Perjalanan hidup Tan Malaka, salah seorang pahlawan kemerdekaan Republik Indonesia diangkat ke layar lebar. Film dokumenter berjudul Tan Malaka Sang Maha Guru, memotret kehidupan Tan saat menjadi mahasiswa di Rijks Kweekschool, sekolah guru di Haarlem, Belanda. Dibuat oleh Daniel Rudi Haryanto, film ini menjadi sinema panjang pertama yang berkisah tentang kehidupan pendiri republik bernama asli Ibrahim Datuk Tan Malaka.

Pada awal Maret 2018, produksi film itu sudah hampir selesai dan sedang memasuki proses pematangan editing. Rencananya, menjelang peringatan kemerdekaan 17 Agustus 2018, akan dilakukan road show untuk menayangkan karya tersebut ke sejumlah kota di tanah air.

Selama ini nama dan pemikiran Tan Malaka terus bergentayangan di kalangan para akademisi, sejarawan, budayawan, dan para mahasiswa. Mereka mengetahui jejak sejarah Tan lewat buku, novel, dan teater.

“Saya ingin melengkapi sejarah Tan Malaka lewat karya film,” kata lelaki yang akarab disapa Daniel kepada Kediripedia, Selasa 27 Maret 2018.

Pada 7 Maret 2018, Daniel mengirimkan draft kedua short movie film Tan Malaka Sang Maha Guru ke Kediripedia. Dalam film itu terasa sekali Daniel Rudi Haryanto menggunakan cara berbeda untuk memahami Tan. Sebagai sutradara, Daniel mengemas karyanya dengan balutan kekinian. Konsep visual dibuat ringan dan dibagi dalam dua layer, yaitu lewat video log atau vlog dan rekonstruksi peristiwa melalui animasi sketsa handmade.

Sepulang dari pengambilan gambar di Belanda, pada 10 November 2017 lalu, Daniel dan istrinya, Linda Puspitarini berziarah di makam Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Di kompleks pemakaman umum itu, Daniel duduk tafakur di pusara makam Tan Malaka. Di dekat pemakaman itu pula, Tan Malaka menghembuskan nafas terakhirnya di tengah malam buta pada tanggal 21 Februari 1949.

Ide membuat film Tan Malaka sudah mengendap di benak Daniel sejak masih sekolah di bangku SMA. Kesempatan itu terbuka ketika Direktorat Jenderal Kebudayaan mengadakan program Fasilitasi Komunitas Sejarah. Lelaki kelahiran Semarang itu mengajukan proposal pembuatan film Tan Malaka lewat program tersebut dan diterima.

“Nama Tan Malaka jauh lebih besar dibanding Che Guevara, tapi mengapa tidak ada yang pernah membuat film tentang dia,” kata sarjana sinematografi lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu.

Masuk IKJ tahun 1998, Rudi sudah bercita-cita membuat film secara mandiri. Ia mengaku, ada dua orang yang sangat didolakannya, yaitu Soe hok gie dan Tan Malaka. Sejak kecil Daniel menggemari pelajaran sejarah.  Buku-buku tentang Soekarno, Pramoedya Ananta Toer, dan Syahrir, dia lahap di usia remaja.

Latar belakang Daniel menggali sejarah Tan, berawal dari kenangan masa kecil yang tak terbayar. Mengeyam pendidikan di bangku sekolah menengah pertama, ia penasaran pada sosok Tan Malaka yang tak terjelaskan secara lengkap pada uraian-uraian di buku sejarah. Dalam pelajaran sejarah di sekolah, sosok Tan Malaka tidak digambarkan utuh. “Itu benar-benar membuat saya penasaran sekaligus sedih. Kenapa dengan orang ini,” kata Daniel.

