Ketika Laskar ‘Kebo Besi’ Berkumpul di Gua Selomangleng

0

BSA Sloper – 27 itu bak jenderal yang tampak pongah berdiri di atas panggung memimpin barisan serdadu tua – ratusan motor antik di area Wisata Gua Selomangleng, Mojoroto, Kota Kediri, Sabtu, (01/08/2015) siang.

Sesekali terdengar suara menderu memekakkan telinga, ketika sejumlah motor tua melintas, lalu berjajar dalam saf barisan motor antik bertajuk ‘21st anniversary Joyoboyo MAC (Motor Antique Club) Kediri’.

Sang ‘jenderal tua’ BSA S-27 dengan mesin 250 cc ini adalah bikinan tahun 1927 oleh Birmingham Small Arm (BSA), perusahaan pembuat senjata dan amunisi dari Inggris.

Keunikan motor ini diantaranya persneling yang terletak di atas tangki dan lampu yang terbuat dari uap karbit. Pemilik motor BSA ini adalah Suparjo, warga Warujayeng, Nganjuk.

Merakit BSA ini adalah perjuangan panjang Suparjo selama 20 tahun. Mulanya, dia memperoleh mesin motor BSA dari pedagang besi tua bernama Baidlowi, asal Gringging, Kediri, tahun 1993.

Dari nama yang sama, dia membeli gear box. Jika harga mesinnya Rp 1,25 juta, gear box hanya Rp 250 ribu. Tahun-tahun berikutnya, tiap informasi tentang motor BSA ini selalu diikuti Suparjo. Berikutnya, dia memperoleh sasis dari Malang.

Dibantu Heny Rahayu, anak perempuannya yang seorang sarjana teknik, Suparjo berburu informasi dari internet. Walhasil, dia memperoleh berbagai onderdil motor tua ini.

Tahun 2013, perburuan itu berakhir. Onderdil motor sudah lengkap. Bahkan, motor ini bisa dihidupkan dan dikendarai. BSA S-27 itu melengkapi koleksi pemilik jasa bubut berusia 60 tahun ini. Sebelumnya, dia memiliki BSA 1956, Norton 1954 dan Triton.

Kini, sudah ada yang menawar motor BSA S-27 dengan harga, Rp 125 juta. Suparjo enggan menjualnya. Angka penawaran itu, menurut dia, asal-asalan. Menurut seorang pengusaha asal Salatiga, Jawa Tengah yang memiliki BSA tahun 1927, motor itu seharga Rp 200 juta. “Tapi, ini nggak akan saya jual, karena saya masih suka,” ujarnya.

***

Motor-motor antik dari berbagai jenis mejeng. Rata-rata usia motor ini buatan di bawah tahun 1960. (foto: Danu Sukendro)

Motor-motor antik dari berbagai jenis mejeng. Rata-rata usia motor ini buatan di bawah tahun 1960. (foto: Danu Sukendro)

SEDERET motor tua dengan merk ternama di masa lalu tampak dalam jambore motor antik ini. Diantaranya, Harley Davidson, Norton, BSA, AJS, Matcless, Triumph, Indians, Royal Enfield hingga DKW.

Motor buatan di bawah tahun 1960. Rata-rata bikinan Inggris, Belanda dan Jerman. Pabrikannya adalah perusahaan peralatan militer yang mendesain motor ini untuk perang.

Diantara peserta jambore, ada motor mirip motor tua tapi yang dirakit sendiri. Motor ini menarik perhatian peserta jambore. Di tangkinya ada tulisan CNN. “Ini kependekan nama saya, Cak Nono, haha,” kata Cak Nono, sembari terbahak.

Motor made in CNN alias Cak Nono. (foto: Danu Sukendro)

Motor rakitan made in CNN alias Cak Nono. (foto: Danu Sukendro)

Ternyata, motor rakitan Cak Nono ini dari diesel yang sebelumnya digunakan untuk menyedot air di sawah. “Ini bahan bakarnya solar. Saya buat sendiri,” kata Cak Nono bangga. Pria asal Tanggul Jember ini menghidupkan motornya. Suaranya memekakkan telinga. Asap mengepul dari knalpot motor.
Kesenangan akan motor tua ini sesungguhnya rumit. Tapi, di situlah seninya. Sehingga, penyuka motor tua sulit lepas dari hobi ini.

“Sejarah mendapatkannya. Awalnya, biasanya onderdil. Merangkai itu ada seninya, ada biayanya, ada akepedulian. Sehingga waktu sudah jadi motor kami senang,” kata Henggar Herawana, ketua Joyoboyo MAC Kediri.

Acara ini menjadi ajang silaturahmi sesama penggemar motor antik. Penggemar yang membutuhkan spare part juga memanfaatkan acara ini.  “Kami membuatkan lapak khusus untuk yang berjualan onderdil. Motor-motor Ini kan onderdilnya sudah tidak dijual di pasaran umum,” kata pria yang berprofesi sebagai dokter ini.

Joyoboyo MAC Kediri berdiri sejak tahun 1994. Awalnya, menurut Abdurrahman Saleh, salah satu pendirinya, hanya ada 6 personel.”Mentornya Pak Imam Budiana, dari gudang garam. Kemudian, ada Pak Susanto yang punya toko Jawa Timur, Pak Fran guru, Hari kribo, Pak Munif dan saya sendiri,” papar Abdurrahman Saleh.

Awalnya, Abdurrahman memiliki Mosquito, sepeda buatan Italia, tapi ada mesin motor di belakangnya, 38 CC. Beberapa rekannya juga ada yang memiliki BSA dan Norton. Jumlah mereka kemudian berkembang. “Dari semula 6 orang, bertambah jadi 8 orang lalu 12 orang. Akhirnya, kami bikin klub, kami undang seluruh Jawa Timur di kolam renang Kuwak, tahun 1994,” kata pria yang berprofesi sebagai guru ini.

Kini, jumlah penggemar motor tua berkisar 60-70 orang yang berasal dari eks Karesidenan Kediri Raya. Saat ini, 21 tahun sudah Joyoboyo MAC Kediri menjadi bagian dari Motor Antique Club Indonesia (MACI).

“Ini bagian dari melestarikan kebudayaan. Sebagian peninggalan jaman perang. Kalau kami mengutip versi kebudayaan, ini cagar budaya yang dilindungi,” katanya. (Danu Sukendro)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.