Kediri Heritage Trail: Gowes dari Totok Kerot ke Calon Arang

0

Di sudut jalan itu kami membuat janji. “Jam 6.30 pagi ngumpul di pojok Simpang Lima Gumul, arah ke Totok Kerot,” begitu bunyi pesan di grup whatsapp malam sebelumnya. Saya datang lebih dulu pagi itu, memarkir sepeda di tepi jalan dan memilih duduk di trotoar. Minggu, 6 September 2015, jalanan masih lengang.

Sejumlah warga memulai aktifitas akhir pekan dengan jogging melintasi jalur trotoar, mereka menuju ke lokasi Car Free Day di sekitar Pasar Tugu – Gumul. Tak ketinggalan lalu lalang pesepeda. Setengah jam telah berlalu, tibalah dua rekan saya yang akan menemani gowes kali ini.

“Om Imam ijin tidak bisa ikut, harus bersih – bersih sisa sampah acara 17-an semalam,” kata Edy Supriyanto, menyampaikan pesan salah satu rekan kami Imam Nashirudin yang berhalangan hadir. Ia jadi ketua panitia perayaan kemerdekaan RI di kampungnya.

Acara gowes kali ini memang dirancang untuk tidak menyertakan peserta banyak, maklum karena misi-nya lebih ke mapping jalur sepeda. Lebih spesifik jalur sepeda untuk lawatan sejarah, budaya dan purbakala. “Ya kalau bersepeda kan ndak harus cari tanjakan terus om, ini misinya jalan-jalan dan gembira “ kelakar Ahmad Safiudin, rekan termuda di komunitas kami.

Calon-Arang-Totok-Kerot-Jayabaya-1Dari titik kumpul di Gumul, kami melaju ke arah Utara menuju posisi start. Tak sampai 10 menit tibalah kami di situs Arca Totok Kerot. Sebuah patung berukuran besar yang berlokasi di Desa Bulusari, Kecamatan Pagu. Lumrahnya tangan kanan patung seperti ini memegang senjata gada, namun kali ini ia buntung.

Arca Totok Kerot ini adalah salah satu Arca Dwarapala dengan ukuran besar yang masih tersisa dari era Kerajaan Kadiri. Bukan tanpa alasan kami menentukan titik start di lokasi ini, karena menilik bukti sejarah adanya Arca Dwarapala berukuran besar merupakan tanda sebuah pintu gerbang.

“Arca Totok Kerot ini besar kemungkinan adalah arca penjaga pintu gerbang kedaton pada masa Kerajaan Kadiri,” sebut Eko Priatno, arkeolog lulusan Universitas Gajah Mada sekaligus sebagai Kasi Sejarah dan Purbakala di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri.

Belum ada wisatawan sama sekali saat kami tiba di lokasi, sepeda kami parkir di depan gerbang pintu besi yang masih terkunci. Pos penjaga juga masih sepi, menyisakan buku tamu sendirian tergeletak di atas meja. Hanya pemilik warung yang berada di halaman yang sudah bersiap-siap membuka lapaknya. Ia menyapu rontokan daun-daun ranggasan pohon yang mulai kurus diterjang panas musim kemarau.

Kami mengambil foto secukupnya, membaca keterangan singkat tentang Arca Totok Kerot di papan pengumuman yang menegaskannya sebagai situs cagar budaya. Kami sudah hampir menaiki sepeda dan geser ke lokasi selanjutnya saat sebuah rombongan keluarga dengan mengendarai jeep tiba-tiba memasuki halaman.

Calon-Arang-Totok-Kerot-Jayabaya-2Seorang perempuan kemudian turun menggamit lengan dua bocah, sementara sang pria tetap bergeming di belakang kemudi, menunggu di tempat parkir. “Ada tugas dari sekolahan om, disuruh nulis sejarah situs-situs purbakala di Kediri,” jawab Candra, siswa kelas 5 SD Negeri 1 Pesantren. Ia bersama sepupunya, Icha yang masih duduk dibangku kelas 3 SD di Trenggalek. “Ya biar anak-anak tahu tentang asal-usulnya mas, mosok liburan ke mall terus, “ kata Anik, ibunda Candra.

Setelah rombongan Anik dan anak-anaknya pulang, kami memutuskan untuk memulai perjalanan bersepeda kali ini. Tujuan selanjutnya adalah kompleks Pamuksan Sri Aji Jayabaya di Desa Menang, Kecamatan Pagu. Namun kami tidak langsung ke lokasi yang sebenarnya berupa situs yang di-klaim oleh sebuah paguyuban kebatinan yang dipercaya sebagai lokasi terakhir Prabu Sri Aji Jayabaya, sebelum moksa (hilang).

Kami memutar dulu ke Sendang Kamandanu, ini masih berkait dengan situs pamuksan. Bukan berarti mengait-ngaitkan perjalanan kami sebagai ritus mistis, tapi dalam tahapan perjalanan Sri Aji Jayabaya dipercaya bersuci dahulu dengan mandi di Sendang Kamandanu sebelum akhirnya moksa atau melepaskan raganya menuju keabadian nirwana. Setidaknya kami harus meneladani itu, minimal menjejakkan roda sepeda di kawasan Sendang Kamandanu, baru kemudian ke lokasi moksa.

