Kediri Heritage Trail: Federalis Gowes ke Candi Tegowangi

0

Di bawah rindang pepohonan di halaman Candi Tegowangi, Plemahan, Kabupaten Kediri, Jumain (72) mengayun-ayunkan hammock – sebuah jaring tidur yang dibentangkan diantara dua pohon – bersiap untuk sejenak memejamkan mata pada jam istirahat siang yang pendek, pada Sabtu, 22 Agustus 2015. Belum juga ia terlelap, empat sepeda yang kami tumpangi menghampirinya. Sebelum kami sapa ia sudah bangkit dari tidurnya, duduk di atas hammock yang masih mengayun pelan.

“Bersepeda dari mana ini dik?” sapanya ramah. “Dari Kediri pak, muter-muter ke Wates, Plosoklaten, Pare terus ke sini,” kata Edy Supriyanto aka Edy Sayur, pemimpin rombongan kami. “Walah apa ndak capek to sepedaan jauh-jauh,” Jumain menimpali.

Ia lantas turun dari hammock dan mempersilakan Edy Sayur untuk mencobanya. “Jangan pak, beban tubuh saya lebih dari 1 kuintal,” kata Edy Sayur menolaknya dengan halus karena takut tali hammock putus saat ditumpanginya. “Om Imam saja, katanya mau beli hammock, sekalian mencoba,” ia melempar tawaran pada Imam Nashirudin.

Imam Nashirudin menuruti kemauan kawannya, Ia juga sebenarnya sudah kepingin merebahkan tubuh dari tadi, maklum seharian sudah menggowes sepeda tua federal-nya. “Nyaman ndak om? Ayo ndang beli,” ledek Ahmad Safiudin, pegowes termuda di rombongan kami.

Federal-Tegowangi-6Awalnya, sebanyak 13 federalis Kediri – Fedricks (klub penggemar sepeda federal) bergabung dalam rombongan. Kami start sekitar pukul 07.00 pagi dari depan RS Baptis, Kediri. Namun, rombongan federalis sepuh yang dipimpin Pak Kelik terpaksa harus balik kanan setelah melintas di Plosoklaten, ada kepentingan mendesak dari seorang anggota rombongan yang membuat ia tak bisa melanjutkan perjalanan, sementara para sesepuh memutuskan untuk bersolidaritas.

“Yang muda-muda sebaiknya meneruskan perjalanan ke Pare dan Tegowangi, sesuai dengan rencana semula” kata Pak Kelik, penggemar berat sepeda federal yang merupakan owner perusahaan travel Jalak Gading. Jadilah tinggal kami berempat; Imam Nashirudin, Edy “Sayur” Supriyanto, Ahmad Safiudin dan saya sendiri melanjutkan perjalanan.

Federal-Tegowangi-8Kembali pada cerita tentang Jamiun, ia telah menjadi juru kunci Candi Tegowangi sejak 1998. Sebelumnya ia menjadi mandor perkebunan tebu pada seorang tuan tanah di wilayah Plemahan. “Juragan saya mati tertembak,” katanya mengenang momen saat ia kehilangan pekerjaan.

Menjadi juru kunci – ada empat juru kunci di Candi Tegowangi – membuatnya harus belajar tentang sejarah candi, selain tugas utama menjaga kebersihan kompleks Tegowangi dan merawat tanaman-tanaman yang menjadi pagar hidup. “Sedikit banyak saya tahu tentang candi ini, kadang ada wisatawan yang bertanya. Tapi kalau kurang jelas ya saya minta membaca sendiri di papan pengumuman,” katanya.

Lansekap Candi Tegowangi, Kediri, Jawa TimurCandi Tegowangi merupakan sebuah peninggalan purbakala yang masih relatif utuh di wilayah Kabupaten Kediri. Tegowangi menjadi tempat pendharmaan abu Bhre Matahun, seperti tercatat dalam Kitab Pararaton.

Kebetulan saya pernah berbincang soal Candi Tegowangi dengan Eko Priatno, arkeolog lulusan Universitas Gadjah Mada yang sekarang menjadi staff pada bidang Cagar Budaya dan Purbakala di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri.

“Kalau dilihat dari angka tahun kematian Bhre Matahun, ada kesamaan dengan kematian Bhre Wengker yang abunya di dharmakan di Candi Surowono, mereka mangkat pada 1388 M,” kata Eko Priatno. Bhre Matahun dan Bhre Wengker adalah raja bawahan pada masa Kerajaan Majapahit.

“Melihat fakta itu, tampaknya ada peristiwa besar pada tahun tersebut di Kerajaan Majapahit yang menyebabkan dua raja mangkat (meninggal) pada tahun yang sama,” Eko Priatno mengungkapkan analisanya.

“Sayangnya tidak pernah tercatat apa yang menyebabkan dua raja tersebut meninggal dunia, ada yang memperkirakan karena pertikaian atau peperangan,” jelasnya.

Foto relief di Candi Tegowangi, Kediri, Jawa TimurMisteri Candi Tegowangi dan Surowono belum terungkap hingga kini. Perjalanan bersepeda kami hari ini masih sebatas ke Tegowangi. Setidaknya ini menumbuhkan semangat untuk mulai mengagendakan perjalanan berikutnya, gowes dari Kediri ke Candi Surowono di Desa Canggu, Kecataman Badas – sering disalahpahami candi ini di wilayah Kecamatan Pare, karena pemekaran, Badas telah menjadi kecamatan tersendiri. (Arief Priyono)

Bagikan

Komentar Anda

komentar

Comments are closed.