived at, Lirboyo Islamic Boarding School, Kediri, East Java in 2008 at age 18. Since birth, a young man from Riau, Sumatra, Indonesia does not have two hands. His left hand was small and the stump above the elbow, his right hand grew half and only had two fingers are not normal like crab tongs. He also only has one leg, his left leg stump to the groin. Imam Syafii not want to use assistive devices such as prosthetic limbs. Everyday he rides a bike without pedaling. He just pushed it with one foot. When not cycling, he was jumping up and down on one foot to move. However, the physical limitations do not make it up. He migrated hundreds of miles to Java to study. "I do not want to be a beggar, because disabled people like me usually easier to be a beggar," he said. His goal is simple, he wanted to be a teacher of Islamic religion at home, is useful for the community and proud his parents.

Ia tidak ingin menjelaskan dengan detail soal dari mana asal usulnya, baginya kondisi fisiknya bukan untuk mencari belas kasihan dari orang lain. Di dalam kelas ia juga berlaku sama seperti rekan-rekan santri lainnya yang normal. Ia tetap menulis dengan tangannya sendiri, meskipun tak jarang ada teman yang merasa kasihan dan dengan suka rela membantu. Baginya, ilmu yang didapatkannya dengan kerja keras akan menjadi berkah untuk kehidupannya kelak. “Kebahagiaan saya adalah membuat orang tua bangga, saya tidak ingin orang tua menyesali keadaan saya. Semua sudah takdir Allah,” katanya. (Arief Priyono)

Artikel terkait:

http://www.kediripedia.com/ngeeeriiiii-santri-lirboyo-main-sepakbola-api/

http://www.zreportage.com/zReportage.html?num=zrep483

 

Bagikan

Komentar Anda

komentar

2 Comments

Leave A Reply