Infografis

Film Maha Guru Tan Malaka berkisah tentang petualangan Marco yang diperankan Rolando Oktavio. Marco di dalam film itu digambarkan sebagai pemuda Indonesia yang kuliah di Prancis. Pada suatu malam dingin di kota Paris, Marco berdiam diri di kamarnya sambil fokus membaca buku Tan Malaka. Berlembar-lembar halaman buku yang dia baca membuatnya penasaran kemudian pergi ke Belanda, mencari tahu lebih dalam tentang sosok Tan Malaka.

Jalan cerita di film menampilkan Marco berkunjung ke beberapa tempat yang pernah dikunjungi Tan Malaka selama belajar di Haarlem, Belanda pada tahun 1913-1919. Di antaranya tempat tinggal, ruang kelas di sekolah, dan toko buku langganan Tan Malaka.

“Proses take gambar dan membuka arsip-arsip peninggalan Tan Malaka dilakukan selama satu minggu di kota Haarlem dan Leiden, Belanda,” kata Daniel.

Dalam kunjungan ke situs peninggalan Tan Malaka di Belanda, Marco tidak sendiri. Ia ditemani Harry A. Poeze, sejarawan yang lebih dari lima puluh tahun meneliti pemikiran dan perjalanan hidup Tan Malaka. Nama Poeze tak bisa dilepaskan dari sejarah Tan Malaka, karena dia adalah sejarawan yang mengabdikan diri sepenuhnya untuk menguak semua misteri tentang Tan Malaka. Pada suatu kesempatan berkunjung ke Kediri, Harry A. Poeze pernah mengatakan, bahwa Tan Malaka sudah seperti ayahnya sendiri meskipun dia tak pernah berjumpa secara langsung. “Itulah yang mendasari saya memasukkan Pak Poeze dalam film saya,” kata Daniel.

Dalam salah satu scene, Poeze mengajak Marco ke sebuah tikungan jalan di Haarlem. Lokasi itu adalah tempat favorit Tan Malaka menikmati suasana kota. Poeze juga mengantarkan Marco ke sebuah toko buku tua untuk melihat buku de Fransche Revolutie. Buku karangan Wilhelm Blos itulah yang membuka cakrawala berpikir Tan Malaka tentang kemerdekaan semakin membara.

Buku de Fransche Revolutie diperoleh Tan Malaka dari guru sekolahnya, Gerard Hendrik Horensma. Horensma adalah orang Belanda yang mengagumi kecerdasan Tan Malaka, kemudian mengajak Tan belajar ke Belanda. Dalam catatan sejarah, pada bulan Oktober 1913 Horensma mengajak Tan Malaka menumpang kapal Wilis melewati Terusan Suez menuju Belanda. Lewat analisa data yang dilakukan Kediripedia, nama kapal ini menjadi sebuah kebetulan dalam sejarah hidup Tan, dimana dia menghembuskan nafas terakhirnya di Desa Selopanggung yang merupakan kawasan lereng Gunung Wilis.

Penggalan kisah tersebut juga disertakan di dalam film. Bukan lewat adegan keaktoran, tapi gambaran suasana perjuangan itu akan direkonstruksi melalui sketsa animasi. Sketsa perjalanan Tan Malaka dibuat sendiri oleh Daniel, sang sutradara.

Daniel Rudi Haryanto dan istrinya, Linda Puspitarini, usai berziarah ke makam Tan Malaka. (Foto: Fatikhin)

“Dalam penggarapan film, saya meminjam semangat Tan Malaka. Meskipun dengan dana dan peralatan sederhana, saya terus maju,” ungkap Rudi.

Secara visual, film “Tan Malaka Sang Maha Guru” merupakan gabungan antara vlog Marco dan sketsa animasi. Vlog tersebut berdurasi 40 menit, sedangkan sketsa animasi 33 menit, sehingga total durasi film ini 73 menit. Angka 73 ini menyesuaikan umur kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2018, tanggal yang diambil untuk merilis film itu. (Kholisul Fatikhin/dum)

Bagikan
  • 1
    Share

Komentar Anda