“Wah kapan-kapan anak ku tak ajak ke sini om, wisata sejarah. Soalnya waktu kecil aku ndak pernah diajak main-main ke situs-situs seperti ini,” kata Edy Supriyanto, yang terlahir dari keluarga santri dengan tanda sebuah masjid wakaf yang berdiri bersahaja di halaman rumahnya yang asri.

Calon-Arang-Totok-Kerot-Jayabaya-3Udin – begitu kami memanggil Ahmad Safiudin – sibuk memotret dengan ponselnya, kali ini dia kebagian seksi dokumentasi khusus foto-foto selfie kami. “Nanti kita ke sini lagi om, diacarakan dengan banyak orang, gowes ramai-ramai,” usul Udin.

Di Sendang Kamandanu kami sebenarnya merencanakan untuk sarapan pagi, namun setelah tengok kanan-kiri belum ada warung makan yang sesuai dengan keinginan kami. Jadilah kami harus meninggalkan lokasi ini.

Nah sebelum menuju ke lokasi Pamuksan Jayabaya, kami mampir sejenak ke Pura atau Palinggihan Mpu Baradah yang berada tak jauh dari Sendang Kamandanu. Jangan dibayangkan ini adalah bangunan pura peninggalan Mpu Baradah yang hidup pada masa Raja Airlangga. Namun, pura ini dibangun oleh umat Hindu sebagai tempat sembahyang dengan mengambil spirit Mpu Baradah di lokasi tersebut.

Saat kami tiba, pintu gerbang pura yang dikelilingi tembok ini tertutup rapat. Mungkin kami memang datang terlalu pagi, jadi belum tampak aktivitas sembahyang di pura yang sering dikunjungi umat Hindu asal Bali tersebut. Mpu Baradah memang mempunyai arti tersendiri bagi umat Hindu – Bali karena merupakan adik kandung dari Mpu Kuturan, pendeta negara (kerajaan) yang mendampingi Maharaja Sri Dharma Udayana  Marwadewa.

Mpu Kuturan begitu berpengaruh pada kehidupan masyarakat di Bali karena berhasil menyatukan tiga sekte Hindu di Bali. Ia juga yang merancang keberadaan desa pakraman, sebuah desa adat yang keberadaanya otonom dari wilayah administrasi negara, dengan batas wilayah tertentu dan memiliki “Kahyangan Tiga” atau tiga pura yang sampai sekarang masih diwarisi masyarakat Bali modern.

Calon-Arang-Totok-Kerot-Jayabaya-4Kembali ke Pura Mpu Baradah, kami hanya bisa mengintipnya dari balik pagar. Edy dan Udin berjinjit dengan tatakan pondasi batu pagar untuk melongok ke dalam. Tampaknya mereka sangat penasaran pada bentuk pura yang memang identik dengan bangunan-bangunan khas Bali.

Sudah saatnya kayuhan sepeda kami mesti berlanjut, selain sudah mulai siang, perut kami pun juga semakin keroncongan. Sudah tak ada agenda untuk mencari kuliner-kuliner khas, yang penting sepiring nasi pecel sudah cukup. Pucuk dicinta ulam pun tiba, diperjalanan kami dari Pura Mpu Baradah menuju Pamuksan Sri Aji Jayabaya ada sebuah warung pecel yang lumayan ramai. Kami pun berbelok dan memarkir sepeda ditepian jalan. Sepiring nasi pecel dan segelas kopi lumayan untuk bekal perjalanan yang masih separuh jalan.

Perut sudah tidak keroncongan, cacing-cacing di perut kami mungkin sudah pulas kekenyangan. Kami bertiga meneruskan perjalanan ke Pamuksan Sri Aji Jayabaya. Saat kami tiba, jalanan di depan pintu gerbang pamuksan di siram air oleh juru rawat. Mungkin agar tidak berdebu, maklum puncak musim kemarau selain cuaca sangat panas di siang hari juga debu sisa material vulkanik letusan Gunung Kelud masih beterbangan.

Kami berhenti, dan tidak turun dari sepeda. Sudah cukup rasanya memandang Pamuksan Sri Aji Jayabaya dari luar pagar. Para juru rawat masih sibuk dengan pekerjaannya. Sejak dibangun pertama kali pada 1972 dan diresmikan pada 1976 oleh Yayasan Hondodento – Yogyakarta, kondisi petilasan ini sudah semakin berkembang, baik sebagai situs ritual ataupun wisata.

Pengembangan kompleks Pamuksan Sri Aji Jayabaya di Desa Menang akan berlanjut hingga pembuatan museum yang arealnya mencapai seluas 25 kilometer persegi, keberadaan rumah-rumah warga di sekitar situs pamuksan hingga Sendang Kamandanu sedang dalam tahap negosiasi untuk direlokasi.

Nah, destinasi setelahnya tak kalah seru karena masih terkait dengan peninggalan Kerajaan Kadiri: Situs Calon Arang. Jaraknya lumayan  jauh kalau dijangkau dari Situs Pamuksan Sri Aji Jaya Baya. Tepatnya berada di Dusun Botoh, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah. Setidaknya butuh setengah jam lebih untuk sampai di lokasi dengan kecepatan kayuhan sedang. Lokasinya berjakar sekitar 1 kilometer dari Pasar Gurah.

Jangan harap ada plang tanda berukuran besar untuk memandu Anda menuju lokasi situs Calon Arang, kami harus bertanya pada warga sekitar untuk mendapatkan petunjuk jalan. Maklum, kami bertiga belum ada yang pernah ke lokasi ini.

Intinya kami menngayuh sepeda dari Pasar Gurah ke arah Pare, setelah melewati perempatan Sukorejo, sekitar 500 meter kami menjumpai Balai Desa Kerkep. Kami membelok ke arah kiri, masuk ke jalan desa yang sudah beraspal.

Ternyata ada papan petunjuk di ujung jalan, namun ukurannya memang sangat kecil. Kami mengikuti papan petunjuk arah tersebut hingga memasuki kebun tebu, awalnya kami ragu karena tidak terlihat tanda-tanda sebuah situs purbakala. Kami bertanya pada petani yang kebetulan melintas untuk menjawab keraguan, ternyata memang benar  yang kami lalui adalah jalan setapak diantara rumpun tebu yang kelihatan sudah siap dipanen.

Calon-Arang-Totok-Kerot-Jayabaya-6Di ujung jalan tampak sejumlah pohon menjulang yang dikelilingi oleh pagar bambu, sebuah bangunan semi permanen berdiri dengan atap seng. Dari struktur bambu yang masih kelihatan menguning tampaknya ini bangunan baru, lebih tepat sebuah kanopi untuk berlindung dari sengatan panas matahari.

Seorang pria paruh baya masih sibuk dengan sapu lidi, menggaruk-garuk tanah mengumpulkan serakan sampah. Kami menyapanya, dan ia memperkenalkan diri sebagai juru kunci. Dari kartu nama yang diangsurkan pada kami, tertera nama Ki Suyono Joyo Koentono “Juru Kunci Calon Arang”, lengkap dengan foto-nya memakai baju lurik, dengan kartu pengenal yang tersemat di dada kiri.

“Sudah 40 tahun saya merawat situs ini,” kata Ki Suyono yang mengaku kelahiran 1936. “Upah saya Rp 50.000 per bulan dari Pemerintah Kabupaten Kediri,” tambahnya. Ki Suyono mengaku ia yang membangun kanopi agar para peziarah yang datang ke Situs Calon Arang tidak kepanasan, juga bisa untuk berteduh di kala hujan. Uangnya dari donasi seorang dermawan.

Calon-Arang-Totok-Kerot-Jayabaya-8“Karena membangun situs ini, saya digeruduk oleh aparat dan polisi. Saya dituduh merusak situs ini,” katanya. Ki Suyono mengaku memang memindah batu-batu yang dianggapnya berserakan dan menumpuknya menjadi satu, sebagian di semen agar terikat satu sama lain. Hanya dua batu penyangga pilar yang masih berada di lokasi semula.

“Saya juga memendam salah satu patung di dalam tanah, agar tidak dicuri orang. Sebuah patung saya amankan di rumah saya,” tambahnya.

Panjang lebar Ki Suyono menceritakan kisah situs Calon Arang. Ia mengaku mewarisi status juru kunci dari sang kakak, Sodimejo alias Disan yang meninggal sekitar 1980-an. Sodimejo sendiri mewarisi status juru kunci dari kakek mereka, Mbah Kasinem. “Kakek saya meninggal pada 1962, usianya mencapai 175 tahun,” jelasnya.

Dulu situs Calon Arang tidak berpagar, juga tidak pernah dikunci. “Saya yang membangun pagar bambu, kalau tidak diberi pagar pada malam hari rawan digunakan sebagai tempat mesum,” Ki Suyono menjelaskan. “Saya juga meminta orang yang melakukan ritual untuk pulang jika sudah pukul 10 malam,” tambahnya.

Calon-Arang-Totok-Kerot-Jayabaya-7Setelah panjang lebar kami berbincang, sudah saatnya undur diri melanjutkan perjalanan. Kami berpamitan pada Ki Suyono, sambil berjanji akan mengunjunginya kembali. Sekali lagi kami harus menerobos jalan setapak di tengah rimbun kebun tebu untuk keluar dari lokasi.

Perjalanan ini belum berakhir, bukan berarti masih ada destinasi lain hari ini yang akan kami kunjungi, tapi kering di tenggorokan kami harus segera diredakan dengan segelas es degan. Kami memacu sepeda sambil berharap segera menjumpai pedagang yang menjajakannya di pinggir jalan. Setelah itu, boleh lah kami pulang ke rumah masing-masing untuk merencanakan perjalanan selanjutnya. Selamat jalan-jalan dan gembira. (Arief Priyono)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.